Ayah, Tuntun Aku Di Atas Fithrahku

 

Bismillah, walhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah. Wa ba’d.

Sejatinya setiap diantara kita masing-masing telah mengambil mitsaq perjanjian dan persaksian di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa Allah adalah Rabb kita. Dan itu terjadi di alam ruh, ketika Allah mengeluarkan kita dari sulbi Bapak kita, Nabi Adam Alaihissalam,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ

“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami), kami bersaksi”. (QS. Al-A’raf : 172)

Kesaksian ini adalah ikrar primordial di alam ruh, di mana seluruh keturunan Nabi Adam mengakui Allah sebagai Rabb mereka. Dan kesaksian ini menjadikan tauhid sebagai fitrah bawaan manusia.

 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan,

يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّهُ اسْتَخْرَجَ ذُرِّيَّةَ بَنِي آدَمَ مِنْ أَصْلَابِهِمْ، شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّ اللَّهَ رَبُّهُمْ وَمَلِيكُهُمْ، وَأَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ. كَمَا أَنَّهُ تَعَالَى فَطَرَهُمْ عَلَى ذَلِكَ وَجَبَلَهُمْ عَلَيْهِ

Allah Ta‘ala mengabarkan bahwa Dia telah mengeluarkan keturunan Bani Adam dari tulang sulbi mereka, dalam keadaan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri bahwa Allah adalah Rabb mereka dan Penguasa mereka, serta bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Dia. Sebagaimana Allah Ta‘ala juga telah menciptakan mereka di atas fitrah tersebut dan membentuk mereka di atasnya. Allah Ta‘ala berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; (itulah) fitrah Allah yang telah Dia ciptakan manusia di atasnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.” (QS. Ar-Rum: 30)

 

Ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa secarah fithrahnya manusia itu mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun kemudian mereka menyeleweng dari fithrah tersebut oleh beberapa faktor, di antaranya sebagaimana disebutkan oleh Nabi Shallallahu Alaih Wa Sallam,

وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ، عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “يَقُولُ اللَّهُ [تَعَالَى]  إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ فَجَاءَتْهُمُ  الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ

Dan dalam Shahih Muslim, dari ‘Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah Ta‘ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus (bertauhid/hanif). Lalu datanglah setan-setan kepada mereka, kemudian setan-setan itu menyesatkan dan memalingkan mereka…’”

Faktor yang paling gencar adalah syaithan. Dan hal ini juga disebut oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang dedengkotnya syaithan yaitu Iblis,

ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَٰكِرِينَ

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf : 17)

Ibnu Abbas Radiyallahu ‘Anhu menafsirkan Syakirin dengan Muwahhidin, bahwa banyak diantara hamba Allah yang akan menyeleweng dari tauhid, dari fithrahnya.

 

Dari sini, mari kita para orangtua, khususnya para ayah, mari bersama menghadapkan wajah kita kepada anak-anak kita. Bayangkan betapa berat perjuangan anak-anak kita untuk bisa tetap berada di atas fithrah mereka.

Karena berikutnya, faktor lain yang mempengaruhi seorang hamba menjadi menyeleweng dan tersesat dari fithrahnya adalah kita sebagai orangtuanya.

Anak-anak kita terlahir di atas fithrahnya sebagai muslim, mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala, membawa fithrah keimanan dan kesiapan untuk menerima agama dan mengemban amanah syari’at Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lalu kita lah sebagai orangtua apakah menuntun mereka di atas fithrah tersebut, mengokohkan aqidah tauhid kepada mereka, atau justru menyeret mereka jauh dari fithrah dan menyesatkan mereka dari aqidah tauhid. Wal’iyadzu billah.

Perhatikan bagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda menyebutkan tentang dahsyatnya pengaruh orangtua terhadap anak,

وَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ -وَفِي رِوَايَةٍ: عَلَى هَذِهِ الْمِلَّةِ -فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، وَيُمَجِّسَانِهِ

Dan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah — dan dalam riwayat lain: di atas agama ini (Islam) — lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

 

Dan hal ini ditegaskan lagi dengan sikap Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam terhadap sebagian sahabat yang menyerang anak-anak di medan jihad, agar anak-anak itu dijaga dan diberi keamanan, karena sejatinya mereka masih di atas fithrah,

عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سُرَيْعٍ مِنْ بَنِي سَعْدٍ، قَالَ: غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَرْبَعَ غَزَوَاتٍ، قَالَ: فَتَنَاوَلَ الْقَوْمُ الذُّرِّيَّةَ بَعْدَ مَا قَتَلُوا الْمُقَاتَلَةَ، فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: “مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَنَاوَلُونَ الذُّرِّيَّةَ؟ ” قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَيْسُوا أَبْنَاءَ الْمُشْرِكِينَ؟ فَقَالَ: “إِنَّ خِيَارَكُمْ أَبْنَاءُ الْمُشْرِكِينَ! أَلَا إِنَّهَا لَيْسَتْ نِسْمَةٌ تُولَدُ إِلَّا وُلِدَتْ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَمَا تَزَالُ عَلَيْهَا حَتَّى يُبَيِّنَ عَنْهَا لِسَانُهَا، فَأَبَوَاهَا يُهَوِّدَانِهَا أَوْ  يُنَصِّرَانِهَا”.

Dari Al-Aswad bin Sura’i dari Bani Sa‘d, ia berkata:

Aku pernah ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam empat peperangan. Setelah para pasukan membunuh orang-orang yang ikut berperang (lawan), sebagian mereka kemudian menyerang anak-anak (keturunan). Hal itu sampai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka beliau sangat tidak menyukainya, lalu bersabda:“Mengapa ada kaum yang menyerang anak-anak?”

Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah mereka anak-anak orang musyrik?”

Maka beliau ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya orang-orang terbaik di antara kalian pun (dahulunya) adalah anak-anak orang musyrik! Ingatlah, tidak ada satu jiwa pun yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan di atas fitrah. Ia terus berada di atas fitrah itu hingga lisannya menjelaskannya (mampu berbicara), lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani.”

 

Sungguh sebagai seorang ayah, sebagai pemimpin keluarga, kita memiliki tanggungjawab yang besar di dalam menuntun fithrah anak-anak kita, agar mereka tetap berada di atas fithrahnya, menganal Rabb mereka dan mentauhidkan-Nya dalam setiap ibadah.

Oleh karenanya di dalam Al-Quran, Allah Subhanahu Wa Ta’ala banyak menghikayatkan dan menyebut tentang peran ayah di dalam menanamkan pendidikan tauhid kepada anaknya, agar anaknya menyembah hanya kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan tidak menjadi termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kafir.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya:

 يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Nabi Nuh Alaihissalam pun tetap menasihati aqidah anaknya, bahkan di tengah gelombang azab:

 وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ

“Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.'” (QS. Hud: 42)

Bahkan di penghujung usia, Nabi Ya’qub Alaihissalam tetap mereview aqidah anak-anaknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي

“Apakah kamu menjadi saksi ketika maut akan menjemput Ya‘kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’” (QS. Al-Baqarah: 133)

Termasuk juga Nabi Ibrahim Alaihissalam, Bapaknya ahli tauhid yang menunjukkan kekhawatirannya dalam sebuah untaian do’a agar anak keturunannya dijauhkan dari menyembah berhala,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak-keturunanku dari menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim : 35)

Allahu Akbar!

Lihatlah para Nabi dan Rasul serta orang shalih terdahulu, mereka tidak merasa aman terhadap aqidah dirinya dan keturunannya, mereka merasa khawatir terhadap kesyirikan, padahal mereka para Nabi dan rasul serta orang shalih. Lantas bagaimana dengan kita…?

Maka pendidikan aqidah, menjaga tauhid anak adalah kebutuhan mutlak bagi setiap orangtua dan kebutuhan paling prioritas untuk diberikan kepada anak-anak.

Mari terus kita berupaya dan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita dalam membersamai pendidikan anak-anak, agar mereka mengenal Rabb mereka dan beribadah hanya kepada-Nya.

LAA ILAAHA ILLALLAAH

 

Barakallahu fikum

Izzatullah Abduh, M.Pd

Kepsek INIS & Mudir TAFISA Boarding School

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *