Menjadi Suami Idaman Istri; “Sebaik-baik kalian adalah ia yang paling baik terhadap istrinya”

Bismillah walhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.

Kerukunan hidup berumah tangga sejatinya dapat mengundang keberkahan dan rahmat Allah subhanahu wata’ala. Maka seyogyanya setiap pasutri saling mendukung satu sama lain untuk bisa menciptakan kerukunan tsb. Di antara faktor yang bisa menghadirkan kerukunan di dalam rumah tangga adalah kebaikan suami terhadap istrinya. Di sini penulis lebih menekankan kebaikan suami dalam 2 hal, yaitu suami membantu pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan istri dan bersabar menghadapi sikap istri yang kurang mengenakkan.

Ketika suami mau mengerjakan pekerjaan yang biasa dikerjakan istri; nyuci, nyetrika, nyapu, ngepel, dsb., Maka di situ suami akan tahu dan dapat merasakan betapa berat dan lelahnya aktivitas seorang istri di rumah.

Jika suami harus membayar, maka sungguh tak ada bayaran yang senilai dengan jerih payah-lelahnya istri dalam mengurus pekerjaan rumah. Belum lagi ditambah mengurus anak-anak: dari berkorban hidup-mati melahirkan, menyusui tak kenal siang-malam, dsb.

Maka sungguh tak heran, jika di akhir-akhir hayatnya, Rasulullah  ﷺ  berwasiat supaya para suami berbuat baik kepada para istri.

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Perlakukanlah istri-istri kalian dengan baik.” (HR Ibnu Majah, dengan derajat hasan menurut Al Albani)

Bahkan Beliau pun menjadikan tolok-ukur kebaikan lelaki dengan baiknya perilaku ia kepada wanitanya (istri).

خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِم

“Orang terbaik di antara kalian adalah ia yang terbaik bagi istrinya.” (HR Ibnu Majah, dengan derajat shahih menurut Al Albani)

Dan bahkan sekali pun ada perangai istri yang kadang menjengkelkan, Rasulullah ﷺ justru memotivasi supaya sang suami bersabar, tidak lantas membencinya, apalagi memusuhinya. Malahan sang suami dianjurkan untuk mencari-cari sisi kebaikan daripada perangai istrinya yang bisa membuatnya ridho terhadapnya.

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang suami membenci istrinya, jika suami membenci salah satu perangai istrinya, niscaya suami akan ridha dengan perangainya yang lain.” (HR Muslim)

Dan dalam Al-Qur’an pun, Allah subhanahu wata’ala berfirman bahwa terkadang suami itu jengkel membenci sesuatu dari istrinya, padahal di balik itu ada kebaikan yang banyak.

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا

“Dan perlakukanlah mereka (para istri) dengan cara yang terbaik. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS An-Nisa’ : 19)

Maka sungguh, tidak ada teladan yang sempurna di dalam rumah tangga selain Rasulullah ﷺ di dalam memperlakukan istri-istrinya.

‘Aisyah radiyallahu ‘anha bercerita tentang beliau ketika di dalam rumah,

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Beliau suka membantu pekerjaan rumah istrinya, apabila tiba waktu shalat, maka beliau beranjak untuk melaksanakan shalat (berjama’ah di Masjid).” (HR Bukhari)

Dalam riwayat yang lain,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيَخِيطُ ثَوْبَهُ وَيَعْمَلُ فِي بَيْتِهِ كَمَا يَعْمَلُ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ

“Rasulullah ﷺ juga sering mengesol sandalnya, dan menjahit pakaiannya serta beliau melakukan sesuatu di rumahnya sebagaimana salah seorang dari kalian biasa lakukan di rumahnya.” (HR Ahmad)

كَانَ بَشَرًا مِنْ الْبَشَرِ يَفْلِي ثَوْبَهُ وَيَحْلُبُ شَاتَهُ وَيَخْدُمُ نَفْسَهُ

