Pengaduan Rasulullah Kepada Allah….. What’s That?!

 

Bismillah. Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.

Setiap manusia pasti menjumpai fase hidup dimana ia merasa kecewa dan sedih. Sehingga ia butuh sandaran dan tempat untuk mengadu dan berkeluh kesah. Dan sebagai seorang muslim, maka tidak ada sandaran dan tempat terbaik untuk mengadu dan berkeluh kesah selain daripada kepada Allah subhanahu wata’ala.

Demikianlah hal yang pernah dialami oleh manusia yang paling mulia yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasllam. Beliau pernah mengadu kepada Allah tentang kekecewaan dan kesedihan beliau lantaran mendapati kaumnya yang berpaling mengabaikan Al-Qur’an. Ini diabadikan oleh Allah azza wa jalla di dalam firman-Nya,

وَقَالَ الرَّسُوۡلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِى اتَّخَذُوۡا هٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَهۡجُوۡرًا

“Dan Rasul (Muhammad) berkata, “wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.” (QS. Al-Furqan : 30)

 

Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengadukan sesuatu, berarti ini menunjukkan perkara yang serius dan sangat penting. Mengabaikan Al-Qur’an dianggap oleh beliau sebagai perbuatan yang tercela dan fatal. Sehingga beliau mengadukan hal tersebut kepada Allah subhanahu wata’ala.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa konteks ayat ini sebetulnya berkaitan dengan keadaan orang-orang musyrik Mekkah pada masa itu, dimana mereka tidak mau mendengarkan Al-Qur’an, bahkan mereka membuat kegaduhan dan permainan setiap kali dibacakan kepada mereka Al-Qur’an. Yang demikian supaya mereka tidak mendengar bacaan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Nabi kepada mereka.

وَقَالَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا لَا تَسۡمَعُوۡا لِهٰذَا الۡقُرۡاٰنِ وَالۡغَوۡا فِيۡهِ لَعَلَّكُمۡ تَغۡلِبُوۡنَ

“Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (Muhammad).” (QS. Fushshilat : 26)

Ini termasuk berpaling mengabaikan Al-Qur’an. Kemudian beliau menambahkan, bahwa juga termasuk berpaling mengabaikan Al-Qur’an adalah; enggan mempelajarinya, enggan menghafalnya, enggan beriman dan membenarkannya, enggan mentadabburi dan memahaminya, enggan mengamalkan isi kandungannya, dan lebih condong menyukai sya’ir, nyanyian, permainan, dan ucapan-ucapan manusia daripada Al-Qur’an. Wal’iyadzu billah.

Maka sebagai seorang muslim, hendaknya kita semua mawas diri jangan sampai masuk ke dalam golongan orang-orang yang diadukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasllam kepada Allah subhanahu wata’ala. Diadukan sebagai orang yang berpaling mengabaikan dan meninggalkan Al-Qur’an. Wal’iyadzu billah.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi seorang muslim untuk mengetahui keutamaan-keutamaan tentang Al-Qur’an supaya ia termotivasi menjalin hubungan yang baik dan harmonis dengan Al-Qur’an, dan menjadi sahabat terbaik bagi Al-Qur’an.

Seorang Ulama pernah ditanya tentang bagaimana hubungan orang-orang terdahulu dengan Al-Qur’an. Kemudian beliau menjawab, “seperti hari ini kalian dengan handphone.”

Jawaban beliau merupakan sentilan dan teguran, sekaligus renungan untuk kita semua. Sungguh betapa sering handphone berada di genggam tangan, itu lebih sering daripada Al-Qur’an. Sepanjang hari, sepanjang waktu handphone hampir tidak pernah lepas dari genggaman tangan dan pandangan mata kita. Sedangkan Al-Qur’an masih saja terasingkan hingga berdebu di pojok-pojok lemari.

Tidak heran jika para salafush shalih terdahulu, mereka bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sebulan sekali, 15 hari sekali, seminggu sekali, 3 hari sekali, bahkan ada yang sehari sekali. Karena demikianlah hubungan mereka dengan Al-Qur’an seperti jawaban Ulama di atas, “seperti hari ini kalian dengan handphone.”

Dan Syaikh Sa’d al Kamali hafizhahullah beliau pernah membuat pernyataan, bahwa orang-orang di zaman sekarang sering merasa takjub ketika mendengar bahwa ada orang yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari semalam. Padahal hal tersebut adalah hal biasa di masa para sahabat, tabi’in dan seterusnya. Ini karena di zaman sekarang, manusia sudah banyak tersibukkan dengan urusan duniawi. Sampai-sampai mereka berpikir tidak ada waktu untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, apalagi untuk mengkhatamkannya. Al-Qur’an seolah menjadi sesuatu yang tidak penting.

Syaikh Sulaiman Ruhaili hafizhahullah pernah mengungkapkan bahwa orang yang menghabiskan banyak waktu untuk membaca Al-Qur’an jangan pernah mengira waktunya itu habis sia-sia, justru sisa-sisa waktu yang ada akan terberkahi oleh sebagian waktu yang ia gunakan untuk membaca Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala mensifati Al-Qur’an dengan keberkahan,

كِتٰبٌ اَنۡزَلۡنٰهُ اِلَيۡكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوۡۤا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad : 29)

 

  • Adapun keutamaan-keutamaan Al-Qur’an adalah sebagai berikut;
  1. Mempelajari dan mengajarkan Al-Quran

خيرُكُم مَن تعلَّمَ القرآنَ وعلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah ia yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Hadits ini mengabarkan tentang manusia yang terbaik dan mukmin yang paling mulia, yaitu ia yang padanya terkumpul 2 sifat; belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.

Abu Abdirrahman as Sulami ketika mendengar hadits ini, beliau termotivasi untuk terus belajar dan mengajarkan Al-Qur’an kepada umat manusia dari zaman Utsman bin Affan hingga zamannya Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi. Menghabiskan waktu yang begitu sangat panjang. Oleh sebab itu, beliau mendapatkan keberkahan Al-Qur’an berupa kedudukan yang tinggi di tengah-tengah umat manusia.

 

  1. Seperti buah jeruk yang nikmat dan wangi

مثلُ المؤمنِ الَّذي يقرأُ القرآنَ كالأُتْرُجَّةِ طعمُها طيِّبٌ وريحُها طيِّبٌ والَّذي لا يقرأُ كالتَّمرةِ طعمُها طيِّبٌ ولا ريحَ لها

“Perumpamaan mukmin yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah jeruk yang rasanya nikmat dan wangi aromanya. Dan perumpamaan mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah kurma yang rasanya nikmat, tapi tidak ada wanginya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an diperumpamakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam layaknya seperti buah jeruk yang nikmat dan beraroma wangi. Namun tentu disini, maksudnya bukanlah hanya sekedar membaca, tetapi juga mengamalkan apa yang ia baca dan memberi manfaat kepada manusia dengan Al-Qur’an, seperti mengajarkannya, mendakwahkannya, dsb.

 

  1. Pahala berlipat dan ditemani Malaikat

منْ قرأَ حرفًا من كتابِ اللهِ فله به حسنةٌ ، والحسنةُ بعشرِ أمثالِها لا أقولُ آلم حرفٌ ، ولَكِن ألِفٌ حرفٌ، ولامٌ حرفٌ، وميمٌ حرفٌ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu pahala kebaikan. Dan satu pahala kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Aku tidak berkata Aliflaammiim itu satu huruf. Tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. Tirimidzi, Baihaqi dengan derajat shahih menurut Al-Albani)

Hadits ini menegaskan tentang besarnya pahala orang yang membaca Al-Qur’an, bahwa ia akan mendapatkan 10 pahala kebaikan dari setiap hurufnya. Hal ini sesuai juga dengan firman Allah subhanahu wata’ala,

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al-An’am : 160)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 الماهِرُ بالقرآنِ مع السفرَةِ الكرامِ البرَرَةِ ، والذي يقرؤُهُ ويتَعْتَعُ فيهِ وهو عليه شاقٌّ لَهُ أجرانِ

“Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti, dan orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan terbata-bata karena kesusahan, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari)

Orang yang pertama maksudnya adalah orang yang membaca Al-Qur’annya dengan lancar baik dengan mushaf maupun dengan hafalannya. Maka orang yang seperti ini kedudukannya sangat tinggi, kelak akan bersama kelompok Malaikat yang mulia yang berbakti (selalu ta’at) dan yang dekat dengan Allah subhanahu wata’ala. Adapun orang yang kedua adalah orang yang masih belajar membaca atau orang yang masih kesusahan dalam menghafal, maka baginya 2 pahala. Namun bukan berarti lebih banyak dari yang pertama. Karena yang pertama tentu lebih utama.

