Abi dan umi pasti memiliki harapan yang besar terhadap anak supaya menjadi sholeh dan sholehah dengan menunaikan sholat di awal waktu bahkan menjadi penghafal Al Qur’an. Pernahkah terpikir oleh abi dan umi bahwa hal tersebut haruslah dilakukan atas dasar cinta, bukan paksaan? Sehingga mereka dapat terus menunaikan kewajibannya beribadah kepada Allah ta’ala bukan karena takut atau ancaman dari orang tua. Hal ini dapat dimulai dengan langkah penumbuhan kecintaan, penumbuhan minat belajar, penumbuhan kemandirian, dan penumbuhan peran.
Penumbuhan kecintaan bermula di fase thufullah dengan pendidikan karakter keimanan yaitu membangkitkan kesadaran Allah sebagai Robb dengan keteladanan, kisah inspiratif dan kepahlawanan, membangkitkan imaji positif terhadap diri, Allah, Ibadah, dan Agama.Sebab setiap anak lahir dalam keadaan telah terinstal potensi karakter keimanan, setiap dari kita telah bersaksi bahwa Allah adalah Robb pencipta alam semesta pada saat di rahim ibu.
Selanjutnya karakter belajar yaitu membangkitkan logika dasar dan nalar melalui bahasa ibu sehingga sempurna ekspresinya, belajar bersama alam, belajar bersama kehidupan, imaji positif tentang alam, serta belajar dari percobaan.Setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat yang sejati. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, kreatifitas imajinasi, explorer, penjelajah, dan peneliti unggul.
Pada karakter bakat dibangkitkan kesadaran bakat melalui beragam aktivitas untuk memperkaya wawasan, dan mendokumentasikan aktivitas anak. Setiap anak adalah unik (berbeda dengan lainnya), mereka masing-masing memiliki sifat produktif atau potensi produktif yang merupakan panggilan hidupnya, yang akan membawanya kepada peran spesifik peradaban.
Maka pada fase ini, abi dan umi bersamailah mereka tanpa mendikte serta tidak memberikan tekanan kepada anak walaupun sifat-sifat bakat yang dimiliki anak tersebut belum tambapak indah. Masing-masing anak dibekali Allah ta’ala sifat khusus yang kelak akan digunakannya untuk berperan pada peradaban. Maka penumbuhan sifat khusus tersebut berbeda metodenya untuk masing-masing anak.
Referensi: Buku Pendidikan Karakter Nabawiyah (karya Ustadz Abdul Kholiq)
