Kami Bersamamu; Membela Kehormatan Masjidil Aqsha & Saudara Muslim Palestina

Setiap manusia yang hidup di dunia ini, pasti memiliki amarah. Apalagi ketika kehormatan dan nama baiknya dicemari. Ia akan bereaksi untuk membela dan mempertahankan kehormatannya. Amarah merupakan tabiat sifat bawaan manusia. Disebut sebagai pangkal keburukan apabila diletakkan bukan pada tempatnya atau diletakkan tidak dengan proposional. Maka yang seperti ini adalah amarah yang tercela. Namun amarah menjadi ketegasan, menjadi kewibawaan, menjadi ‘izzah (kemuliaan) apabila diletakkan pada tempatnya dan diekspresikan sesuai dengan tuntunan. Maka inilah amarah yang terpuji.

‘Aisyah radiyallahu ‘anha pernah berkata,

ما رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ منتَصِرًا مِن مظلِمةٍ ظُلِمَها قَطُّ ما لم تُنتَهك محارمُ اللَّهِ فإذا انتُهكَ من محارمِ اللَّهِ شيءٌ كانَ أشدَّهم في ذلِك غضبًا

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membela diri atas kezhaliman yang beliau terima (yang menyangkut hak pribadi beliau), selagi bukan dalam perkara yang melanggar aturan Allah. Tapi apabila aturan (kehormatan) agama Allah dilanggar (diterjang), maka beliau menjadi orang yang paling marah (tegas dan komitmen).” (Abu Nu’aim, Hilayah Auliya)

Dan saat ini kita sebagai umat Islam, marahlah! Di manakah amarahmu? Ekspresikanlah amarahmu! Jangan diam seolah tak terjadi apa-apa. Jangan diam seolah tak peduli dengan apa yang terjadi dengan saudara-saudara Muslimin di Palestina. Jangan berpura-pura buta mata, tuli telinga, bisu lisan, dan lumpuh tangan. Marahlah! Lakukanlah pembelaan! Kerahkanlah apa yang sanggup dikerahkan untuk bisa men-support saudara-saudara Muslimin di Palestina; suara kita, pikiran kita, jemari kita, harta kita dan seterusnya yang bisa dan sanggup kita lakukan untuk mereka.

Apakah ghirah (kecemburuan) beragama kita telah hilang? Ketika terjadi pelanggaran dan pelecehan terhadap agama, kita hanya diam saja.

Buya Hamka rahimahullah pernah bertutur, “orang yang tidak memiliki ghirah beragama, maka pakaikanlah ia tiga lapis kain kafan. Sebab ia telah mati.”

I. Kehormatan Masjidil Aqsha

Saudara-saudara Muslimin kita di Palestina, mereka merupakan garda terdepan di dalam memperjuangkan kehormatan Masjidil Aqsha. Masjid yang menjadi simbol aqidah dan keimanan bagi umat Islam. Warisan turun temurun dari para nabi dan rasul. Kiblat pertama umat Islam. Dan di sanalah pernah terjadi mukjizat Isra-Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu alaih wasallam. Dan di sanalah pula beliau mengerjakan shalat memimpin para nabi dan rasul yang atas kuasa Allah, Allah hadirkan menjadi makmum beliau.

{سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ }

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra : 1)

Masjidil Aqsha merupakan tempat pilihan yang padanya terkandung banyak kebaikan dan keberkahan. Disebut sebagai bumi risalah-risalah para nabi dan rasul. (Tafsir Hidayat Quran)

Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis adalah tempat yang diberkahi sekelilingnya dengan tanaman-tanaman, buah-buahan dan yang lainnya. Dan keberkahan lainnya bahwa ia dipilih oleh Allah menjadi tempat untuk banyak nabi dan rasul. Dan menjadi tempat di mana umat Islam dianjurkan untuk melakukan safar menghabiskan harta dan tenaga berkunjung ke Masjidil Aqsha dalam rangka ibadah dan untuk menegakkan shalat. (Tafsir As-Sa’di)

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh, kecuali ke tiga masjid. Yaitu: Masjidku ini (Masjid Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjid Aqsha.” (HR. Muslim)

Masjidil Aqsha adalah masjid kedua setelah Masjidil Haram yang dibangun di atas bumi. Sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Abu Dzar radiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Masjid apakah yang pertama kali dibangun di atas bumi?”

Rasululullah bersabda, “Masjidil Haram (Ka’bah).”

Abu Dzar bertanya lagi, “kemudian masjid apa?”

Rasulullah bersabda, “Masjidil Aqsha.”

Abu Dzar bertanya lagi, “berapa jarak (jeda pembangunan) antara keduanya?”

Rasulullah bersabda, “40 tahun.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dan dalam shahih Ibnu Majah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan tentang keutamaan lain tentang Masjidil Aqsha, bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam pernah berdoa berkaitan dengan orang yang shalat di Masjidil Aqsha,

وأنه لا يأتي هذا المسجد أحدٌ لا يريد إلا الصلاة فيه إلا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه

“Dan bahwasanya tidaklah seseorang mendatangi Masjid ini, ia tidak mengingankan apa-apa kecuali untuk shalat di dalamnya, melainkan ketika ia keluar, ia menjadi orang yang bersih dari dosa layaknya bayi yang baru dilahirkan ibunya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengaminkan doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, “aku berharap itu telah diberikan (dikabulkan).” (HR. Ibnu Majah)

Dalam riwayat yang lainnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فضل الصلاة في المسجد الحرام على غيره مائة ألف صلاة، وفي مسجدي هذا ألف صلاة وفي مسجد بيت المقدس خمسمائة صلاة

“Shalat di Masjidil Haram lebih baik daripada 100.000 shalat di tempat lain, shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik daripada 1000 shalat (di tempat lain), shalat di Masjid Baitul Maqdis (Al-Aqsha) (lebih baik daripada) 500 shalat (di tempat lain).” (HR. Baihaqi)

صلاة في مسجدي هذا أفضل من أربع صلوات في بيت المقدس

“Shalat di Masjid-ku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada empat kali shalat di Baitil Maqdis.” (HR. Hakim, Daruquthni)

Dari dalil-dalil di atas, maka menjadi jelaslah bahwa Masjidil Aqsha yang berada di Palestina memiliki kedudukan besar di dalam agama Islam. Ia merupakan kemuliaan dan kehormatan bagi umat Islam yang wajib untuk dijaga dan dibela dengan harta dan jiwa raga kita.

Tengoklah perjuangan pendahulu kita yang pernah membebaskan Masjidil Aqsha dari tangan-tangan kaum kuffar (orang-orang kafir). Disana ada ‘Umar ibn Khattab radiyallahu ‘anhu yang pernah membebaskan Masjidil Aqsha dari Romawi setelah sebelumnya berperang di Perang Yarmuk melawan kerajaan Romawi Timur (byzantium), termasuk perang terbesar dalam sejarah umat Islam.

Dan ketika Masjidil Aqsha jatuh lagi di tangan kaum kuffar, maka di sana ada Shalahuddin al Ayyubi rahimahullah yang kemudian membebaskannya kembali dari cengkraman Pasukan Salib atau Kristen Eropa yang keji kala itu.

Maka ini menjadi jelas, bahwa umat Islam tidak boleh berdiam diri dan termakan oleh isu-isu propaganda yang seolah umat Islam tidak memiliki kepentingan di sana. Jelas sangat jelas bahwa di sana ada simbol kehormatan kita dan juga kehormatan saudara-saudara Muslimin kita yang sedang berjuang mengorbankan harta dan nyawa untuk kemerdekaan bangsa mereka dan untuk mengembalikan kehormatan Masjidil Aqsha.

II. Kehormatan Kaum Muslimin

Apa yang kita saksikan dan dengar saat ini tentang kekejian Zionis Israel sungguh membuat hati pilu dan tersayat. Mereka laknatullah ‘alaihim menyerang secara membabi-buta tanpa pandang bulu, warga sipil; anak-anak, wanita-wanita, orang tua, bahkan rumah sakit yang di dalamnya ada pasien-pasien, mereka serang dengan bengis. Ribuan nyawa melayang dan ribuan korban berjatuhan. Darah mengalir di mana-mana dan air mata berlinang tak kunjung habis. Semoga Allah subhanahu wata’ala catatkan sebagai syahid bagi yang gugur dan memberikan ketabahan, kesabaran dan keteguhan bagi yang masih hidup dan berjuang.

Lalu bagaimana dengan kita? Apa peran kita?

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَزوالُ الدُّنيا أهونُ على اللهِ من قتلِ رجلٍ مسلمٍ

“Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.” (HR. Tirmidzi, Nasai)

Sebelumnya di atas kita telah membahas kehormatan Masjidil Aqsha dan sekarang kita membahas tentang kehormatan seorang Muslim.

Subhanallaah, perhatikan hadits di atas yang menunjukkan betapa bernilai dan berharganya kehormatan nyawa seorang Muslim.

Dan perlu diketahui, bahwa kehormatan seorang Muslim yang beriman itu jauh lebih berharga bahkan sekalipun dari Ka’bah. Sebagaimana hal ini dituturkan oleh Ibnu ‘Umar radiyallahu ‘anhuma bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam thawaf mengelilingi Ka’bah seraya bersabda berujar ke Ka’bah,

مَا أَطْيَبَكِ وَأَطْيَبَ رِيحَكِ مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَحُرْمَةُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ حُرْمَةً مِنْكِ مَالِهِ وَدَمِهِ وَأَنْ نَظُنَّ بِهِ إِلَّا خَيْرًا

“Alangkah indahnya kamu, alangkah harumnya aromamu, alangkah agungnya dirimu dan alangkah agungnya kehormatanmu. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin, hartanya, darahnya itu lebih agung di sisi Allah darimu, dan kami tidak berprasangka kepadanya kecuali dengan yang baik-baik.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini mengisyaratkan akan wajibnya menjaga kehormatan seorang mukmin. Tidak boleh melecehkannya, merampas hartanya, terlebih menumpahkan darahnya.

Juga isyarat bahwa sesama Muslim wajib saling menjaga dan melindungi. Bahkan umat Islam itu diibaratkan selayaknya tubuh yang satu.

مثلُ المؤمنين في تَوادِّهم ، وتَرَاحُمِهِم ، وتعاطُفِهِمْ مثلُ الجسَدِ إذا اشتكَى منْهُ عضوٌ تدَاعَى لَهُ سائِرُ الجسَدِ بالسَّهَرِ والْحمى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam kesetiaan mereka, kasih sayang mereka dan kelembutan mereka itu seperti satu jasad (tubuh), apabila ada anggota jasad yang sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya turut merasakan dengan begadang dan demam.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sebagai seorang Muslim, seorang mukmin, maka wajib atas kita untuk berempati terhadap apa yang dialami dan dirasakan oleh saudara-saudara Muslimin kita yang ada di Palestina. Dalam Islam, menjunjung nilai-nilai kemanusiaan itu adalah ibadah, bahkan besar pahalanya. Apalagi ini kepada sesama Muslim saudara seiman.

{وَمَنۡ أَحۡيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا}

“Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS. Al-Maidah : 32)

Sesama Muslim kita tidak boleh saling cuek dan mengabaikan. Apalagi membiarkannya ditangkap, dijerat, dianiaya dan atau dibunuh oleh musuh,

المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ ولَا يُسْلِمُهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak boleh menzhaliminya dan menelantarkannya (membiarkannya disakiti orang lain).” (HR. Bukhari-Muslim)

Sesama Muslim saling berperan untuk menjaga dan melindungi. Tidak boleh saling menzhalimi. Dan juga tidak boleh membiarkannya dizhalimi dan disakiti oleh pihak lain, sedangkan kita diam saja tidak menolongnya. Justru wajib atas kita untuk menolongnya sesuai kadar kesanggupan kita.

Maka demikianlah tulisan yang bisa kami sajikan ini, semoga menyadarkan kita dan membuka hati serta pandangan kita, bahwa Palestina adalah bagian dari kita dan kita adalah bagian dari Palestina.

Mari kita bersama bersatu padu semampu dan sesanggup yang kita bisa, kita berikan support untuk mereka dengan harta, suara, tenaga, media, dan sebagainya.

Maimunah radiyallahu ‘anha pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya meminta fatwa mengenai Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Itu adalah bumi dibangkitkannya dan dikumpulkannya manusia kelak. Datanglah ke sana dan shalatlah di sana.”

Maimunah lalu bertanya, “lantas bagaimana bagi orang yang tidak bisa ke sana?!”

Rasulullah bersabda, “hendaknya ia mengirim hadiah berupa minyak yang bisa digunakan untuk penerangan di sana. Karena siapa yang mengirim hadiah ke sana, itu sama selayaknya orang yang shalat di sana.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini secara sanad dinilai munkar dan lemah. Tapi secara makna bisa menjadi motivasi bagi kita untuk semakin gencar menginfakkan harta ke Palestina supaya kaum Muslimin di sana terbantu dan terpenuhi kebutuhan serta sarana-prasarananya, sehingga kita tercatat turut andil dalam menjaga Masjidil Aqsha.

Dan dalam riwayat yang shahih, justru lebih hebat lagi motivasinya, bahwa bagi sesiapa yang mampu memiliki tanah dekat Baitul Maqdis meski sebidang seukuran panjang cemeti atau busur panah, maka lakukanlah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وليأتين على الناس زمان، ولقيد سوط ـ أو قال: قوس ـ الرجل حيث يرى منه بيت المقدس؛ خير له، أو أحب إليه من الدنيا

“Dan sungguh akan datang masa atas manusia, di mana memiliki tanah seukuran cemeti atau busur panah yang mana dari tanah tersebut ia berdiri bisa melihat Baitul Maqdis, maka itu lebih baik baginya, dan lebih ia cintai daripada dunia.” (Shahih Targhib Al Albani)

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga Allah berikan taufiq-Nya untuk kita semua dan kaum muslimin.

Hadanallahu waiyyakum wa barakallahu fikum jami’an.

 

 

 

 

Apa & Bagaimana Pasca Ramadhan?!

 

Ramadhan merupakan bulan yang paling dirindukan kehadirannya oleh umat Islam, karena di dalamnya terdapat banyak keutamaan dan keistimewaan. Terlebih di bulan Ramadhan ada nuansa berbeda daripada bulan-bulan selainnya. Jiwa mudah terpanggil dan terketuk untuk menjalankan beragam ketaatan dan amal-amal kebajikan. Tak heran jika setiap kita bahagia menyambutnya dan sedih berpisah dengannya.

Rasanya baru kemarin kita berada di bulan Ramadhan, namun realitanya Ramadhan telah berlalu. Kita berada di bulan setelahnya, yaitu bulan Syawwal. Lalu apa dan bagaimana setelah Ramadhan?

Setiap kita tentunya bisa bercermin diri sejauh mana Ramadhan itu memberikan pengaruh dan perubahan positif pada diri kita. Berpisah dengan Ramadhan bukan berarti memutus rantai hubungan dengan Allah subhanahu wata’ala. Dia yang kita ibadahi di bulan Ramadhan adalah Dia yang juga seharusnya kita ibadahi di luar Ramadhan.

Jangan sampai kita menjadi Ramadhaniun yaitu orang-orang yang hanya mengenal ibadah kepada Allah di bulan Ramadhan semata. Sedangkan di luar Ramadhan, Allah dilupakan dan diabaikan, seakan tidak mengenal-Nya sama sekali.

Di antara barometer suksesnya ibadah seseorang selama bulan Ramadhan adalah adanya keistiqamahan di dalam menjalankan ibadah tersebut di luar Ramadhan. Meski mungkin volumenya berbeda, tidak sebesar atau sebanyak di bulan Ramadhan, namun nuansa Ramadhan itu ada dalam wujud ibadah yang kontinyu bin istiqamah walau sedikit.

Dalam hadits yang shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dari Ibunda ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang amalan yang paling dicintai Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Yang kontinyu walaupun sedikit.” (HR Bukhari)

Dalam riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ خَيْرَ الْعَمَلِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Laksanakanlah oleh kalian amalan semampu kalian, sesungguhnya sebaik-baik amalan adalah yang dikerjakan secara terus menerus walaupun sedikit.” (HR Ibnu Majah, shahih menurut Al Albani)

Ibadah-ibadah yang kita kerjakan di bulan Ramadhan, sejatinya bisa juga kita kerjakan di luar Ramadhan. Meski mungkin gairahnya tidak sebesar di bulan Ramadhan. Namun sekali lagi, berlalunya Ramadhan jangan sampai ikut berlalu pula nuansa semangat untuk beribadah. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

{ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ }

“Dan sembahlah Rabbmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” (QS Al Hijr : 99)

Semangat beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala harus selalu ada sepanjang hidup, hingga yakin seyakin-yakinnya ajal itu datang kepada kita.

Ibadah puasa masih bisa kita kerjakan di luar bulan Ramadhan, yaitu puasa-puasa sunnah dengan beragam macamnya. Dan ada satu puasa sunnah yang sangat berdekatan dengan Ramadhan, ia adalah puasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim)

Para Ulama rahimahumullah telah menetapkan kaidah barometer diterimanya amalan seseorang dengan ungkapan,

جزاء الحسنة، الحسنة بعدها

“Balasan suatu amal kebaikan adalah adanya amal kebaikan berikutnya.”

Ungkapan yang lain,

الحسنة تنادي أختها

“Sesungguhnya amal kebaikan akan mengundang amal kebaikan yang lainnya.”

Puasa 6 hari di bulan Syawwal bisa dikerjakan secara acak alias tidak berurut, asalkan terhitung 6 hari di bulan Syawwal. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Mubarak rahimahullah, “Puasa 6 hari Syawwal boleh dikerjakan secara terpisah (tidak berurut).” Dan Hasan al Bashri rahimahullah berkata, “Demi Allah, Allah telah ridha untuk kalian bahwa (puasa Ramadhan diiringi) puasa 6 hari Syawwal sebanding dengan puasa setahun penuh.”

Kemudian ibadah yang lainnya seperti qiyamul lail, yang di bulan Ramadhan lebih familiar dengan sebutan shalat tarawih. Sepanjang bulan Ramadhan atas taufiq dari Allah, kita mampu menjalankan shalat tarawih. Maka hendaknya di luar Ramadhan kita tidak kehilangan ibadah tersebut. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengingatkan,

يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan, sebelumnya ia rajin Qiyamullail (shalat malam), namun di kemudian hari ia meninggalkannya.” (HR Bukhari-Muslim)

Tidak sedikit di antara kita yang mengenal shalat malam hanya di bulan Ramadhan saja. Padahal shalat malam itu ada setiap malam di setiap bulan, terus ada sepanjang masa. Orang-orang shalih menjadikan shalat malam sebagai kebiasaan hidup mereka. Hal ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

 عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ لِلْإِثْمِ

“Hendaknya kalian melakukan shalat malam karena shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, dan mendekatkan kepada Rabb kalian, menghapus keburukan, serta mencegah dosa.” (HR Tirmidzi, hasan shahih menurut Al Albani)

Demikian pula dengan tilawah Al-Qur’an, maka hendaknya tidak terputus dengan berlalunya Ramadhan. Karena Al-Qur’an merupakan pedoman hidup serta petunjuk bagi umat manusia. Apalagi sebagai seorang mukmin, maka tak seyogyanya jauh dan berpaling dari Al-Qur’an. Jangan sampai kita termasuk ke dalam golongan kaum yang meninggalkan dan mengabaikan Al-Qur’an.

{ وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوۡمِي ٱتَّخَذُواْ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورٗا }

“Dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.” (QS Al-Furqan : 30)

Teruslah menjaga hubungan dengan Al-Qur’an, berinteraksi dengannya melalui tilawah, menghafal, mentadabburinya, mengamalkannya, serta mendakwahkannya.

{ وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ }

“Dan ini adalah Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-An’am : 155)

{ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ }

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS Shad : 29)

Dan begitu seterusnya ibadah-ibadah yang lain yang selama Ramadhan kita kerjakan, maka hendaknya kita berusaha untuk bisa mengerjakannya pula di luar Ramadhan. Seperti bersedekah, dan juga yang lainnya.

Kembali kita diingatkan dengan firman-Nya,

{ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ }

“Dan sembahlah Rabbmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” (QS Al Hijr : 99)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan bahwa selagi seseorang itu hidup dan akalnya sehat, maka ia wajib menunaikan tugasnya selaku hamba untuk terus beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dalam bagaimana pun keadaan dan kondisi. Beliau melanjutkan bahwa ayat ini sekaligus menjadi bantahan atas orang-orang yang keliru pemahamannya yang meyakini bahwa ketika seorang hamba mencapai makrifat, maka ia tidak menanggung beban lagi untuk beribadah. Padahal kalau kita berkaca kepada para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam, yang mana mereka adalah manusia yang paling tinggi makrifat-Nya kepada Allah dan paling besar rasa takutnya kepada Allah, mereka pula justru yang paling getol ibadahnya kepada Allah subhanahu wata’ala dan paling semanagat dalam beramal kebajikan hingga mereka wafat.

Dan dalam tafsir Hidayat Quran dijelaskan bahwa bagaimana mungkin seorang hamba itu bermalasan dan meremehkan sesuatu yang mana itu menjadi tugasnya sepanjang umur, yaitu ‘IBADATULLAAH (beribadah kepada Allah).

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum.

Ramadhan Mubarak 1446 H

Alhamdulillahi bini’matihi tatimmus shalihaat……
telah terlaksana rangakaian kegiatan Ramadhan Mubarak 1446 H
yang mana pada tahun ini pihak yayasan sekolah dan juga POMI bersinergi untuk mensukseskan acara tahun ini yang alhamdulillah berjalan dengan lancar atas izin dan pertolongan dari Allah ta’ala, pada tahun ini dana ta’awun terkumpul 14.150.000,- rupiah, dan diantara rangkaian acara Ramadhan Mubarok 1446 H adalah santunan kepada Dhuafa dan anak – anak yatim yang berada di sekitar sekolah, berupa paket sembako dan uang tunai, kemudian diikuti dengan acara puncak yaitu kajian anak bersama Kak Raihan Sapda Akbar hafidzohullah, dan Iftor Jama’i….
kami ucapkan terima kasih Jazakuumullah khairan kepada seluruh pihak yang ikut serta dalam mensukseskan acara tahun ini, semoga Allah menerima sebagai amal shalih yang menjadi pemberat pada hari kiamat kelak.

Kiat Kiat Agar amal ibadah dilipatgandakan di bulan Ramadhan

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ala Rosulillah, wa ala aaalihi wa ashabihi wa man walah, amma ba’du……

Alhamdulillah kita telah masuk di malam ke 12 dari bulan Ramadhan artinya hampir separuh dari bulan Ramadhan telah meninggalkan kita maka mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan ampunan dari Allah Subhana wa tala
Karena,  Karena di antara tujuan dari kita berpuasa di bulan Ramadhan untuk mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa taala
baginda nabi shallahu alaihi wa salam bersabda :

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar keimanan dan mengharap ganjaran dari Allah, maka akan diampuni dosa dosanya yang telah lalu”

(HR.Bukhori & Muslim) 

Ketika seseorang berprofesi sebagai pedagang pasti dia berharap dengan modal yang sedikit , dengan waktu yang singkat dia bisa meraih untung atau hasil dan keuntungan yang berlipat ganda

Begitu juga petani, seorang petani berharap mendapatkan hasil panen yang memuaskan yang berlipat-lipat dengan pupuk yang sedikit dan modal yang sedikit dengan waktu sesingkat singkat nya

Maka begitu pula ketika seorang menjadi hamba Allah jika dia beramal sholeh, dia beribadah dengan ibadah yang sederhana tapi dia berharap dari amalan amalan yang sederhana tersebut mendapatkan pahala dan ganjaran yang berlipat ganda dengan waktu yang sesingkat singkatnya

Maka di antara amalan amalan yang harus kita perhatikan agar kita mendapatkan pahala yang berlipat ganda di sisi Allah Ta’ala ;

1. Dengan mengikhlaskan niat kita dalam setiap kita beramal sholeh 

yang mana ikhlas itu artinya

تصفية القلب عن إيراداة غير الله

Artinya “Membersihkan hati dari keinginan selain Allah” , Artinya memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata hanya mengharapkan balasan dan Ganjaran dari Allah subhanahu wa ta ala

Seorang ulama yang bernama Imam Ibnul Mubarok

رب عمل كبير تصغره النية

ورب عمل صغير تكبره النية

Artinya “Betapa banyak amalan yang besar di sisi manusia akan tetapi tidak ada nilainya di sisi Allah disebabkan karena niat

Sebaliknya betapa banyak di mata manusia manusia menganggap itu adalah amalan amalan yang remeh tapi bisa jadi amalan tersebut menjadi Agung Allah disebabkan karena niat”

Oleh karena itu hendaknya kita selalu memperhatikan niat niat kita dalam setiap kita melakukan kebaikan, karena selain niat adalah syarat diterimanya ibadah niat juga yang akan membedakan kebiasaan dengan ibadah, betapa banyak orang yang di luar sana juga menahan lapar dan haus tapi karena pingin diet.

2. Benahi tata cara kita dalam beramal, 

Ketika kita ingin melakukan suatu perjalanan pasti kita akan menentukan tujuan yang jelas langkah-langkah yang kita akan lakukan sebagai persiapan perjalanan tersebut

Maka begitu pula kita dalam beramal tujuan serta tata cara dalam sebuah amal yang kita lakukan harus sesuai tuntunan nabi shallahu alahi wa salam

Berkata al Imam Ibnul Qoyyim :

كل طريق إلى الله مغلق

إلا طريق محمد بن عبدالله

Artinya “Semua jalan menuju Allah atau menuju Surganya Allah itu tertutup kecuali jalan yang telah ditempuh oleh baginda nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam”.

Maka tatkala kita menginginkan melakukan perjalanan dunia saja kita mencari jalan yang paling cepat kita mencari jalan tol jalan yang lain pun, begitu pula menuju surganya Allah maka tidak ada jalan menuju surga Allah yang paling cepat dengan kita meniti jalan yang ditempuh oleh nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam”.

Beliau juga bersabda, 

تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌ

“Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang jelas, malamnya bagai siang, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali ia akan binasa.” 

حديث إنما الأعمال بالنيات ميزان وأعمال الباطنة

وأما حديث من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ميزان أعمال الظاهرة

Hadist Innamal a’malu bin niyaat (Sesungguhnya Amalan itu tergantung dari niatnya), sebagai Barometer untuk amalan amalan batin yang tidak terlihat, Maka hadist man amila amalan (Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang bukan datang dari kami, maka amalan tersebut tertolak) sebagai Barometer untuk amalan amalan anggota badan yang terlihat.

3. Dengan memperhatikan sisi kewajiban amalan tersebut atau memperhatikan skalaprioritasnya

Karena amalan itu ada yang wajib ada yg sunah, bahkan yang wajib bertingkat tingkat ada yang rukun ada bukan rukun,

-contoh orang berpuasa tapi tidak sholat

– orang yg semangat teraweh tapi malas sholat subuh,

Imam Ibnu Hajar mengatakan : 

قال ابن حجر من شغلته السنة عن الواجب فقد مغرور

“Siapa yang amalan wajibnya disibukkan oleh amalan amalan sunnah maka sungguh dia tertipu”, maka yang terbaik adalah mereka yang semangat mengerjakan amalan amalan yang wajib dan juga antusias ketika mengerjakan amalan amalan sunnah dan itu adalah ciri dari 

Sabiquun bil Khairaat .

4. Dengan memperhatikan manfaat dari suatu amalan yang kita kerjakan itu apakah manfaatnya hanya kembali kepada diri kita sendiri atau amalan itu memberikan manfaat kepada orang yang banyak

Oleh karena itu ketika amalan memberikan manfaat kepada orang yang banyak maka dengan sebab itu Allah melipatgandakan pahala dari ibadah tersebut dari amalan tersebut

Imam ahmad berkata :

Tidak ada satu amalan yang paling mulia paling utama keutamaannya daripada mengajarkan ilmu, ilmu memberikan manfaat kepada sang pemiliknya dan juga memberikan manfaat kepada orang yang banyak, dengan adanya para ulama kaum muslimin jadi mengetahui mana yang halal mana yang haram, bisa mengenal Allah, mengetahui tata cara beribadah kepada Allah.

5. Kita mengerjakan suatu amalan dikerjakan dengan Dawam atau konsisten
Istiqomah 

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَاوإن قلّ

Artinya : “Amalan Yang dicintai Allah adalah yang paling konsisten walaupun sedikit”.

Beramal banyak tapi kemudian dia berhenti dibandingkan dengan beramal sedikit tapi dia konsisten maka yang kedua lebih dicintai Allah wata’ala.

Kita berdoa kepada Allah ta’ala mudah-mudahan amalan kita yang sedikit ini yang penuh dengan kurangan, kelalaian ini dilipat gandakan oleh Allah subhanahu wa tala, Amiiin Allahumma Amiin…..

12 Ramadhan 1446 H

Al Faqiir Abu Ubaidillah

Berkata Baik Atau Diam

Bismillah. Alhamdulillah washsholatu wassalamu ala rasulillah. Amma ba’du.

Termasuk nikmat yang besar yang Allah berikan kepada manusia adalah lisan dan bibir. Yang dengan keduanya kita bisa berucap dan bertutur kata. Dan yang mana keduanya bisa menjadi media untuk kita beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.

Allah menyebutkan tentang nikmat lisan dan bibir,
{ أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَيۡنَيۡنِ ، وَلِسَانٗا وَشَفَتَيۡنِ }
“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, dan lidah dan sepasang bibir?.” (QS. Al-Balad : 8-9)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan; kedua mata yang dengannya ia melihat, lidah yang dengannya ia berbicara dan mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya, dan sepasang bibir yang membantunya bertutur, makan, dan menjadi keindahan wajah dan mulutnya.

Dan As-Sa’di dalam tafsirnya menerangkan; mata, lisan dan bibir merupakan nikmat dari Allah yang semua itu menjadi kebutuhan penting untuk kemanfaatan hidup manusia.

Ketika kita menyadari tentang nikmat ini, maka sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala, yaitu dengan menggunakannya untuk kebaikan, kebenaran dan keta’atan.

Seorang muslim diperintahkan supaya menghiasi dirinya dengan akhlaq yang mulia, yang mana itu menunjukkan kesempurnaan imannya,

أكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah ia yang paling baik akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi)

Dan diantara akhlaq yang mulia adalah bertutur kata yang baik.
Dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala menyebutkan beberapakali perintah untuk berkata yang baik, berkata yang lembut, berkata yang benar, dsb. Adanya perintah ini menunjukkan bahwa Allah mencintai hamba-hambaNya yang sopan dan santun dalam bertuturkata dan berucap.

1. Kepada manusia secara umum,

{ وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسۡنࣰا }
“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah : 83)

As-Sa’di dalam tafsirnya menerangkan; ketika seseorang tidak memiliki kelapangan untuk berbuat baik kepada orang lain dengan hartanya. Maka Allah perintahkan dengan opsi lain yaitu agar bertutur kata yang baik kepada orang lain, bahkan sekalipun kepada non muslim.

Dan Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya menerangkan; Allah menjadikan tutur kata sebagai media kebaikan untuk semua manusia. Karena hal itu adalah yang paling memungkinkan terjadinya muamalah di antara manusia. Dan bertutur kata yang baik adalah pondasi utama yang terbaik di dalam bermuamalah dengan sesama.

2. Kepada kedua orangtua,

{ وَقُل لَّهُمَا قَوۡلࣰا كَرِیمࣰا }
“Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’: 23)

As-Sa’di dalam tafsirnya menerangkan; ucapan yang disukai oleh keduanya, penuh adab dan kelembutan yang menghadirkan kelezatan dalam hati keduanya dan ketenangan dalam jiwa keduanya.

Dan Ath-Thabari dalam tafsirnya bahwa Qatadah berkata; maksudnya adalah ucapan yang lembut dan mudah dipahami. Abul Haddaj at Tujibi pernah bertanya kepada Sa’id bin Musayyib tentang qaulan karima. Lalu Sa’id bin Musayyib menjawab, “seperti layaknya ucapan seorang budak yang bersalah di hadapan tuannya yang kejam.”

3. Kepada kerabat, anak yatim dan orang miskin,

{ وَقُولُوا۟ لَهُمۡ قَوۡلࣰا مَّعۡرُوفࣰا }
“Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS. An-Nisa’: 8)

Dalam tafsir Hidayat Qur’an diterangkan; apabila engkau memberi seseorang dengan hartamu, maka hiasilah kebaikan tanganmu itu dengan kebaikan lisanmu, yaitu dengan tutur kata yang baik dan senyum merekah. Buatlah hatinya bahagia (dengan pemberian hartamu) dan engkau tetap menjaga kehormatan dirinya (dengan lisanmu).

Sedangkan Ath-Thabari menerangkan; qaul ma’ruf maksudnya adalah doa kebaikan; mendoakan rezeki dan kecukupan untuk mereka.

4. Kepada orang kafir, orang munafik, pendosa dan atau semisalnya yang kita harapkan hidayah untuknya,

{وَعِظۡهُمۡ وَقُل لَّهُمۡ فِیۤ أَنفُسِهِمۡ قَوۡلَۢا بَلِیغࣰا }
“Dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.” (QS. An-Nisa’: 63)

As-Sa’di dan Ibnu Katsir menerangkan senada; maksudnya adalah memberi nasihat dan berkata kepada mereka secara rahasia, tidak di hadapan publik.

Dalam tafsir Hidayat Qur’an diterangkan; apabila engkau ingin nasihatmu itu berpengaruh masuk kepada jiwa orang lain yang engkau harapkan perubahan baiknya, maka nasihatilah iya secara rahasia (sembunyi-sembunyi), karena hal itu lebih mengena dan bermanfaat.

Nabi Musa dan Nabi Harun alaihimassalam diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk berdakwah kepada Fir’aun,

{ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلࣰا لَّیِّنࣰا لَّعَلَّهُۥ یَتَذَكَّرُ أَوۡ یَخۡشَىٰ }
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 44)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan; pada ayat ini terdapat ibroh yang agung. Fir’aun yang berada pada puncaknya kedurhakaan dan pembangkaan, namun Allah perintahkan supaya Nabi Musa bertutur kata lembut kepadanya.

Yazid ar Raqasyi berkata ketika membaca ayat di atas,
“wahai Dzat yang masih memberikan kecintaanNya kepada seorang yang durjana nan durhaka. Lantas bagaimana kecintaanMu kepada seorang yang menta’atiMu dan menyeruMu.”

Wahb bin Munabih menerangkan; perkataan lembut itu adalah agar Nabi Musa menyampaikan bahwa pemaafan dan ampunan Allah itu lebih dekat kepada Fir’aun daripada kemurkaan dan azabNya.

Sufyan ats Tsauri berkata menerangkan maksud ayat di atas, “yaitu panggil lah Fir’aun dengan gelar kesukaannya Abu Murroh.”

Dalam memberi nasihat dan menyampaikan pesan kebaikan kepada manusia, maka hendaknya setiap kita mengedepankan perkataan yang lemah lembut, yang mudah dipahami, menyampaikan apa yang membuat gembira dan menyentuh hatinya, dan dengan cara yang membuatnya merasa dihormati dan dihargai.

###

Ayat-ayat di atas yang penulis uraikan menunjukkan akan pentingnya bertutur kata atau berucap dengan kalimat yang baik. Dikondisikan sesuai dengan tempat dan siapa lawan bicara.

Allah subhanahu wata’ala berulangkali memerintahkannya di dalam Al-Qur’an. Menunjukkan betapa pentingnya perkara ini. Dan di dalam surat Al-Ahzab, Allah subhanahu wata’ala berfirman,

{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوۡلࣰا سَدِیدࣰا }
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Qaulan sadida mencakup semua makna ucapan yang baik, seperti jujur, benar, dst seperti yang sudah dibahas di atas.

Dan As-Sa’di dalam tafsirnya menerangkan makna ayat ini; yaitu ucapan yang halus dan lembut terhadap orang yang diajak bicara, dan terkandung di dalamnya nasihat dan isyarat petunjuk kepada kemaslahatan.

Kemudian ayat berikutnya,

{ یُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَـٰلَكُمۡ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ }
“Niscaya Allah memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Al-Ahzab: 71)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan; Allah memberikan janji apabila mereka (kaum mukminin) melakukan perintah Allah di atas, maka Allah akan perbaiki amal perbuatan mereka, yaitu dengan memberikan taufiqNya kepada mereka untuk beramal shalih dan Allah akan ampunkan dosa-dosa mereka.

Ini menunjukkan bahwa ucapan seseorang itu sangat mempengaruhi taufiq Allah subhanahu wata’ala kepadanya. Apabila baik ucapannya, maka Allah akan selalu berikan taufiq kepadanya dan Allah perbaiki amal perbuatannya. Sebaliknya, apabila buruk ucapannya, maka Allah akan cabut taufiq darinya dan Allah akan biarkan amal perbuatannya menjadi rusak.

Ibnu ‘Asyur menerangkan; ucapan sejatinya adalah tuturkata yang keluar dari lisan seseorang yang menggambarkan isi dalam jiwanya.
Dan ini termasuk pintu-pintu kebaikan yang agung sekaligus juga pintu-pintu keburukan yang berbahaya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam pun mengabarkan dalam sabdanya tentang anjuran dan keutamaan bertuturkata yang baik dan juga mengabarkan tentang dosa dan dampak bahaya dari perkataan yang buruk.

Anjuran dan keutamaan bertuturkata yang baik;

1. Bicara baik atau diam,

أتخوَّفُ عليكم هذا، يعني اللسانَ، رحِمَ اللهُ عبْدًا قال خيرًا فغنِمَ، أو سكتَ عن سوءٍ فسلِمَ
“Aku hawatir atas kalian, yaitu lisan. Sungguh Allah menyayangi seorang hamba yang bertuturkata baik, kemudian dia mendapat banyak pahala. Atau ia diam tidak berkata jelek, maka ia selamat.” (Dha’if al Jami’ Al-Albani)

Hadits di atas memang dha’if, tetapi maknanya adalah benar. Apalagi diperkuat dengan hadits lain yang shahih,

مَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أوْ لِيصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari ahir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim)

Berkata baik atau diam dikaitkan dengan keimanan kepada Allah dan hari ahir adalah agar seorang hamba termotivasi untuk meraih pahala dengan berkata yang baik, dan agar ia waspada terhadap hukuman apabila ia berkata yang buruk.

Dianjurkan seseorang itu agar banyak diam jika tidak bisa berkata yang baik. Karena hukum asalnya manusia itu diperintahkan agar berkata yang baik-baik saja. Sebab terpelesetnya lisan bisa melahirkan banyak kerusakan.

2. Menjaga diri dari neraka dengan kalimat yang baik,

اتَّقوا النَّار ولو بشِقِّ تمرةٍ فإنْ لم تجِدوا فبكلمةٍ طيِّبةٍ
“Jagalah diri kalian dari siksa neraka meskipun dengan sedekah setengah kurma. Jika tidak punya, maka dengan kalimat yang baik.” (HR. Ibnu Hiban)

Dampak Bahaya Perkataan Buruk;

1. Satu kata menjerumuskan ke neraka,

وإنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بالكَلِمَةِ مِن سَخَطِ اللَّهِ، لا يُلْقِي لها بالًا، يَهْوِي بها في جَهَنَّمَ
“Sungguh seorang hamba berucap dengan satu kata yang membuat Allah murka, dan ia tidak berpikir akan akibatnya, sehingga dengannya ia masuk ke neraka jahannam.” (HR. Bukhari-Muslim)

2. Terpelesetnya lisan menyebabkan masuk ke dalam neraka,

وَهَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
“Bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain disebabkan hasil panen (apa yang mereka peroleh) dari lisan-lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)

Dan banyak lagi dalil-dalil tentang lisan. Baik tentang keutamaannya maupun bahayanya. Namun penulis mencukupkan dengan yang di atas. Demikian, semoga bermanfaat.
Barakallahu fikum jami’an.

Ustadz Izzatullah Abduh, M.Pd
Kepsek INIS

Pengaduan Rasulullah Kepada Allah….. What’s That?!

 

Bismillah. Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.

Setiap manusia pasti menjumpai fase hidup dimana ia merasa kecewa dan sedih. Sehingga ia butuh sandaran dan tempat untuk mengadu dan berkeluh kesah. Dan sebagai seorang muslim, maka tidak ada sandaran dan tempat terbaik untuk mengadu dan berkeluh kesah selain daripada kepada Allah subhanahu wata’ala.

Demikianlah hal yang pernah dialami oleh manusia yang paling mulia yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasllam. Beliau pernah mengadu kepada Allah tentang kekecewaan dan kesedihan beliau lantaran mendapati kaumnya yang berpaling mengabaikan Al-Qur’an. Ini diabadikan oleh Allah azza wa jalla di dalam firman-Nya,

وَقَالَ الرَّسُوۡلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِى اتَّخَذُوۡا هٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَهۡجُوۡرًا

“Dan Rasul (Muhammad) berkata, “wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.” (QS. Al-Furqan : 30)

 

Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengadukan sesuatu, berarti ini menunjukkan perkara yang serius dan sangat penting. Mengabaikan Al-Qur’an dianggap oleh beliau sebagai perbuatan yang tercela dan fatal. Sehingga beliau mengadukan hal tersebut kepada Allah subhanahu wata’ala.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa konteks ayat ini sebetulnya berkaitan dengan keadaan orang-orang musyrik Mekkah pada masa itu, dimana mereka tidak mau mendengarkan Al-Qur’an, bahkan mereka membuat kegaduhan dan permainan setiap kali dibacakan kepada mereka Al-Qur’an. Yang demikian supaya mereka tidak mendengar bacaan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Nabi kepada mereka.

وَقَالَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا لَا تَسۡمَعُوۡا لِهٰذَا الۡقُرۡاٰنِ وَالۡغَوۡا فِيۡهِ لَعَلَّكُمۡ تَغۡلِبُوۡنَ

“Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (Muhammad).” (QS. Fushshilat : 26)

Ini termasuk berpaling mengabaikan Al-Qur’an. Kemudian beliau menambahkan, bahwa juga termasuk berpaling mengabaikan Al-Qur’an adalah; enggan mempelajarinya, enggan menghafalnya, enggan beriman dan membenarkannya, enggan mentadabburi dan memahaminya, enggan mengamalkan isi kandungannya, dan lebih condong menyukai sya’ir, nyanyian, permainan, dan ucapan-ucapan manusia daripada Al-Qur’an. Wal’iyadzu billah.

Maka sebagai seorang muslim, hendaknya kita semua mawas diri jangan sampai masuk ke dalam golongan orang-orang yang diadukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasllam kepada Allah subhanahu wata’ala. Diadukan sebagai orang yang berpaling mengabaikan dan meninggalkan Al-Qur’an. Wal’iyadzu billah.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi seorang muslim untuk mengetahui keutamaan-keutamaan tentang Al-Qur’an supaya ia termotivasi menjalin hubungan yang baik dan harmonis dengan Al-Qur’an, dan menjadi sahabat terbaik bagi Al-Qur’an.

Seorang Ulama pernah ditanya tentang bagaimana hubungan orang-orang terdahulu dengan Al-Qur’an. Kemudian beliau menjawab, “seperti hari ini kalian dengan handphone.”

Jawaban beliau merupakan sentilan dan teguran, sekaligus renungan untuk kita semua. Sungguh betapa sering handphone berada di genggam tangan, itu lebih sering daripada Al-Qur’an. Sepanjang hari, sepanjang waktu handphone hampir tidak pernah lepas dari genggaman tangan dan pandangan mata kita. Sedangkan Al-Qur’an masih saja terasingkan hingga berdebu di pojok-pojok lemari.

Tidak heran jika para salafush shalih terdahulu, mereka bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sebulan sekali, 15 hari sekali, seminggu sekali, 3 hari sekali, bahkan ada yang sehari sekali. Karena demikianlah hubungan mereka dengan Al-Qur’an seperti jawaban Ulama di atas, “seperti hari ini kalian dengan handphone.”

Dan Syaikh Sa’d al Kamali hafizhahullah beliau pernah membuat pernyataan, bahwa orang-orang di zaman sekarang sering merasa takjub ketika mendengar bahwa ada orang yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari semalam. Padahal hal tersebut adalah hal biasa di masa para sahabat, tabi’in dan seterusnya. Ini karena di zaman sekarang, manusia sudah banyak tersibukkan dengan urusan duniawi. Sampai-sampai mereka berpikir tidak ada waktu untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, apalagi untuk mengkhatamkannya. Al-Qur’an seolah menjadi sesuatu yang tidak penting.

Syaikh Sulaiman Ruhaili hafizhahullah pernah mengungkapkan bahwa orang yang menghabiskan banyak waktu untuk membaca Al-Qur’an jangan pernah mengira waktunya itu habis sia-sia, justru sisa-sisa waktu yang ada akan terberkahi oleh sebagian waktu yang ia gunakan untuk membaca Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala mensifati Al-Qur’an dengan keberkahan,

كِتٰبٌ اَنۡزَلۡنٰهُ اِلَيۡكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوۡۤا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad : 29)

 

  • Adapun keutamaan-keutamaan Al-Qur’an adalah sebagai berikut;
  1. Mempelajari dan mengajarkan Al-Quran

خيرُكُم مَن تعلَّمَ القرآنَ وعلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah ia yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Hadits ini mengabarkan tentang manusia yang terbaik dan mukmin yang paling mulia, yaitu ia yang padanya terkumpul 2 sifat; belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.

Abu Abdirrahman as Sulami ketika mendengar hadits ini, beliau termotivasi untuk terus belajar dan mengajarkan Al-Qur’an kepada umat manusia dari zaman Utsman bin Affan hingga zamannya Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi. Menghabiskan waktu yang begitu sangat panjang. Oleh sebab itu, beliau mendapatkan keberkahan Al-Qur’an berupa kedudukan yang tinggi di tengah-tengah umat manusia.

 

  1. Seperti buah jeruk yang nikmat dan wangi

مثلُ المؤمنِ الَّذي يقرأُ القرآنَ كالأُتْرُجَّةِ طعمُها طيِّبٌ وريحُها طيِّبٌ والَّذي لا يقرأُ كالتَّمرةِ طعمُها طيِّبٌ ولا ريحَ لها

“Perumpamaan mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah jeruk yang rasanya nikmat dan wangi aromanya. Dan perumpamaan mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah kurma yang rasanya nikmat, tapi tidak ada wanginya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an diperumpamakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam layaknya seperti buah jeruk yang nikmat dan beraroma wangi. Namun tentu disini, maksudnya bukanlah hanya sekedar membaca, tetapi juga mengamalkan apa yang ia baca dan memberi manfaat kepada manusia dengan Al-Qur’an, seperti mengajarkannya, mendakwahkannya, dsb.

 

  1. Pahala berlipat dan ditemani Malaikat

منْ قرأَ حرفًا من كتابِ اللهِ فله به حسنةٌ ، والحسنةُ بعشرِ أمثالِها لا أقولُ آلم حرفٌ ، ولَكِن ألِفٌ حرفٌ، ولامٌ حرفٌ، وميمٌ حرفٌ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu pahala kebaikan. Dan satu pahala kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Aku tidak berkata Aliflaammiim itu satu huruf. Tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. Tirimidzi, Baihaqi dengan derajat shahih menurut Al-Albani)

Hadits ini menegaskan tentang besarnya pahala orang yang membaca Al-Qur’an, bahwa ia akan mendapatkan 10 pahala kebaikan dari setiap hurufnya. Hal ini sesuai juga dengan firman Allah subhanahu wata’ala,

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al-An’am : 160)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 الماهِرُ بالقرآنِ مع السفرَةِ الكرامِ البرَرَةِ ، والذي يقرؤُهُ ويتَعْتَعُ فيهِ وهو عليه شاقٌّ لَهُ أجرانِ

“Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti, dan orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan terbata-bata karena kesusahan, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari)

Orang yang pertama maksudnya adalah orang yang membaca Al-Qur’annya dengan lancar baik dengan mushaf maupun dengan hafalannya. Maka orang yang seperti ini kedudukannya sangat tinggi, kelak akan bersama kelompok Malaikat yang mulia yang berbakti (selalu ta’at) dan yang dekat dengan Allah subhanahu wata’ala. Adapun orang yang kedua adalah orang yang masih belajar membaca atau orang yang masih kesusahan dalam menghafal, maka baginya 2 pahala. Namun bukan berarti lebih banyak dari yang pertama. Karena yang pertama tentu lebih utama.

 

  1. Menjadi penolong di kubur dan pemberi syafaat di akhirat

يُؤتَى الرجلُ في قبرِه فإذا أُتِيَ من قِبَلِ رأسِه دفَعَتْه تلاوةُ القرآنِ وإذا أُتِيَ من قِبَلِ يدَيه دفعَتْه الصدقةُ وإذا أُتِيَ من قِبَلِ رِجلَيه دَفَعَه مَشيُه إلى المساجدِ

“Didatangkan (azab) kepada seseorang di dalam kuburnya. Ketika datang azab itu dari arah kepalanya, tiba-tiba ia diselamatkan oleh bacaan Al-Qur’annya. Dan ketika datang azab dari arah depannya, tiba-tiba ia diselamatkan oleh sedekahnya. Dan ketika datang azab dari arah kakinya, tiba-tiba ia diselamatkan oleh langkah kakinya ke Masjid.” (HR. Thabrani dengan derajat hasan menurut Al-Albani)

اقْرَؤُوا القُرْآنَ فإنَّه يَأْتي يَومَ القِيامَةِ شَفِيعًا لأَصْحابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat (pertolongan) bagi sahabatnya.” (HR. Muslim)

Kelak Al-Qur’an akan ditampakkan dalam rupa yang bisa dilihat oleh manusia. Al-Qur’an datang sebagai advokat, yaitu orang yang memberikan syafaat atau pertolongan untuk orang yang bersahabat dengannya. Al-Qur’an akan membela, memohonkan ampunan, menyelamatkan dari siksa neraka dan meninggikan derjat seseorang di dalam syurga.

 

  1. Terus naik ke tingkat syurga paling tinggi

يقالُ لصاحِبِ القرآنِ اقرَأ وارقَ ورتِّل كما كُنتَ ترتِّلُ في الدُّنيا فإنَّ منزلتَكَ عندَ آخرِ آيةٍ تقرؤُها

“Dikatakan kepada ahli Qur’an, ‘bacalah dan meninggilah, bacalah dengan tartil sebagaimana dahulu engkau baca di dunia. Karena sesungguhnya kedudukanmu ditentukan sesuai dengan ayat terakhir yang engkau baca.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I dengan derajat shahih menurut Ahmad Syakir dan hasan shahih menurut Al-Albani)

Hadits ini mengabarkan tentang keadaan ahli Qur’an di syurga, bahwa ia akan terus naik derajat dan kedudukannya sesuai dengan bacaannya. Dan manusia berbeda-beda derajatnya di syurga, diantaranya adalah ditentukan oleh sejauh mana interaksinya dengan Al-Qur’an; membacanya, menghafalnya, mengamalkannya, dst.

عدد درج الجنة عدد آي القرآن ، فمن دخل الجنة من أهل القرآن فليس فوقه درجة

“Jumlah derajat di syurga sejumlah ayat Al-Qur’an. Barangsiapa masuk syurga dari ahli Qur’an, maka tidak ada derajat yang lebih unggul darinya.” (HR. Baihaqi dengan derajat shahih menurut Al-Hakim)

 

  1. Orangtua mendapatkan kehormatan dan kemuliaan

من قرأ القرآنَ وتعلَّم وعمِل به أُلْبِس والداه يومَ القيامةِ تاجًا من نورٍ ضوءُه مثلُ الشَّمسِ ويُكسَى والداه حُلَّتَيْن لا يقومُ لهما الدُّنيا فيقولان بمَ كُسينا هذا فيُقالُ بأخذِ ولدِكما القرآنَ

“Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya dan mengamalkannya, kelak kedua orangtuanya akan dipakaikan mahkota yang bercahaya seperti cahaya matahari dan dipakaikan pakaian indah yang tidak pernah ada di dunia. Keduanya berkata, ‘oleh sebab apa kami mendapatkan ini?!’ maka dikatakan kepada keduanya, ‘yaitu oleh sebab anak kalian berdua yang menjadi ahli Qur’an’.” (HR. Hakim dengan derajat hasan shahih)

Setiap anak tentu ingin sekali memberikan hadiah istimewa kepada kedua orangtua, sebagai bentuk bakti kepada keduanya. Dan diantaranya adalah dengan menjadi ahli Qur’an. Sungguh hadiah di atas hadiah, bakti di atas bakti apabila seorang anak bisa memberikan kehormatan dan kemuliaan bagi kedua orangtuanya kelak di akhirat.

 

  1. Manjadi keluarga Allah

 إنَّ للَّهِ أَهْلينَ منَ النَّاسِ قالوا: يا رسولَ اللَّهِ ، من هُم ؟ قالَ: هم أَهْلُ القرآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وخاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “siapa mereka wahai Rasulullah?!” beliau bersabda, “mereka adalah ahli Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang keistimewaan-Nya.” (HR. Ibnu Majah dengan derajat shahih menurut Al-Albani)

Mereka adalah orang-orang yang membaca Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, yaitu dalam artian mereka mengamalkan apa yang mereka baca, berhukum dengan apa yang mereka baca, menjalankan perintah dan menjauhi larangan dari apa yang mereka baca dan yang berakhlaq dengan apa yang mereka baca dari Al-Qur’an.

اَلَّذِيۡنَ اٰتَيۡنٰهُمُ الۡكِتٰبَ يَتۡلُوۡنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖؕ اُولٰٓٮِٕكَ يُؤۡمِنُوۡنَ بِهٖ‌

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah : 121)

Mereka dijadikan oleh Allah sebagai wali-wali dan kekasih-kekasih-Nya. Allah muliakan mereka dengan cinta-Nya, perhatian-Nya, penjagaan-Nya dan Allah agungkan mereka dengan menyandarkan penyebutan mereka kepada-Nya, yaitu keluarga Allah.

 وَاللّٰهُ يَخۡتَصُّ بِرَحۡمَتِهٖ مَنۡ يَّشَآءُ ‌ؕ وَاللّٰهُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِيۡمِ

“Dan secara khusus Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang besar.” (QS. Al-Baqarah : 105)

 

Keutamaan-keutamaan di atas semoga bisa menjadi motivasi bagi kita semua supaya lebih intens lagi hubungannya dengan Al-Qur’an. Siapkan waktu untuk mempelajarinya, membacanya, memahaminya, mendakwahkannya, dan kemudian mengamalkannya dalam keseharian hidup. Sungguh siapa saja yang terhubung dengan Al-Qur’an, maka pasti ia akan mencapai kemuliaan dan keunggulan. Al-Qur’an dibawa oleh Malaikat Jibril, maka jadilah ia Malaikat yang paling mulia dan unggul. Al-Qur’an diterima oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka jadilah beliau manusia, Nabi dan Rasul yang paling mulia dan unggul. Dan Al-Qur’an diturunkan kepada umat Islam, maka jadilah umat Islam sebagai umat yang paling mulia dan unggul melebihi umat-umat terdahulu.

إنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بهذا الكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ به آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Qur’an ini (yaitu mereka yang berpegang teguh dengannya), dan menghinakan kaum yang lain dengan Al-Qur’an ini (yaitu mereka yang berpaling dan mengabaikannya).” (HR. Muslim)

 

Kemudian jangan lupa, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penghias pribadi kita, pengindah tingkah-laku kita, dan pesona akhlaq mulia kita terhadap sesama. Sungguh betapa menakjubkan kehidupan seorang yang sirah hidupnya adalah cerminan yang menggambarkan keindahan isi Al-Qur’an. Dan dia lah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Ibunda ‘Aisyah radiyallahu anha pernah ditanya tentang akhlaq Rasulullah. Lalu beliau menjawab,

كان خُلُقُه القُرآنَ

“Akhlaq beliau adalah Al-Qur’an.”

Kemudian beliau membaca ayat yang isinya berupa pujian Allah kepada Nabi-Nya,

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيۡمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam : 4)

(HR. Ahmad dengan derajat shahih menurut Syu’aib al Arnauth)

Diantara tafsiran ayat di atas bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam dipuji oleh Allah sebagai manusia mulia yang memiliki budi pekerti (akhlaq) yang luhur adalah karena beliau terdidik dengan Al-Qur’an. So, siapa yang ingin dipuji oleh Allah, maka jadilah insan yang terdidik dengan Al-Qur’an, sehingga bisa memiliki budi pekerti yang luhur.

 

Demikian, semoga bermanfa’at. Barakallaghu fikum jami’an.

Ustadz Izzatullah Abduh, M.Pd

Kepsek INIS

Beruntungnya Kita Memiliki Rabb Yang Maha Penyayang

Alhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.

Penyair Arab berkata,

ربي كفاني فخـراً أنك لي رب

وكفاني عـزاً أني لكَ عبد

أنت كما أُحب

فاجعلني كما تُحب

Wahai Rabbku, cukuplah menjadi kebanggaanku bahwa Engkau adalah Rabbku

Dan cukuplah menjadi kemuliaanku bahwa aku adalah hambaMu

Engkau sebagaimana yang aku cintai

Maka jadikanlah aku seperti apa yang Engkau cintai

 

Hampir di setiap awal surat Al Qur’an, kita diingatkan dengan asma dan sifatNya yaitu Ar-Rahim, yang berarti Maha Penyayang. Bismillaahirahmaanirrahiim, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wata’ala mengenalkan diriNya kepada kita semua sebagai Rabb Yang Maha Penyayang.

Kasih sayang Allah subhanahu wata’ala amat teramat luas meliputi segala sesuatu. Allah subhanahu wata’ala mengabarkan dalam firmanNya,

وَرَحۡمَتِىۡ وَسِعَتۡ كُلَّ شَىۡءٍ‌

“Dan Rahmat (kasih sayang)-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf : 156)

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menangis tersedu ketika membaca ayat ini, sambil berkata,

يا رب ارحمني وأنا من ذلك الشيء

“Wahai Rabbku rahmatilah, sayangilah aku, karena aku pun bagian dari sesuatu itu.”

Para Malaikat juga memberikan persaksian mereka tentang luasnya rahmat Allah ketika mereka berdoa,

رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَىۡءٍ رَّحۡمَةً وَّعِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِيۡنَ تَابُوۡا وَاتَّبَعُوۡا سَبِيۡلَكَ وَقِهِمۡ عَذَابَ الۡجَحِيۡمِ

“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu luas meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala.” (QS. Ghafir : 7)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَة

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari seratus rahmat tersebut, hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan jinak dan buas. Dengan rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan menyayangi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya. Adapun Sembilan puluh sembilan rahmat Allah yang lain, maka hal itu ditangguhkan Allah. Karena Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang beriman pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

Dalil-dalil di atas menunjukkan betapa luasnya rahmat (kasih sayang) Allah subhanahu wata’ala. Terlebih lagi secara khusus rahmat (kasih sayang) Allah subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang beriman,

وَكَانَ بِالۡمُؤۡمِنِيۡنَ رَحِيۡمًا

“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab : 43)

Dan juga digambarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits yang shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنْ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِي إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ قُلْنَا لَا وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ فَقَالَ لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

Dari Umar bin Al Khatthab radliallahu anhu (berkata); “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memperoleh beberapa orang tawanan perang. Ternyata dari tawanan tersebut ada seorang perempuan yang biasa menyusui anak kecil, apabila dia mendapatkan anak kecil dalam tawanan tersebut, maka ia akan mengambilnya dan menyusuinya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada kami: ‘Menurut kalian, apakah perempuan itu tega melemparkan bayinya ke dalam api?’ Kami menjawab; ‘Sesungguhnya ia tidak akan tega melemparkan anaknya ke dalam api selama ia masih sanggup menghindarkannya dari api tersebut.’ Lalu beliau bersabda: ‘Sungguh, kasih sayang Allah terhadap hamba-hambaNya melebihi kasih sayang perempuan itu terhadap anaknya.’ (HR. Bukhari)

Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan kabar gembira kepada kita semua bahwa kasih sayang Allah itu lebih besar kepada hamba-hambaNya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Dan diantara bentuk rahmat (kasih sayang) Allah kepada hamba-hambaNya adalah Allah tidak mencampakkan hamba-hambaNya yang berdosa, yang bergelimang kemaksiatan. Allah justru membuka pintu taubat dan pengampunan untuk mereka. Bahkan Allah masih menyapa mereka dengan sapaan dan panggilan yang lembut yang menunjukkan luas dan besarnya rahmat Allah.

قُلۡ يٰعِبَادِىَ الَّذِيۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَةِ اللّٰهِ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِيۡعًا‌ ؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُ

“Katakanlah, “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar : 53)

Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaih wasallam agar menyampaikan kepada umatnya bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang dan sangat luas rahmat dan kasih sayangNya terhadap hamba-hambaNya. Hamba yang telah mendurhakai karena mengabaikan perintahNya, melanggar hukum-hukum yang telah ditetapkanNya, dan bergelimang dalam dosa dan maksiat, masih dipanggil sebagai hambaNya dan dinasihati supaya jangan berputus asa terhadap ampunan dan rahmatNya.

Ayat ini juga menjadi dorongan agar seorang hamba segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah subhanahu wata’ala. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalur sahabat Abdullah bib Abbas radiyallahu anhuma, beliau mengisahkan bahwa ada sekelompok manusia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam mengadukan tentang perbuatan-perbuatan dosa yang telah mereka lakukan. Mereka berkata,

“Sesungguhnya apa yang engkau serukan kepada kami adalah baik. Dapatkah engkau terangkan kepada kami bahwa yang kami kerjakan dahulu itu akan diampuniNya.”

Maka turunlah ayat,

وَالَّذِيۡنَ لَا يَدۡعُوۡنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقۡتُلُوۡنَ النَّفۡسَ الَّتِىۡ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالۡحَـقِّ وَلَا يَزۡنُوۡنَ‌ ۚ وَمَنۡ يَّفۡعَلۡ ذٰ لِكَ يَلۡقَ اَثَام

“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat,”

يُضٰعَفۡ لَهُ الۡعَذَابُ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيۡهٖ مُهَانًا

“(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,”

اِلَّا مَنۡ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًاصَالِحًـا فَاُولٰٓٮِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمۡ حَسَنٰتٍ‌ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوۡرًا رَّحِيۡمًا

“kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

وَمَنۡ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًـا فَاِنَّهٗ يَتُوۡبُ اِلَى اللّٰهِ مَتَابًا

“Dan barangsiapa bertobat dan mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al Furqan : 68-71)

Orang-orang yang bergelimang dosa bahkan diibaratkan dosa dan maksiat itu mandarah daging pada dirinya. Maka apabila ia bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala, niscaya Allah menerima taubatnya. Bukan hanya itu, Allah juga akan gantikan dosa-dosanya yang telah lalu itu dengan pahala-pahala kebaikan.

Dalam riwayat Imam Ahmad, seorang sahabat bernama Amr bin Abasah bercerita, bahwa telah datang menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam seorang yang sudah tua bangka/renta bertelekan atau bersandar di atas tongkatnya berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي غَدَرَاتٍ وَفَجَرَاتٍ، فَهَلْ يُغْفَرُ لِي؟

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku banyak berbuat dosa dan maksiat. Apakah mungkin aku diampuni?!”

فَقَالَ: “أَلَسْتَ تَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ “

Rasulullah bersabda, “Bukankah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah?!”

قَالَ: بَلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ.

Orang tua tersebut menjawab, “ya, bahkan aku juga bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

فَقَالَ: “قَدْ غُفِرَ لك غدراتك وفجراتك”

Rasulullah pun bersabda, “Sungguh Allah telah mengampuni semua kesalahan dan maksiat yang telah engkau lakukan itu.” (HR. Ahmad)

Maka tidak ada alasan bagi seorang hamba untuk merasa putus asa dari rahmat dan ampunan Allah subhanahu wata’ala. Sebanyak apapun dosa, sesering apapun bermaksiat. Selagi ia bertaubat dan mohon ampun kepada Allah dengan jujur dan sungguh-sungguh, maka pasti Allah menerima taubatnya dan memberikan ampunanNya.

وَ مَنۡ يَّعۡمَلۡ سُوۡٓءًا اَوۡ يَظۡلِمۡ نَفۡسَهٗ ثُمَّ يَسۡتَغۡفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوۡرًا رَّحِيۡمًا

“Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa : 110)

Ayat ini memberikan dorongan kepada mereka yang berbuat dosa untuk menyadari dirinya dan kembali ke jalan yang benar dengan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.  Orang yang bertaubat dan memohon ampun kepada Allah akan mendapati bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan ia akan merasakan hasil pengampunan Allah pada dirinya yaitu rasa benci kepada kemaksiatan dan penyebab-penyebabnya, kemudian ia juga akan merasakan kasih sayang Allah kepadanya dengan tumbuhnya hasrat dalam hatinya hendak berbuat kebajikan.

Dan ketahuilah bahwa Allah subhanahu wata’ala selain memberikan rahmat (kasih sayang)-Nya kepada hambaNya yang bertaubat dari dosa. Allah juga merasa gembira dengan taubat hambaNya tersebut. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

 للهُ أَشَدُّ فَرَحَاً بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضٍ فَلاةٍ ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا ، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطجَعَ في ظِلِّهَا وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إَذْ هُوَ بها قَائِمَةً عِنْدَهُ

“Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat salah seorng dari kalian tatkala ia bertaubat kepadaNya, dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada diatas tunggangannya di suatu tanah yang luas, lalu tunggangannya tersebut  lepas, sedangkan makanan dan minumannya pada tunggangannya tersebut. ia pun putus asa untuk mendapatkan ontanya. Maka ia mendatangi suatu pohon dan berbaring dibawah naungan pohon tersebut dan ia sungguh telah berputus asa. Ditengah keadaan itu, ternyata ontanya telah ada berdiri didekatnya.” (HR. Muslim)

Seorang musafir yang kehilangan tunggangan ontanya beserta perbekalannya di tanah yang lapang nan sepi, tentu ini keadaan yang sangat memilukan. Membuatnya depresi dan putus asa. Dan sungguh betapa gembira dan senang ketika tiba-tiba tunggangan ontanya tersebut kembali lagi kepadanya lengkap dengan perbekalannya. Kegermbiraan yang tak bisa dilukiskan. Namun coba renungkan bahwa kegembiraan Allah subhanahu wata’ala itu lebih besar lagi terhadap hambaNya yang datang bertaubat memohon ampun kepadaNya, setelah sekian lama ia bergelimang dalam kubangan dosa dan maksiat.

Ketika seorang hamba baru melangkah mendekat saja kepada Allah, maka Allah  segera menyambutnya lebih cepat. Dalam hadits qudsi Allah subhanahu wata’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Aku berbuat sesuai persangkaan hambaKu. Aku bersamanya ketika ia mengingatKu. Jika ia mengingatKu saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diriKu. Jika ia mengingatKu di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari-Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa dekatnya Allah terhadap hamba-hambaNya yang mendekat kepadaNya. Bahwa semakin seorang hamba mendekat kepada Allah, maka akan semakin terasa betapa dekatnya Allah dengan dirinya.

Masyaaallah, betapa beruntungnya kita memiliki Rabb Yang Maha Penyayang. Kasih sayangNya yang begitu teramat luas meliputi segala sesuatu. Sekalipun seorang hamba itu banyak dan sering berbuat dosa, tapi Allah masih memberinya kesempatan. Allah membuka pintu taubat dan ampunan untuknya agar ia mau bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Dan Allah menyatakan cintaNya kepada orang-orang yang bertaubat dari dosa,

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيۡنَ وَيُحِبُّ الۡمُتَطَهِّرِيۡنَ

“Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah : 222)

 

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum Jamian.

Ustadz Izzatullah Abduh, M.Pd

Kepsek INIS

Bekerja = Perjuangan di Jalan Allah

Islam merupakan agama yang memotivasi pemeluknya untuk bekerja, bahkan hal tersebut termasuk bagian ibadah yang mulia. Disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai perjuangan di jalan Allah subhanahu wata’ala.

Dalam sebuah hadits yang dinilai shahih derajatnya, diceritakan oleh seorang sahabat bernama Ka’b ibn ‘Ujroh radiyallahu ‘anhu bahwa pernah lewat seorang laki-laki di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kala itu para sahabat pun melihat orang tersebut dalam keadaan bergairah dan bersemangat (untuk bekerja). Spontan para sahabat berkomentar, “ya Rasulullah, kalau sekiranya ia salurkan gairah dan semangat (kerjanya) tersebut untuk perjuangan di jalan Allah.”

Mendengar hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda seraya meluruskan pemahaman para sahabat bahwa sejatinya bekerja pun termasuk bagian perjuangan di jalan Allah subhanahu wata’ala.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنْ كان خرج يسعى على ولدِه صغارًا فهو في سبيلِ اللهِ وإن كان خرج يسعى على أبوين شيخين كبيرين فهو في سبيلِ اللهِ وإنْ كان خرج يسعى على نفسِه يعفُّها فهو في سبيلِ اللهِ

“Jika ia keluar bekerja (mengais rezeki) untuk dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya, maka ia berada di jalan Allah, dan jika ia keluar bekerja (mengais rezeki) untuk dapat memenuhi kebutuhan orangtuanya, maka ia berada di jalan Allah, dan jika ia keluar bekerja (mengais rezeki) untuk dapat memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dalam rangka menjaga kehormatan diri (sehingga terhindar dari minta-minta dan mengharap belas kasih orang lain), maka ia berada di jalan Allah.” (HR Thabrani, dengan derajat shahih menurut Al Albani)

Dan masih banyak hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan bekerja, yang mana hal ini menunjukkan adanya perhatian besar dari Islam untuk kehidupan umat manusia. Bahwa hendaknya manusia itu mampu memanfaatkan potensi diri untuk bekerja. Meskipun pekerjaan itu tampak remeh, namun percayalah bahwa itu lebih baik daripada pengangguran, yang tidak melakukan apa-apa, yang hanya berpangku tangan mengharap pemberian orang lain. Padahal ia masih mampu untuk bekerja.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْتِيَ رَجُلًا فَيَسْأَلَهُ أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya, maka itu lebih baik baginya daripada dia mendatangi seseorang lalu meminta kepadanya, baik orang itu memberi atau menolak.” (HR Bukhari)

Hadits ini secara gamblang memotivasi supaya kita mau bekerja, berupaya mencari penghasilan dengan usaha sendiri tanpa perlu gengsi apa pun kerja/usaha itu.

Dahulu sekaliber ‘Ali ibn Abi Thalib radiyallahu ‘anhu pun pernah bekerja menjadi tukang timba, menimba air untuk orang lain, dan juga beliau pernah menjadi tukang panjat pohon kurma untuk memetik kurma yang sudah layak panen. Ini menjadi pelajaran bahwa sebetulnya kalau kita mau membuka mata dan berpikir jernih, pintu pekerjaan dan usaha itu sungguh banyak sekali. Lihatlah di lapangan, tidak jarang di sana ada orang yang bekerja dengan sesuatu yang barangkali kita anggap aneh dan nyeleneh. Tetapi begitulah kenyataannya. Apa pun pekerjaan itu, selagi halal dan tidak menabrak aturan agama. Maka sungguh itu jauh lebih baik daripada menuruti gengsi, enggan bekerja, malah berpangku tangan mengemis dan mengharap belas kasih orang lain. Allahul musta’an.

Bekerja itu bukan sekadar tentang untuk mendapat penghasilan. Mencapai keuntungan. Bukan. Tapi jauh lebih daripada itu. Bekerja adalah ibadah. Sebab bekerja berarti mengimplementasikan ajaran Islam, yang mana hal ini termaktub perintahnya di dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaih wasallam.

{ وَجَعَلۡنَآ ءَايَةَ ٱلنَّهَارِ مُبۡصِرَةٗ لِّتَبۡتَغُواْ فَضۡلٗا مِّن رَّبِّكُمۡ }

“Dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Rabbmu.” (QS Al Isra’ : 12)

{ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ }

“Dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah : 10)

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan satu makanan yang mana itu lebih baik selain daripada ketika ia makan dari hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud ‘alaihissalam memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.” (HR Bukhari)

 إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ

“Sesuatu yang paling baik untuk dimakan oleh seseorang adalah dari hasil jerih payahnya sendiri.” (HR Ibnu Majah, Nasa’i, dengan derajat shahih menurut Al Albani)

Bekerja adalah ibadah. Sebab ada perintah dan anjuran untuk hal itu. Terlebih lagi dalam realita kehidupan bahwa seseorang tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan keluarganya kecuali dengan bekerja. Maka bekerja bisa menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan, yang mana dengannya maka kewajiban-kewajiban yang lain dapat terealisasikan, seperti memenuhi hak-hak istri, anak-anak, dst.

Oleh karena bekerja adalah ibadah, maka ada beberapa hal yang mesti diperhatikan supaya kita dapat meraih pahala yang sempurna di dalam bekerja, seperti berikut:

1. Tekun dalam pekerjaan (profesionalitas)

إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ إذا عمِلَ أحدُكمْ عملًا أنْ يُتقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah ta’ala mencintai apabila salah seorang dari kalian bekerja, ia menekuninya.” (HR Baihaqi, dengan derajat shahih menurut Al Albani)

2. Kuat dalam bekerja, baik secara fisik maupun mental dan juga amanah dapat dipercaya

{إِنَّ خَيۡرَ مَنِ ٱسۡتَـٔۡجَرۡتَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡأَمِينُ }

“Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” (QS Al Qashash : 26)

3. Pemelihara (pandai menjaga) dan berilmu (kompeten memiliki pengetahuan terhadap pekerjaan yang digeluti)

{ قَالَ ٱجۡعَلۡنِي عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلۡأَرۡضِۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٞ }

“Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS. Yusuf : 55)

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat dan memotivasi kita untuk semakin giat dan tekun di dalam bekerja. Serta mensyukuri apa pun pekerjaan yang sedang kita jalani saat ini.

{ وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ }

“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga RasulNya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu, apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At Taubah : 105)

Demikian, semoga bermanfa’at. Barakallahu fikum jami’an.

 

Ustadz Izzatullah Abduh, M.Pd

Kepsek INIS

SEPULUH HAL YANG SIA-SIA, TIDAK ADA MANFAATNYA

قال ابن القيم رحمه الله: عشرة أشياء ضائعة لا ينتفع بها

ا. علم لا يعمل به
٢. وعمل لا إخلاص فيه، ولا اقتداء فيه بكتاب الله وسنة رسوله – صلى الله عليه وسلم –
فإنه لا يوفق لهما إذا لم يخلص العمل.
٣. ومال لا ينفق منه فلا يستمتع به جامعه في الدنيا ولا يقدمه أمامه لآخرته
٤. وقلب فارغ من محبة الله والشوق إلى لقائه والأنس به
ه. و بدن معطّل من طاعة الله وخدمته
٦. ومحبة لا تتقيد برضا المحبوب وامتثال أوامره
٧. ووقت معطل من استدراك فارط واغتنام بر وقربة
٨. ⁠وفكر يجول فيما لا ينفع
٩.  وخدمة من لا يقربك خدمته إلى الله، ولا تعود عليك بصلاح دنيا
١٠. وخوفك ورجاؤك ممن ناصيته بيد الله وهو أسير في قبضته، ولا يملك لنفسه نفعًا
ولا ضرا ولا موتا ولا حياةً ولا نشورًا
وأعظم هذه الإضاعات إضاعة القلب، وإضاعة الوقت، فإضاعة القلب عن الله من إيثار الدنيا على الآخرة، وإضاعة الوقت من طول الأمل، فاجتمع الفساد كله في اتباع
الهوى وطول الأمل والصلاح كله في اتباع الهدى والاستعداد للقاء الله

 

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah dalam al-Fawa’id mengatakan bahwa ada
sepuluh hal yang sia-sia / tidak ada manfaatnya :

1. Memiliki ilmu namun tidak diamalkan.

2. Beramal namun tidak ikhlash dan tidak mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Memiliki harta namun enggan untuk menginfakkan. Harta tersebut tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat di dunia dan
juga tidak diutamakan untuk kepentingan akhirat.

4. Hati yang kosong dari cinta dan rindu kepada Allah.

5. Badan yang lalai dari taat dan mengabdi pada Allah.

6. Cinta yang di dalamnya tidak ada ridho dari yang dicintai dan cinta yang tidak mau patuh pada perintah-Nya.

7. Waktu yang tidak diisi dengan kebaikan dan pendekatan diri pada Allah.

8. ⁠Pikiran yang selalu berkelana pada hal yang tidak bermanfaat.

9. Pekerjaan yang tidak membuatmu semakin mengabdi pada Allah dan juga tidak memperbaiki urusan duniamu.

10. Rasa takut dan rasa harap pada makhluk yang dia sendiri berada pada genggaman Allah. Makhluk tersebut tidak dapat melepaskan bahaya dan mendatangkan manfaat pada dirinya, juga tidak dapat menghidupkan dan mematikan serta tidak dapat menghidupkan yang sudah mati.

Dan yang paling sia-sia dari perkara diatas adalah menyia-nyiakan hati dan menyia-nyiakan waktu.
Menyia-nyiakan hati dari Allah yaitu mengedepankan urusan dunia daripada urusan akherat.
Adapun menyia-nyiakan waktu yaitu panjang angan-angan (suka menunda-nunda perbuatan baik/ ibadah). Kemudian terkumpulah segala kerusakan pada hawa nafsu & panjang angan-angan, sedangkan segala kebaikan ada pada mengikuti petunjuk “Al- Qur’an & Sunnah” dan persiapan bekal untuk bertemu Allah.

Kitab Al fawaid – Imam Ibnul Qoyyim

Mengapa Tidak Mau Bertaubat dan Beristighfar?!


Bismillah walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.
Sebagai seorang insan tidak dipungkiri bahwa dalam menjalani kehidupannya pasti pernah terjatuh pada perbuatan dosa dan maksiat. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sikapnya setelah itu?! Karena perlu diketahui bahwa setiap dosa dan maksiat itu memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan, baik menyangkut pribadinya maupun lingkungan sekitarnya.
Tidak ada dosa sekecil apa pun melainkan ada konsekuensi setelahnya. Sebab akibatnya itu ada. Inilah yang perlu dipahami oleh setiap kita, apalagi kita sebagai seorang muslim. Demikian agar kita berhati-hati, mawas diri dan tidak bergampangan serta meremehkan setiap perbuatan dosa dan maksiat.

Bilal bin Sa’d rahimahullah pernah berkata, “janganlah kamu memandang remeh suatu dosa, tapi lihatlah kepada siapa kamu berbuat dosa.”
Dan seorang salaf rahimahullah pernah berkata, “aku pernah berbuat maksiat, lalu sungguh aku dapati akibatnya ada pada perangai buruk istriku dan anak-anakku, bahkan hingga tikus-tikus yang masuk ke dalam rumahku.”
Dan juga Ibnu Sirin rahimahullah dikisahkan bahwa beliau pernah berbuat suatu dosa, lalu beliau menunggu-nunggu akibatnya, hingga berselang beberapa tahun, usahanya menjadi bangkrut oleh sebab seekor tikus yang masuk ke gentong madu miliknya, lantas beliau berkata, “inilah akibat dosa yang pernah aku perbuat dahulu.”
Inilah pandangan orang-orang shalih terdahulu di dalam memandang perbuatan dosa. Dan ini senada dengan firman Allah subhanahu wata’ala di dalam Al Qur’an,

ظَهَرَ الۡفَسَادُ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِى النَّاسِ لِيُذِيۡقَهُمۡ بَعۡضَ الَّذِىۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُوۡنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41)
Ayat ini menjadi peringatan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan memiliki konsekuensi, dan Allah memberikan sebagian dari akibatnya sebagai bentuk pelajaran agar manusia menyadari kesalahannya dan kembali kepada jalan kebenaran.
Dan kata “al fasad” kerusakan di ayat ini merujuk pada segala bentuk kerusakan yang terjadi di muka bumi, baik fisik maupun moral.

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wata’ala berfirman,

كَلَّا‌ بَلۡ ۜ رَانَ عَلٰى قُلُوۡبِهِمۡ مَّا كَانُوۡا يَكۡسِبُوۡنَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin : 14)
Ayat ini mengabarkan akibat yang lebih parah daripada sekedar kerusakan bumi karena perbuatan dosa dan maksiat, yaitu kerusakan hati. Kebiasaan mereka berbuat dosa telah menyebabkan hati mereka jadi keras, gelap, dan tertutup laksana logam yang berkarat. Semua itu menutupi hati mereka sehingga tidak mampu membedakan antara yang hak dan batil.
Maka hendaknya setiap kita rajin mengintropeksi diri dan mengevaluasi diri, dosa dan maksiat apakah yang sudah dikerjakan, namun belum ditaubati dan diistighfari?!

اَفَلَا يَتُوۡبُوۡنَ اِلَى اللّٰهِ وَيَسۡتَغۡفِرُوۡنَهٗ‌ؕ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ

“Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah : 74)

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “tidaklah bala (bencana) itu turun melainkan oleh sebab perbuatan dosa, dan tidaklah ia diangkat (dihilangkan) melainkan dengan taubat dan istighfar.”
Dan terdapat kisah yang menggugah daripada seorang Ulama bernama Hasan al Bashri rahimahullah, bahwa beliau pernah didatangi 3 orang dengan membawa permasalahan hidup masing-masing; yang pertama mengeluhkan tentang belum dikaruniai anak keturunan, yang kedua mengeluhkan tentang kefakiran serta lilitan hutang, dan yang ketiga mengeluhkan tentang kebunnya yang kekeringan.
Lalu apa solusi dan jawaban yang diberikan oleh beliau?! Beliau memberikan jawaban yang sama, yaitu “beristighfarlah, memohon ampunan kepada Allah!.”
Ketika beliau ditanya, kenapa permasalah yang berbeda namun diberikan jawaban yang sama. Beliau pun membacakan firman Allah subhanahu wata’ala,

فَقُلۡتُ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّكُمۡؕ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًا

“Maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun,”

يُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَيۡكُمۡ مِّدۡرَارًا

“Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,”

وَّيُمۡدِدۡكُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّبَنِيۡنَ وَيَجۡعَلۡ لَّـكُمۡ جَنّٰتٍ وَّيَجۡعَلۡ لَّـكُمۡ اَنۡهٰرًا

“Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh : 10-12)

Segala permasalahan hidup, diantara solusinya adalah istighfar, memohon ampunan kepada Allah subahanhu wata’ala. Ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika kita ditimpa kesusahan, cobaan hidup, dan digoncang dengan ujian ini-itu, maka hendaknya kita melihat ke dalam diri. Coba tanyakan pada diri, “dosa apa yang telah aku perbuat”. Menyadari akan kesalahan adalah awal kebaikan yang akan menghantarkan seseorang kepada pintu taubat dan istighfar. Inilah sejatinya yang diwariskan oleh Nenek Moyang pertama kita, yaitu Adam dan Hawa ‘alaihimassalam tatakala keduanya berbuat kesalahan, lalu menanggung akibat dengan dikeluarkan dari syurga dan diturunkan ke bumi, keduanya pun berucap,

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ اَنۡفُسَنَا وَاِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَـنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَـنَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِيۡنَ

“Keduanya berkata, “Ya Rabb kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf : 23)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengingatkan kepada kita semua, bahwa terhalanginya seorang hamba dari rezeki, nikmat, dan sebagainya, tidak lain tidak bukan, itu disebabkan oleh perbuatan dosa yang ia lakukan. Semakin terjerumus ke dalam dosa dan maksiat, semakin kuat penghalang itu, semakin jauh ia dari Rahmat dan karunia-Nya. Wal’iyadzu billah.

 إنَّ العَبدَ ليُحرَمُ الرِّزقَ بالذَّنبِ يُصيبُه، ولا يَرُدُّ القَدَرَ إلَّا الدُّعاءُ، ولا يَزيدُ في العُمُرِ إلَّا البِرُّ

“Sesungguhnya seorang hamba terhalangi dari rezeki oleh sebab dosa yang ia lakukan, dan tidaklah merubah takdir kecuali doa, dan tidaklah menambah umur kecuali perbuatan baik.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad)

Bahkan perbuatan dosa seseorang bisa berdampak kepada masyarakat luas. Seperti dalam kisah Israiliyat, bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya pernah diuji oleh Allah dengan kemarau dan kekeringan, sehingga Nabi Musa mengumpulkan kaumnya untuk bersama berdo’a kepada Allah agar diturunkan hujan. Tapi Allah berfirman, “wahai Musa sesungguhnya di antara kaummu ada seseorang yang berbuat dosa selama 40 tahun, namun ia belum bertaubat dan memohon ampun kepada-Ku. Oleh sebab ia, aku tahan hujan.”
Nabi Musa pun kemudian menyampaikan kepada kaumnya, tiba-tiba tidak berselang lama, hujan pun turun. Allah subhanahu wata’ala berkata kepada Nabi Musa, “dia telah bertaubat dan beristighfar.” Nabi Musa berujar, “wahai Rabbku, tunjukanlah kepadaku siapa orangnya?” Allah berkata, “wahai Musa, saat dia berdosa, Aku rahasiakan, apakah saat Aku sudah mengampuninya, Aku kabarkan siapa dia?!”
So, marilah menjadi hamba yang pandai mengintropeksi dan mengevaluasi diri, lalu bercermin pada ayat,

اَفَلَا يَتُوۡبُوۡنَ اِلَى اللّٰهِ وَيَسۡتَغۡفِرُوۡنَهٗ‌ؕ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ

“Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah : 74)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan, role model yang terbaik bagi kita semua di dalam bertaubat dan beristighfar. Beliau manusia paling mulia, dijanjikan syurga, pemimpinnya para Nabi dan Rasul, Imamnya para muttaqin, namun demikian, beliau tidak pernah luput dari taubat dan istighfar.

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allâh, sungguh aku beristighfar dan bertaubat kepada Allâh setiap harinya lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain,

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ، فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sungguh terjadi gejolak dalam hatiku, dan aku sungguh beristighfar kepada Allâh dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim)

Bukankah kita lepih pantas dan layak untuk lebih banyak bertaubat dan beristighfar kepada-Nya?!

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fikum jami’an.

Ustadz Izzatullah Abduh, M.Pd
Kepsek INIS