 

  1. Menjadi penolong di kubur dan pemberi syafaat di akhirat

يُؤتَى الرجلُ في قبرِه فإذا أُتِيَ من قِبَلِ رأسِه دفَعَتْه تلاوةُ القرآنِ وإذا أُتِيَ من قِبَلِ يدَيه دفعَتْه الصدقةُ وإذا أُتِيَ من قِبَلِ رِجلَيه دَفَعَه مَشيُه إلى المساجدِ

“Didatangkan (azab) kepada seseorang di dalam kuburnya. Ketika datang azab itu dari arah kepalanya, tiba-tiba ia diselamatkan oleh bacaan Al-Qur’annya. Dan ketika datang azab dari arah depannya, tiba-tiba ia diselamatkan oleh sedekahnya. Dan ketika datang azab dari arah kakinya, tiba-tiba ia diselamatkan oleh langkah kakinya ke Masjid.” (HR. Thabrani dengan derajat hasan menurut Al-Albani)

اقْرَؤُوا القُرْآنَ فإنَّه يَأْتي يَومَ القِيامَةِ شَفِيعًا لأَصْحابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat (pertolongan) bagi sahabatnya.” (HR. Muslim)

Kelak Al-Qur’an akan ditampakkan dalam rupa yang bisa dilihat oleh manusia. Al-Qur’an datang sebagai advokat, yaitu orang yang memberikan syafaat atau pertolongan untuk orang yang bersahabat dengannya. Al-Qur’an akan membela, memohonkan ampunan, menyelamatkan dari siksa neraka dan meninggikan derjat seseorang di dalam syurga.

 

  1. Terus naik ke tingkat syurga paling tinggi

يقالُ لصاحِبِ القرآنِ اقرَأ وارقَ ورتِّل كما كُنتَ ترتِّلُ في الدُّنيا فإنَّ منزلتَكَ عندَ آخرِ آيةٍ تقرؤُها

“Dikatakan kepada ahli Qur’an, ‘bacalah dan meninggilah, bacalah dengan tartil sebagaimana dahulu engkau baca di dunia. Karena sesungguhnya kedudukanmu ditentukan sesuai dengan ayat terakhir yang engkau baca.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I dengan derajat shahih menurut Ahmad Syakir dan hasan shahih menurut Al-Albani)

Hadits ini mengabarkan tentang keadaan ahli Qur’an di syurga, bahwa ia akan terus naik derajat dan kedudukannya sesuai dengan bacaannya. Dan manusia berbeda-beda derajatnya di syurga, diantaranya adalah ditentukan oleh sejauh mana interaksinya dengan Al-Qur’an; membacanya, menghafalnya, mengamalkannya, dst.

عدد درج الجنة عدد آي القرآن ، فمن دخل الجنة من أهل القرآن فليس فوقه درجة

“Jumlah derajat di syurga sejumlah ayat Al-Qur’an. Barangsiapa masuk syurga dari ahli Qur’an, maka tidak ada derajat yang lebih unggul darinya.” (HR. Baihaqi dengan derajat shahih menurut Al-Hakim)

 

  1. Orangtua mendapatkan kehormatan dan kemuliaan

من قرأ القرآنَ وتعلَّم وعمِل به أُلْبِس والداه يومَ القيامةِ تاجًا من نورٍ ضوءُه مثلُ الشَّمسِ ويُكسَى والداه حُلَّتَيْن لا يقومُ لهما الدُّنيا فيقولان بمَ كُسينا هذا فيُقالُ بأخذِ ولدِكما القرآنَ

“Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya dan mengamalkannya, kelak kedua orangtuanya akan dipakaikan mahkota yang bercahaya seperti cahaya matahari dan dipakaikan pakaian indah yang tidak pernah ada di dunia. Keduanya berkata, ‘oleh sebab apa kami mendapatkan ini?!’ maka dikatakan kepada keduanya, ‘yaitu oleh sebab anak kalian berdua yang menjadi ahli Qur’an’.” (HR. Hakim dengan derajat hasan shahih)

Setiap anak tentu ingin sekali memberikan hadiah istimewa kepada kedua orangtua, sebagai bentuk bakti kepada keduanya. Dan diantaranya adalah dengan menjadi ahli Qur’an. Sungguh hadiah di atas hadiah, bakti di atas bakti apabila seorang anak bisa memberikan kehormatan dan kemuliaan bagi kedua orangtuanya kelak di akhirat.

