Pembicara:
– Prof. Dr. Muhammad bin Fahd Al-Furaih –Hafidzohullah- (Guru Besar Ma’had Aly, Universitas Imam Muhammad bin Saud KSA)
– Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz As-Sindiy –Hafidzohullah- (Guru Besar Fakultas Aqidah, Universitas Islam Madinah KSA)
– Syekh Ahmed bin Essa Al-Hazmi –Hafidzohullah- (Atase Agama Kedubes Arab Saudi)
Penerjemah:
Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A –Hafidzohullah-
– Syekh Ahmed bin Essa Al-Hazmi –Hafidzohullah- (Atase Agama Kedubes Arab Saudi)
Beliau memberi kata sambutan dan berterima kasih kepada Kementrian Agama Republik Indonesia, kepada rombongan para masyaikh dari Saudi, dan juga Takmir masjid Istiqlal, beliau berdoa agar indonesia, Arab Saudi dan seluruh negri muslimin deberikan terus keamanan, kedamaian, ketentraman baik rakyat maupun pemerintahnya, mendoakan pemerintah merupakan sunnah yang mana ini merupakan ciri khas dari Ahlus sunnah, kemudian kata beliau semoga kita bisa mengamalkan ajaran Islam yang mengusung sikap pertengahan, yang mengusung ukhuwah dan mengajarkan kebaikan dan akhlak mulia, yang memberikan larangan untuk tidak berbuat dzolim, terorisme dan kerusakan.
– Prof. Dr. Muhammad bin Fahd Al-Furaih (Guru Besar Ma’had Aly, Universitas Imam Muhammad bin Saud KSA)
Beliau membuka kajian ini dengan khutbatul hajah kemudian beliau bersyukur sekali bisa hadir dan mengisi kajian di masjid istiqlal jakarta ini
Kemudian beliau menyampaikan bahwa
Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- adalah orang yang paling sayang dengan umatnya, sehingga setiap kebaikan pasti telah beliau sampaikan dan tunjukan kepada umatnya, dan setiap keburukan pasti telah beliau ingatkan kepada kita tentang keburukan tersebut, buktinya adalah beliau banyak sekali meriwayatkan hadist hadist mewanti wanti kita akan adanya fitnah
Diantaranya hadist Abu Sa’īd Al-Khudri -raḍiyallāhu ‘anhu-:
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : “يُوشَكُ أنْ يكونَ خيرَ مالِ المسلمِ غَنَمٌ يَتَّبعُ بها شَعَفَ الجبالِ، ومواقعَ القطرِ يَفِرُّ بدينِهِ من الفتنِ. رواه البخاري
Dari Abu Sa’īd Al-Khudri -raḍiyallāhu ‘anhu-, ia berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Hampir datang masanya bahwa sebaik-baik harta seorang Muslim itu adalah kambing yang digembalakannya di puncak gunung serta tempat-tempat subur, karena menjauhi berbagai fitnah yang mengganggu agamanya.” Hadist sahih – Diriwayatkan oleh Bukhari
Beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).
Beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ قَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ
“Berlindunglah diri kepada Allah dari fitnah-fitnah yang nampak dan yang teresmbunyi.” Para Sahabat berkata: Kami berlindung diri kepada Allah dari fitnah-fitnah yang nampak dan yang tersembunyi.” Beliau bersabda: “Berlindunglah diri kepada Allah dari fitnahnya Dajjal.” Para sahabat berkata: Kami berlindung diri kepada Allah dari fitnahnya Dajjal.”
Dan Syekh Hafidzohullah berkata : Fitnah terbesar yang menimpa seorang hamba adalah
- fitnah yang menimpa agama dan keimanannya, ( termasuk disini Syirik dan Bid’ah)
- fitnah terbesar bagi seorang hamba adalah fitnah yang menjadikan seseorang tidak peduli untuk melaksanakan kewajiban” dari Allah ta’ala dan berani melanggar larangan Allah ta’ala ( termasuk disini maksiat)
Kata syekh hafidzohullah, hendaknya kita merenungi pertanyaan ini agar kita selamat di dunia terlebih nanti di Akhirat
“ Kenapa Allah ta’ala menciptakan kita di muka bumi ini dengan semua fasilitas dari langit dan bumi beserta isinya dari Allah ta’ala?”
Jawabannya kata beliau :
“ أن خلقنا الله لأجل لا إله إلا الله” yaitu untuk kita benar benar merealisasikan kalimat at tauhid, untuk kalimat yang mulia inilah kita diciptakan, Yang inti dari kalimat ini adalah kita hanya boleh beribadah hanya kepada Allah ta’ala semata, dalilnya adalah
surah az zariyat : 56
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
- imam bukhori pernah mentafsirkan sebuah ayat yg berbunyi : (فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ) surah al hijr : 92 artinya :Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua.
Berkata Imam Bukhori : banyak para ahli Tafsir yang mentafsirkan pertanyaan yang dimaksud adalah “seberapa besar kita telah merealisasikan laa ilaha illallah”
- ibnu abbas radhiallahu anhuma dan muridnya imam mujahid tatkala mentafsirkan ayat surah luqman : 20
وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً
“Maksud dari nikmat yang terlihat dan tidak terlihat adalah nikmat kalimatul laa ilahaa illallah”
- Al imam Sufyan bin uyaynah berkata “nikmat terbesar yang Allah ta’ala berikan kepada umat ini adalah nikmat laa ilaaha Illallah”
- Ammar ibnu maimun salah seorang ulama salaf berkata “ kalimat yang paling istimewa adalah kalimat laa ilaaha Illallah”
- Makanya nabi shalallahu alaihi wa salam pernah bersabda dalam sebuah hadist
“الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ” “Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).
- Lihatlah bagimana nabi selalu memanfaatkan momen mendidik para sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dia berkata:
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( يا معاذ, أ تدرى ما حق الله على عباد ؟ ) قال : الله و رسوله أعلم, قال : ( أن يعبدوه ولا يشركو به شيأ,
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : (yaitu)“hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun…”
Maka wajib atas kita untuk mempelajari kalimat tersebut, setelah dipelajari kita berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikannya dalam kehidupan kita, hari ini kita diberikan Karunia Allah ta’ala untuk meyakini kalimat “laaaa ilahaa illallah” ini Allah berikan bukan karena kecerdasan dan kepintaran kita, bukan juga karena harta kita ataupun jabatan yang kita miliki, Akan tetapi Allah berikan kepada kita itu murni karena rahmat dan kasih sayangnya kepada kita, maka hendak nya kita pertahankan kalimat ini sampai kita diwafatkan agar kita mendapatkan karunia yang besar dari Allah ta’ala
- rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bercerita suatu kejadian nanti di hari kiamat yg dikenal dengan “hadist bitoqoh”
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ
“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat, lalu dibentangkan buku catatan amal keburukannya yang berjumlah 99 jilid. Setiap buku jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zholim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.”
Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tadi”. (HR. Ibnu Majah no. 4300, Tirmidzi no. 2639 dan Ahmad 2: 213)
Maka keistimewaan kalimatut tauhid itu sangat luar biasa makanya Allah ta ala berfirman dalam surah al an’am ayat : 82
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“ Orang-orang yang beriman (ahli tauhid) dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Keamanan dimana?:
- Keamanan di dunia
- Keamanan di alam kubur
- Keamanan di akhirat kelak
- Dalam sebuah kesempatan nabi kita membonceng ibnu abbas dan mengajarkan akan tauhid padahal umu ibnu abbas yg masih belia beluk baligh
قَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ….
Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu….”
Ibnu abbas diajari oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam jika butuh apa apa minta langsung kpd Allah ta’ala, bukan minta kpd beliau shalallahu alaihi wa salam, dididik dan di tanamkan tauhid sejak dini,
“ karena yg bisa menunaikan hajat kita adalah Allah”
- Jundub bin Junadah menceritakan bagaimana nabi shalallahu alaihi wa salam mendidik anak anak di zaman beliau “ kami dulu sebelum baligh belum mengerti apa apa kami sudah diajarkan iman dan tauhid baru setelah itu baru diajari membaca al Qur’an, kalau kalian belajar al qur’an dulu baru iman dan tauhid”
Sehingga para sahabat dan para tabiin tabiut tabiin mengikuti apa yang dilakukan oleh nabi shalallahu alaihi wa salam dalam mendakwahkan Tauhid sebagai prioritas.
- An Nakho’i seorang ulama mengatakan “kami sudah biasa mengajarkan anak yg baru bisa berbicara untuk mengatakan laa ilahaa illallah”
- Seorang ulama bernama Ibrohim Aliy bin husain “ begitu anak anak kami bisa berbicara maka langsung ditalkin “wahai anakku katakanlah aku beriman kpd Allah!!!”
– Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz As-Sindiy –Hafidzohullah- (Guru Besar Fakultas Aqidah, Universitas Islam Madinah KSA)
Beliau juga membuka dengan pujian kepada Allah ta’ala dan juga shalawat kepada Nabi Shalallahu alaihi wa salam, dan berdoa kepada Allah ta’ala agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan juga hidayah, keihklasan kepada kita semua.
Kata beliau Hafidzohullah : Hak terbesar setelah hak Allah ta’ala adalah hak Rasul Shalallahu alaihi wa salam, beliau akan menyampaikan 4 poin saja dalam kesempatan ini, diantaranya
- Yang pertama Beriman dengan Kenabian dan Kerasulan beliau Shalallahu alaihi wa salam, poin pertama dapat direalisasikan dengan
– Mengimani bahwa beliau Shalallahu alaihi wa salam betul betul diutus oleh Allah ta’ala, bukan ngaku ngaku saja
– Meyakini bahwa ajaran yang beliau Shalallahu alaihi wa salam bawa itu berlaku seluruh jin dan manusia sampai hari kiamat
– Meyakini bahwa beliau Shalallahu alaihi wa salam adalah penutup Nabi dan Rasul, dan ini menujukan bahwa Islam adalah penutup segala Agama setelah Islam.
- Yang kedua Mencintai Nabi Shalallahu alaihi wa salam dengan cinta yang benar, kenapa demikian?, karena Allah ta’ala cinta kepada beliau bahkan beliau memiliki gelar “Kholilullah” yang mana ini level tertinggi dalam mencintai, maka kita harus mencintai orang yang Allah ta’ala cintai, dan juga berkat dakwah beliau kita bisa merasakan nikmat Iman, Islam dan Tauhid pada hari ini, poin kedua dapat direalisasikan dengan:
– Mentaati beliau dan tidak mengedepankan hawa nafsu kita diatas sunnah beliau
– Rindu untuk melihat dan bertemu beliau Shalallahu alaihi wa salam
– Senantiasa memperbanyak sholawat serta salam kepada beliau Shalallahu alaihi wa salam di waktu khusus ataupun mutlak
– Mencintai Ahlul bait beliau Shalallahu alaihi wa salam
– Mencintai Para sahabat tanpa terkecuali, karena mereka adalah orang orang yang berjuang, membersamai beliau Shalallahu alaihi wa salam
- Yang ketiga menghargai, menghormati dan mengaggungkan Rasul Shalallahu alaihi wa salam, poin ketiga dapat direalisasikan dengan:
– Mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah ta’ala, karena beliau yang memerintahkannya
– Setia dalam meneladani beliau dari segala aspek kehidupan, dalam beribadah, muamalah, akhlak dan yang lainnya
– Mengagungkan sunnah beliau
– Membela beliau dan sunnahnya
– Berusaha untuk menyebarkan sunnah beliau
- Yang keempat Mentaati dan mengikuti sunnah beliau Shalallahu alaihi wa salam, poin keempat ini dapat direalisasikan dengan:
– Bersegera dalam menjawab atau menerima perintah beliau Shalallahu alaihi wa salam
– Totalitas dalam mentaati beliau tanpa menolak sedikitpun dengan akal dan hawa nafsu kita
– Mencukupkan diri dengan sunnah dan meniggalkan perbuatan bid’ah
– Syekh Ahmed bin Essa Al-Hazmi –Hafidzohullah- (Atase Agama Kedubes Arab Saudi)
Diakhir sesi beliau mengingatkan salah satu prinsip penting dari Ahlus Sunnah adalah untuk senantiasa menjaga persatuan diatas kebenaran dan tidak saling berpecah belah, dan untuk tidak keluar dari pemimpin sah kaum muslimin apalagi memberontak atau mengkudeta, Allah dan Rasulnya memerintahkan kita untuk mentaati mereka dalam kebaikan, semoga Allah mewafatkan kita semua diatas Islam dan Sunnah meneguhkan kita diatasnya sampai kita berjumpa dengan Allah ta’ala
Beberapa sumber referensi hadist:
https://muslim.or.id/
https://dorar.net/
Ahad, 23 Rab.Awwal 1445 H
Masjid Istiqlal Jakarta



