Karakter merupakan bawaan sejak lahir yang disebut dengan istilah al fitrah dan telah dikaruniakan oleh Allah ta’ala kepada setiap anak manusia. Karakter perlu ditumbuhkan sehingga menjadi bekal untuk menunaikan tugas beribadah kepada Allah ta’ala serta menjadi khalifah di muka bumi, sesuai dengan tujuan penciptaan manusia di muka bumi.
Oleh karena itu dasar pendidikan karakter merujuk pada pendidikan fitrah manusia. Setiap anak yang lahir tidak dalam keadaan kosong, tetapi sudah dalam keadaan fitrah yaitu Islam dan telah diisi dengan karakter-karakter atau kecintaan kepada kebaikan-kebaikan oleh Allah ta’ala.
Terdapat 4 karakter atau fitrah yang sudah ada pada diri anak sejak lahir yaitu:
- Karakter iman (fitrah keimanan)
- Karakter belajar (fitrah belajar)
- Karakter bakat (fitrah bakat)
- Karakter perkembangan (fitrah perkembangan)
Mendidik anak sesuai fitrah diibaratkan menumbuhkan benih agar menjadi pohon yang besar, dijaga, disiram, dipupuk, dan dirawat. Tidaklah dibentuk dengan sekehendak hati melainkan diperlakukan sesuai perkembangannya sehingga hasilnya dapat dilihat setalh sekian lama menjadi pohon dewasa yang kokoh, rimbun, berbuah lebat, dan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya terhadap lingkungan sekitar.
Pendidikan bukanlah menjejalkan pengetahuan-pengatahuan sebanyak mungkin kepada anak. Tetapi pendidikan sejatinya adalah menumbuhkan dan membangkitkan potensi-potensi karakter yang sudah tertanam dalam diri anak sejak lahir agar mencapai peran peradaban dengan semulia-mulianya akhlaq.
Dapat disimpulkan pendidikan karakter adalah pendidikan yang menjaga dan menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ada pada diri anak menggunakan metode pembelajaran yang telah diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu bersumber dari Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shohih. Dengan metode pembelajaran pendidikan karakter yaitu menumbuhkan karakter iman, karakter belajar, dan karakter bakat, diselaraskan dengan karakter perkembangan anak.
Referensi: Buku Pendidikan Karakter Nabawiyah (karya Ustadz Abdul Kholiq)