 

  1. Manjadi keluarga Allah

 إنَّ للَّهِ أَهْلينَ منَ النَّاسِ قالوا: يا رسولَ اللَّهِ ، من هُم ؟ قالَ: هم أَهْلُ القرآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وخاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “siapa mereka wahai Rasulullah?!” beliau bersabda, “mereka adalah ahli Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang keistimewaan-Nya.” (HR. Ibnu Majah dengan derajat shahih menurut Al-Albani)

Mereka adalah orang-orang yang membaca Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, yaitu dalam artian mereka mengamalkan apa yang mereka baca, berhukum dengan apa yang mereka baca, menjalankan perintah dan menjauhi larangan dari apa yang mereka baca dan yang berakhlaq dengan apa yang mereka baca dari Al-Qur’an.

اَلَّذِيۡنَ اٰتَيۡنٰهُمُ الۡكِتٰبَ يَتۡلُوۡنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖؕ اُولٰٓٮِٕكَ يُؤۡمِنُوۡنَ بِهٖ‌

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah : 121)

Mereka dijadikan oleh Allah sebagai wali-wali dan kekasih-kekasih-Nya. Allah muliakan mereka dengan cinta-Nya, perhatian-Nya, penjagaan-Nya dan Allah agungkan mereka dengan menyandarkan penyebutan mereka kepada-Nya, yaitu keluarga Allah.

 وَاللّٰهُ يَخۡتَصُّ بِرَحۡمَتِهٖ مَنۡ يَّشَآءُ ‌ؕ وَاللّٰهُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِيۡمِ

“Dan secara khusus Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang besar.” (QS. Al-Baqarah : 105)

 

Keutamaan-keutamaan di atas semoga bisa menjadi motivasi bagi kita semua supaya lebih intens lagi hubungannya dengan Al-Qur’an. Siapkan waktu untuk mempelajarinya, membacanya, memahaminya, mendakwahkannya, dan kemudian mengamalkannya dalam keseharian hidup. Sungguh siapa saja yang terhubung dengan Al-Qur’an, maka pasti ia akan mencapai kemuliaan dan keunggulan. Al-Qur’an dibawa oleh Malaikat Jibril, maka jadilah ia Malaikat yang paling mulia dan unggul. Al-Qur’an diterima oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka jadilah beliau manusia, Nabi dan Rasul yang paling mulia dan unggul. Dan Al-Qur’an diturunkan kepada umat Islam, maka jadilah umat Islam sebagai umat yang paling mulia dan unggul melebihi umat-umat terdahulu.

إنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بهذا الكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ به آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Qur’an ini (yaitu mereka yang berpegang teguh dengannya), dan menghinakan kaum yang lain dengan Al-Qur’an ini (yaitu mereka yang berpaling dan mengabaikannya).” (HR. Muslim)

 

Kemudian jangan lupa, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penghias pribadi kita, pengindah tingkah-laku kita, dan pesona akhlaq mulia kita terhadap sesama. Sungguh betapa menakjubkan kehidupan seorang yang sirah hidupnya adalah cerminan yang menggambarkan keindahan isi Al-Qur’an. Dan dia lah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Ibunda ‘Aisyah radiyallahu anha pernah ditanya tentang akhlaq Rasulullah. Lalu beliau menjawab,

كان خُلُقُه القُرآنَ

“Akhlaq beliau adalah Al-Qur’an.”

Kemudian beliau membaca ayat yang isinya berupa pujian Allah kepada Nabi-Nya,

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيۡمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam : 4)

(HR. Ahmad dengan derajat shahih menurut Syu’aib al Arnauth)

Diantara tafsiran ayat di atas bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam dipuji oleh Allah sebagai manusia mulia yang memiliki budi pekerti (akhlaq) yang luhur adalah karena beliau terdidik dengan Al-Qur’an. So, siapa yang ingin dipuji oleh Allah, maka jadilah insan yang terdidik dengan Al-Qur’an, sehingga bisa memiliki budi pekerti yang luhur.

 

Demikian, semoga bermanfa’at. Barakallaghu fikum jami’an.

Ustadz Izzatullah Abduh, M.Pd

Kepsek INIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *