“MENEGUHKAN KESESUAIAN AGAMA DENGAN FITRAH SEBAGAI SOLUSI PROBLEMATIKA MASYARAKAT DAN UMAT” – Diringkas Oleh Ustadz Khalif Muhamad,S.Pd

Pembicara:

– Prof. Dr. Muhammad bin Fahd Al-Furaih –Hafidzohullah- (Guru Besar Ma’had Aly, Universitas Imam Muhammad bin Saud KSA)

– Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz As-Sindiy –Hafidzohullah- (Guru Besar Fakultas Aqidah, Universitas Islam Madinah KSA)

– Syekh Ahmed bin Essa Al-Hazmi –Hafidzohullah-  (Atase Agama Kedubes Arab Saudi)

Penerjemah:

Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A –Hafidzohullah-

– Syekh Ahmed bin Essa Al-Hazmi –Hafidzohullah-  (Atase Agama Kedubes Arab Saudi)

Beliau memberi kata sambutan dan berterima kasih kepada Kementrian Agama Republik Indonesia, kepada rombongan para masyaikh dari Saudi, dan juga Takmir masjid Istiqlal, beliau berdoa agar indonesia, Arab Saudi dan seluruh negri muslimin deberikan terus keamanan, kedamaian, ketentraman baik rakyat maupun pemerintahnya, mendoakan pemerintah merupakan sunnah yang mana ini merupakan ciri khas dari Ahlus sunnah, kemudian kata beliau semoga kita bisa mengamalkan ajaran Islam yang mengusung sikap pertengahan, yang mengusung ukhuwah dan mengajarkan kebaikan dan akhlak mulia, yang memberikan larangan untuk tidak berbuat dzolim, terorisme dan kerusakan.

– Prof. Dr. Muhammad bin Fahd Al-Furaih (Guru Besar Ma’had Aly, Universitas Imam Muhammad bin Saud KSA)

Beliau membuka kajian ini dengan khutbatul hajah kemudian beliau bersyukur sekali bisa hadir dan mengisi kajian di masjid istiqlal jakarta ini

Kemudian beliau menyampaikan bahwa

Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- adalah orang yang paling sayang dengan umatnya, sehingga setiap kebaikan pasti telah beliau sampaikan dan tunjukan kepada umatnya, dan setiap keburukan pasti telah beliau ingatkan kepada kita tentang keburukan tersebut, buktinya adalah beliau banyak sekali meriwayatkan hadist hadist mewanti wanti kita akan adanya fitnah

Diantaranya hadist Abu Sa’īd Al-Khudri -raḍiyallāhu ‘anhu-:

‎عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قالَ: قالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : “يُوشَكُ أنْ يكونَ خيرَ مالِ المسلمِ غَنَمٌ يَتَّبعُ بها شَعَفَ الجبالِ، ومواقعَ القطرِ يَفِرُّ بدينِهِ من الفتنِ. رواه البخاري

Dari Abu Sa’īd Al-Khudri -raḍiyallāhu ‘anhu-, ia berkata, “Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Hampir datang masanya bahwa sebaik-baik harta seorang Muslim itu adalah kambing yang digembalakannya di puncak gunung serta tempat-tempat subur, karena menjauhi berbagai fitnah yang mengganggu agamanya.”  Hadist sahih – Diriwayatkan oleh Bukhari

Beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

‎بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).

Beliau ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

‎تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ قَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

“Berlindunglah diri kepada Allah dari fitnah-fitnah yang nampak dan yang teresmbunyi.” Para Sahabat berkata: Kami berlindung diri kepada Allah dari fitnah-fitnah yang nampak dan yang tersembunyi.” Beliau bersabda: “Berlindunglah diri kepada Allah dari fitnahnya Dajjal.” Para sahabat berkata: Kami berlindung diri kepada Allah dari fitnahnya Dajjal.”

Dan Syekh Hafidzohullah berkata : Fitnah terbesar yang menimpa seorang hamba adalah

  • fitnah yang menimpa agama dan keimanannya, ( termasuk disini Syirik dan Bid’ah)
  • fitnah terbesar bagi seorang hamba adalah fitnah yang menjadikan seseorang tidak peduli untuk melaksanakan kewajiban” dari Allah ta’ala dan berani melanggar larangan Allah ta’ala ( termasuk disini maksiat)

Kata syekh hafidzohullah, hendaknya kita merenungi pertanyaan ini agar kita selamat di dunia terlebih nanti di Akhirat

“ Kenapa Allah ta’ala menciptakan kita di muka bumi ini dengan semua fasilitas dari langit dan bumi beserta isinya dari Allah ta’ala?”

Jawabannya kata beliau :

‎“ أن خلقنا الله لأجل لا إله إلا الله” yaitu untuk kita benar benar merealisasikan kalimat at tauhid, untuk kalimat yang mulia inilah kita diciptakan, Yang inti dari kalimat ini adalah kita hanya boleh beribadah hanya kepada Allah ta’ala semata, dalilnya adalah

surah az zariyat : 56

‎وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

  • imam bukhori pernah mentafsirkan sebuah ayat yg berbunyi : (فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ) surah al hijr : 92 artinya :Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua.

Berkata Imam Bukhori : banyak para ahli Tafsir yang mentafsirkan pertanyaan yang dimaksud adalah “seberapa besar kita telah merealisasikan laa ilaha illallah”

  • ibnu abbas radhiallahu anhuma dan muridnya imam mujahid tatkala mentafsirkan ayat surah luqman : 20

‎وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Maksud dari nikmat yang terlihat dan tidak terlihat adalah nikmat kalimatul laa ilahaa illallah”

 

  • Al imam Sufyan bin uyaynah berkata “nikmat terbesar yang Allah ta’ala berikan kepada umat ini adalah nikmat laa ilaaha Illallah”
  • Ammar ibnu maimun salah seorang ulama salaf berkata “ kalimat yang paling istimewa adalah kalimat laa ilaaha Illallah”
  • Makanya nabi shalallahu alaihi wa salam pernah bersabda dalam sebuah hadist

 “الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ” “Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).

  • Lihatlah bagimana nabi selalu memanfaatkan momen mendidik para sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

‎قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( يا معاذ, أ تدرى ما حق الله على عباد ؟ ) قال : الله و رسوله أعلم, قال : ( أن يعبدوه ولا يشركو به شيأ,

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya ?” Mu’adz berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Beliau bersabda : (yaitu)“hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun…”

Maka wajib atas kita untuk mempelajari kalimat tersebut, setelah dipelajari kita berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikannya dalam kehidupan kita, hari ini kita diberikan Karunia Allah ta’ala untuk meyakini kalimat “laaaa ilahaa illallah” ini Allah berikan bukan karena kecerdasan dan kepintaran kita, bukan juga karena harta kita ataupun jabatan yang kita miliki, Akan tetapi Allah berikan kepada kita itu murni karena rahmat dan kasih sayangnya kepada kita, maka hendak nya kita pertahankan kalimat ini sampai kita diwafatkan agar kita mendapatkan karunia yang besar dari Allah ta’ala

  • rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bercerita suatu kejadian nanti di hari kiamat yg dikenal dengan “hadist bitoqoh”

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat, lalu dibentangkan buku catatan amal keburukannya yang berjumlah 99 jilid. Setiap buku jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zholim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.”

Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tadi”. (HR. Ibnu Majah no. 4300, Tirmidzi no. 2639 dan Ahmad 2: 213)

Maka  keistimewaan kalimatut tauhid itu sangat luar biasa makanya Allah ta ala berfirman dalam surah al an’am ayat : 82

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“ Orang-orang yang beriman (ahli tauhid) dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Keamanan dimana?:

  • Keamanan di dunia
  • Keamanan di alam kubur
  • Keamanan di akhirat kelak
  • Dalam sebuah kesempatan nabi kita membonceng ibnu abbas dan mengajarkan akan tauhid padahal umu ibnu abbas yg masih belia beluk baligh

قَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ….

Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu….”

Ibnu abbas diajari oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam jika butuh apa apa minta langsung kpd Allah ta’ala, bukan minta kpd beliau shalallahu alaihi wa salam, dididik dan di tanamkan tauhid sejak dini,

“ karena yg bisa menunaikan hajat kita adalah Allah

  • Jundub bin Junadah menceritakan bagaimana nabi shalallahu alaihi wa salam mendidik anak anak di zaman beliau “ kami dulu sebelum baligh belum mengerti apa apa kami sudah diajarkan iman dan tauhid baru setelah itu baru diajari membaca al Qur’an, kalau kalian belajar al qur’an dulu baru iman dan tauhid

Sehingga para sahabat dan para tabiin tabiut tabiin mengikuti apa yang dilakukan oleh nabi shalallahu alaihi wa salam dalam mendakwahkan Tauhid sebagai prioritas.

  • An Nakho’i seorang ulama mengatakan “kami sudah biasa mengajarkan anak yg baru bisa berbicara untuk mengatakan laa ilahaa illallah”
  • Seorang ulama bernama Ibrohim Aliy bin husain “ begitu anak anak kami bisa berbicara maka langsung ditalkin “wahai anakku katakanlah aku beriman kpd Allah!!!”

– Prof. Dr. Shaleh bin Abdul Aziz As-Sindiy –Hafidzohullah- (Guru Besar Fakultas Aqidah, Universitas Islam Madinah KSA)

Beliau juga membuka dengan pujian kepada Allah ta’ala dan juga shalawat kepada Nabi Shalallahu alaihi wa salam, dan berdoa kepada Allah ta’ala agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan juga hidayah, keihklasan kepada kita semua.

Kata beliau Hafidzohullah : Hak terbesar setelah hak Allah ta’ala adalah hak Rasul Shalallahu alaihi wa salam, beliau akan menyampaikan 4 poin saja dalam kesempatan ini, diantaranya

  • Yang pertama Beriman dengan Kenabian dan Kerasulan beliau Shalallahu alaihi wa salam, poin pertama dapat direalisasikan dengan

–          Mengimani bahwa beliau Shalallahu alaihi wa salam betul betul diutus oleh Allah ta’ala, bukan ngaku ngaku saja

–          Meyakini bahwa ajaran yang beliau Shalallahu alaihi wa salam bawa itu berlaku seluruh jin dan manusia sampai hari kiamat

–          Meyakini bahwa beliau Shalallahu alaihi wa salam adalah penutup Nabi dan Rasul, dan ini menujukan bahwa Islam adalah penutup segala Agama setelah Islam.

  • Yang kedua Mencintai Nabi Shalallahu alaihi wa salam dengan cinta yang benar, kenapa demikian?, karena Allah ta’ala cinta kepada beliau bahkan beliau memiliki gelar “Kholilullah” yang mana ini level tertinggi dalam mencintai, maka kita harus mencintai orang yang Allah ta’ala cintai, dan juga berkat dakwah beliau kita bisa merasakan nikmat Iman, Islam dan Tauhid pada hari ini, poin kedua dapat direalisasikan dengan:

–          Mentaati beliau dan tidak mengedepankan hawa nafsu kita diatas sunnah beliau

–          Rindu untuk melihat dan bertemu beliau Shalallahu alaihi wa salam

–          Senantiasa memperbanyak sholawat serta salam kepada beliau Shalallahu alaihi wa salam di waktu khusus ataupun mutlak

–          Mencintai Ahlul bait beliau Shalallahu alaihi wa salam

–          Mencintai Para sahabat tanpa terkecuali, karena mereka adalah orang orang yang berjuang, membersamai beliau Shalallahu alaihi wa salam

  • Yang ketiga menghargai, menghormati dan mengaggungkan Rasul Shalallahu alaihi wa salam, poin ketiga dapat direalisasikan dengan:

–          Mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah ta’ala, karena beliau yang memerintahkannya

–          Setia dalam meneladani beliau dari segala aspek kehidupan, dalam beribadah, muamalah, akhlak dan yang lainnya

–          Mengagungkan sunnah beliau

–          Membela beliau dan sunnahnya

–          Berusaha untuk menyebarkan sunnah beliau

  • Yang keempat Mentaati dan mengikuti sunnah beliau Shalallahu alaihi wa salam, poin keempat ini dapat direalisasikan dengan:

–          Bersegera dalam menjawab atau menerima perintah beliau Shalallahu alaihi wa salam

–          Totalitas dalam mentaati beliau tanpa menolak sedikitpun dengan akal dan hawa nafsu kita

–          Mencukupkan diri dengan sunnah dan meniggalkan perbuatan bid’ah

– Syekh Ahmed bin Essa Al-Hazmi –Hafidzohullah-  (Atase Agama Kedubes Arab Saudi)

            Diakhir sesi beliau mengingatkan salah satu prinsip penting dari Ahlus Sunnah adalah untuk senantiasa menjaga persatuan diatas kebenaran dan tidak saling berpecah belah, dan untuk tidak keluar dari pemimpin sah kaum muslimin apalagi memberontak atau mengkudeta, Allah dan Rasulnya memerintahkan kita untuk mentaati mereka dalam kebaikan, semoga Allah mewafatkan kita semua diatas Islam dan Sunnah meneguhkan kita diatasnya sampai kita berjumpa dengan Allah ta’ala

 Beberapa sumber referensi hadist:

Home


https://muslim.or.id/
https://dorar.net/

Ahad, 23 Rab.Awwal 1445 H

Masjid Istiqlal Jakarta

Pendidikan Terbaik adalah Pendidikan yang Bisa Menumbuhkan Fitroh-fitroh dengan Sempurna

Pendidikan Terbaik adalah Pendidikan yang Bisa Menumbuhkan Fitroh-fitroh dengan Sempurna

Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat terbaik dan sempurna dalam menciptakan, sehingga tidak ada kekurangan dan ketidakcocokan pada penciptaan Allah.

Allah azza wa jalla berfirman :

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Surat Al Mukminun : 14)

Semua yang ada dimuka bumi telah Allah ciptakan dengan hikmah dan tujuan yang sangat mulia dan tidak mungkin ada penciptaan yang sia-sia dan percuma.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau.” (Surat Ali Imron : 191)

Allah azza wa jalla juga berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Surat Al Mukminun : 115)

Semua yang terjadi di muka bumi telah Allah atur sedemikian rapinya, tidak ada perkara yang terjadi karena tiba-tiba, maka tidak ada kebetulan di alam semesta.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Surat Yunus : 61)

Maka anda ada, anda menjadi suami atau istri, anda menjadi orang tua, anda menjadi bagian dari masyarakat, dan anda hidup di dunia pasti memiliki tujuan dan pasti perjalanannya telah diatur oleh Allah ta’ala dan bukan sebuah kebetulan.

Mengapa Kita Ada?

Seseorang yang mengetahui apa alasan dan tujuan ia harus ada di muka bumi pasti ia akan mengetahui arah dan jalan hidupnya. Gambarannya bagaikan musafir yang memiliki rute pasti untuk sampai ke tujuannya.

Maka siapa yang tidak mengetahui tujuan dan misi hidupnya pasti ia akan tersesat dan salah jalan.

Allah menciptakan kita untuk 2 tujuan besar yaitu beribadah kepada Allah dan menjadi kholifah di bumi.

Dan ketika Allah menciptakan manusia untuk misi ibadah dan kholifah, Allah tidak akan lalai namun Allah juga telah menyiapkan perangkat dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Allah telah menciptakan manusia di atas fitroh dan karakter yang suci sebagai sarana mencapai misi penciptaan.

Dan karakter manusia terbagi menjadi 2 macam:

  1. Karakter moral yang akan mendorong manusia untuk beribadah. Yaitu berupa iman, jujur, amanah, Cinta kepada Allah, dll.
  2. Karakter kinerja yang akan mendorong manusia untuk menjadi kholifah di muka bumi. Yaitu berupa: semangat beraktivitas, tangguh, berjuang, pantang menyerah, dll. Kedua karakter ini harus terkumpul ada dalam diri seorang hamba sehingga akan melahirkan pribadi yang tangguh dan amanah dalam beraktivitas.

Kita tidak menghendaki pribadi muslim yang baik tapi malas, atau pribadi yang bekerja keras tapi culas.

Oleh sebab itu Allah sebutkan bahwa kesempurnaan manusia ketika memiliki dua misi ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

“karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Surat Al Qoshos : 26)

Allah subhanahu wa ta’ala juga menceritkan ucapan Nabi Yusuf ‘alaihissalam

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (Surat Yusuf : 55)

Ibadah Kepada Allah

Allah menciptakan kita untuk menghambakan diri beribadah kepadaNya. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku” (Surat Adz-Dzariyat : 56)

Dan setiap manusia akan datang di hari kiamat untuk menjadi hamba. Allah azza wa jalla berfirman:

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (Surat Maryam : 93)

Sifat kehambaaan manusia kepada Allah tidak pernah bisa dilepaskan dari diri seorang pun. Bahkan semakin kuat sifat penghambaan seseorang kepada Allah maka semakin mulia dan sempurna sifatnya.

Oleh sebab itu Allah telah menjuluki Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam dengan sifat hamba pada empat posisi yang paling mulia, yaitu:

  1. Ketika isro’ dan mi’roj
  2. Ketika mendapatkan Wahyu
  3. Ketika berdakwah
  4. Ketika menantang para pengingkar Al Qur’an. Oleh sebab itu jadikanlah semua nafas dan pergerakan diri kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Surat Al An’am : 162)

Kholifah di Muka Bumi

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.(Surat al Baqoroh : 30)

Allah azza wa jalla juga berfirman:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya (Surat Hud : 61)

Allah menciptakan bumi dan semua isi di dalamnya untuk manusia. sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (Surat al Baqarah : 29)

Ketika bumi yang Allah ciptakan harus ada makhluq yang memakmurkannya, maka Allah ciptakan manusia dari tanah supaya sifat tanah terus menempel dalam diri pemakmur bumi.

Karena tugas memakmurkan (kholifah) bumi adalah misi yang besar maka Allah menginstal semua perangkat dan sarana untuk mencapai tugas tersebut.  Maka Allah memberikan dalam diri setiap manusia fitroh (karakter) kinerja.

Untuk menjadi khalifah di bumi maka Allah membekali 2 perkara sebagai penunjang yaitu syahwat dan akal. Syahwat sebagai motor penggerak roda kehidupan dunia, sedangkan akal sebagai rem dan tali kekang syahwat supaya tidak menjerumuskan kepada dosa dan maksiat.

Bumi memiliki karakter berbeda dengan langit. Allah menciptakan malaikat sebagai pemakmur langit, akan tetapi malaikat tidak bisa memakmurkan bumi karna tidak punya syahwat. Binatang walaupun punya syahwat juga tidak bisa memakmurkan bumi karena tidak memiliki akal.

Maka dunia harus kita taklukkan walaupun tidak harus kita miliki. Dunia harus tunduk di genggaman tangan kekuasan kita dan jangan sampai dunia menguasai diri kita. Dunia adalah fitnah bagi orang yang menjadi budak dunia, akan tetapi dunia bisa menjadi sarana masuk surga bagi siapa yang bisa menaklukannya.

Marilah kita menjadi kholifah penakluk dunia.

Pendidikan Terbaik

Pendidikan yang paling baik adalah sebuah pendidikan yang bisa membawa anak kita kepada tujuan mereka diciptakan yaitu ibadah dan kholifah.

Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang bisa menumbuhkan fitroh-fitroh dengan sempurna.

Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang bisa mengantarkan manusia kepada peradaban – peradaban yang mulia.

Marilah kita jadikan rumah kita, sekolah kita, dan tempat beraktivitas anak kita sebagai sebagai ruangan pendidikan anak kita dan tempat untuk mempersiapkan generasi – generasi unggul yang siap untuk menggapai kejayaan di masa depan.

 

Tulisan Ust. Abul Abbas Thobroni (Mudir Pon-Pes Nidaus Salam. Pengasuh Pendidikan Berbasis Karakter & Fitroh SD SABA Al Madinah)

Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter

Karakter merupakan bawaan sejak lahir yang disebut dengan istilah al fitrah dan telah dikaruniakan oleh Allah ta’ala kepada setiap anak manusia. Karakter perlu ditumbuhkan sehingga menjadi bekal untuk menunaikan tugas beribadah kepada Allah ta’ala serta menjadi khalifah di muka bumi, sesuai dengan tujuan penciptaan manusia di muka bumi.

Oleh karena itu dasar pendidikan karakter merujuk pada pendidikan fitrah manusia. Setiap anak yang lahir tidak dalam keadaan kosong, tetapi sudah dalam keadaan fitrah yaitu Islam dan telah diisi dengan karakter-karakter atau kecintaan kepada kebaikan-kebaikan oleh Allah ta’ala.

Terdapat 4 karakter atau fitrah yang sudah ada pada diri anak sejak lahir yaitu:

  1. Karakter iman (fitrah keimanan)
  2. Karakter belajar (fitrah belajar)
  3. Karakter bakat (fitrah bakat)
  4. Karakter perkembangan (fitrah perkembangan)

Mendidik anak sesuai fitrah diibaratkan menumbuhkan benih agar menjadi pohon yang besar, dijaga, disiram, dipupuk, dan dirawat. Tidaklah dibentuk dengan sekehendak hati melainkan diperlakukan sesuai perkembangannya sehingga hasilnya dapat dilihat setalh sekian lama menjadi pohon dewasa yang kokoh, rimbun, berbuah lebat, dan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya terhadap lingkungan sekitar.

Pendidikan bukanlah menjejalkan pengetahuan-pengatahuan sebanyak mungkin kepada anak. Tetapi pendidikan sejatinya adalah menumbuhkan dan membangkitkan potensi-potensi karakter yang sudah tertanam dalam diri anak sejak lahir agar mencapai peran peradaban dengan semulia-mulianya akhlaq.

Dapat disimpulkan pendidikan karakter adalah pendidikan yang menjaga dan menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ada pada diri anak menggunakan metode pembelajaran yang telah diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu bersumber dari Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shohih. Dengan metode pembelajaran pendidikan karakter yaitu menumbuhkan karakter iman, karakter belajar, dan karakter bakat, diselaraskan dengan karakter perkembangan anak.

Referensi: Buku Pendidikan Karakter Nabawiyah (karya Ustadz Abdul Kholiq)

Setiap Anak Terlahir Unik

Setiap Anak Terlahir Unik

Abi dan umi tahukah bahwa setiap anak lahir dalam keadaan unik? Tidak ada manusia yang sama di muka bumi. Maka dapat dikatakan bahwa setiap anak adalah very special limited edition. Sehingga yang perlu dilakukan oleh abi dan umi adalah menumbuhkan karakter sesuai fase usianya.

Anak pada fase usia 0 hingga 7 tahun merupakan fase thufulah (kanak-kanak). Pada fase kanak-kanak ini anak akan merasa dirinya yang paling penting, paling hebat, dan ingin menjadi pusat perhatian semua orang. Hal ini disebut dengan egosentris. Oleh karena itu pada fase ini sangat penting bagi orang tua untuk menguatkan aqidah anak, menumbuhkan rasa kasih sayang kepada anak, menghargai hasil karya anak, serta menjadikan rasa aman kepada anak.

Sehingga pendidikan yang tepat untuk fase thufulah ini adalah penanaman karakter iman serta menumbuhkan tauhid nya.Imajinasi dan abtraksi anak pada fase ini berada di puncaknya, sehingga imajinasi tentang Allah, Rasul, kebajikan dan kebaikan sangat mudah dibangkitkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan dalam menumbuhkan tauhid pada diri anak selalu dengan membuat hati anak riang gembira melalui berbagai permainan.

Tetapi bagaimana dengan kondisi saat ini? Telah banyak orang tua yang menitipkan pendidikan anak pada fase kanak-kanak kepada sebuah lembaga pendidikan dimana para pendidiknya lebih banyak memberi tekanan melalui beban kongnitif seperti membaca, menulis, dan berhitung.

Penekanan pembelajaran anak pada usia 0 – 7 tahun adalah penekanan pada permainan imajinasi, menstimulasi sensorik, serta motorik anak. Hingga anak berusia 7 tahun, anak belum memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Peran pendidik dan orang tua adalah sebagai fasilitator yang mengawasi dan mendokuntasikan anaknya bermain bebas dan spontan.

Referensi: Buku Pendidikan Karakter Nabawiyah (karya Ustadz Abdul Kholiq)

Pendidikan Karakter pada Fase Thufulah

Pendidikan Karakter pada Fase Thufulah

Abi dan umi pasti memiliki harapan yang besar terhadap anak supaya menjadi sholeh dan sholehah dengan menunaikan sholat di awal waktu bahkan menjadi penghafal Al Qur’an. Pernahkah terpikir oleh abi dan umi bahwa hal tersebut haruslah dilakukan atas dasar cinta, bukan paksaan? Sehingga mereka dapat terus menunaikan kewajibannya beribadah kepada Allah ta’ala bukan karena takut atau ancaman dari orang tua. Hal ini dapat dimulai dengan langkah penumbuhan kecintaan, penumbuhan minat belajar, penumbuhan kemandirian, dan penumbuhan peran.

Penumbuhan kecintaan bermula di fase thufullah dengan pendidikan karakter keimanan yaitu  membangkitkan kesadaran Allah sebagai Robb dengan keteladanan, kisah inspiratif dan kepahlawanan, membangkitkan imaji positif terhadap diri, Allah, Ibadah, dan Agama.Sebab setiap anak lahir dalam keadaan telah terinstal potensi karakter keimanan, setiap dari kita telah bersaksi bahwa Allah adalah Robb pencipta alam semesta pada saat di rahim ibu.

Selanjutnya karakter belajar yaitu membangkitkan logika dasar dan nalar melalui bahasa ibu sehingga sempurna ekspresinya, belajar bersama alam, belajar bersama kehidupan, imaji positif tentang alam, serta belajar dari percobaan.Setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat yang sejati. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kreatifitas imajinasi, explorer, penjelajah, dan peneliti unggul.

Pada karakter bakat dibangkitkan kesadaran bakat melalui beragam aktivitas untuk memperkaya wawasan, dan mendokumentasikan aktivitas anak. Setiap anak adalah unik (berbeda dengan lainnya), mereka masing-masing memiliki sifat produktif atau potensi produktif yang merupakan panggilan hidupnya, yang akan membawanya kepada peran spesifik peradaban.

Maka pada fase ini, abi dan umi bersamailah mereka tanpa mendikte serta tidak memberikan tekanan kepada anak walaupun sifat-sifat bakat yang dimiliki anak tersebut belum tambapak indah. Masing-masing anak dibekali Allah ta’ala sifat khusus yang kelak akan digunakannya untuk berperan pada peradaban. Maka penumbuhan sifat khusus tersebut berbeda metodenya untuk masing-masing anak.

Referensi: Buku Pendidikan Karakter Nabawiyah (karya Ustadz Abdul Kholiq)