“Beliau adalah manusia seperti lainnya, Beliau menjahit pakaiannya, memeras susu kambingnya, dan melakukan pekerjaan rumahnya.” (HR Ahmad)

Masyaallaah, demikianlah potret indah pribadi Beliau di dalam rumahnya. Kedudukannya sebagai Nabi dan Rasul, sebagai Pemimpin Umat, sebagai Jendral/Panglima tertinggi dalam pasukan perang, dan sebagai orang pertama yang memegang kunci surga, yang mana tidak ada siapa pun orang yang bisa masuk surga sebelum Beliau memasukinya, namun sungguh itu semua tidak menghalangi Beliau untuk bersikap lembut terhadap keluarganya. Beliau terbiasa membantu pekerjaan rumah, bahkan tak sungkan mengerjakan keperluannya secara mandiri, padahal beliau bisa saja menyuruh ini-itu, tapi demikianlah Beliau memberikan contoh dan teladan yang terbaik di dalam menjalani hidup berumah tangga. Sepeninggal Beliau, kita pun menjumpai teladan dari murid-murid Beliau, yaitu para sahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in. Di antaranya adalah Umar ibn Khattab radiyallahu ‘anhu.

Dalam sebuah atsar meski sanad periwayatannya dho’if (lemah), tapi insyaallah kita bisa mengambil ibroh dan pelajaran darinya serta motivasi agar seorang suami bisa menjadi suami terbaik untuk istrinya.

Dikisahkan bahwa waktu ‘Umar menjabat sebagai Khalifah, pernah seseorang datang ke rumah Beliau hendak mengadukan perangai buruk istrinya yang suka marah dan membuat jengkel. Namun ketika ia sampai di depan pintu rumah ‘Umar, ia justru mendengar Sang Khalifah ‘Umar sedang dimarah-marahi oleh istrinya. Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya. Dan ketika ‘Umar mengetahui tentang kedatangannya ke rumah, Beliau pun menanyakan tentang keperluannya,

مَا حَاجَتُك يَا أَخِي؟

“Apa keperluanmu wahai saudaraku?”

Ia pun menjawab,

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ جِئتُ أَشْكُو إلَيْك خُلُقَ زَوْجَتِي وَاسْتِطَالَتَهَا عَلَيَّ فَسَمِعْتُ زَوْجَتَكَ كَذَلِكَ. إذَا كَانَ هَذَا حَالَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ مَعَ زَوْجَتِهِ فَكَيْفَ حَالِي؟

“Wahai pemimpin kaum mukminin, aku datang hendak mengadukan perangai istriku dan sifat marahnya terhadapku. Tapi aku mendengar ternyata istri Anda juga demikian terhadap Anda. Apabila Anda (sebagai pemimpin kaum mukminin) bisa menerimanya, maka bagaimana dengan diriku (tentu harus lebih bisa menerima)?”

‘Umar pun kemudian menasihati,

إنَّمَا تَحَمَّلْتُهَا لِحُقُوقٍ لَهَا عَلَيَّ : إنَّهَا طَبَّاخَةٌ لِطَعَامِي خَبَّازَةٌ لِخُبْزِي غَسَّالَةٌ لِثِيَابِي رَضَّاعَةٌ لِوَلَدِي ، وَيَسْكُنُ قَلْبِي بِهَا عَنْ الْحَرَامِ ، فَأَنَا أَتَحَمَّلُهَا لِذَلِكَ ، فَتَحَمَّلْهَا يَا أَخِي فَإِنَّمَا هِيَ مُدَّةٌ يَسِيرَةٌ.

“Sesungguhnya aku bersabar, karena dia memiliki hak atasku. Sungguh dia telah memasakkan makananku, membuatkan roti untukku, mencucikan pakaianku, menyusui anakku, dan hatiku tenteram dengannya (bisa berhubungan secara halal) sehingga aku terhindar dari yang haram, maka aku bersabar terhadap perangainya. Maka engkau juga hendaknya bersabar wahai saudaraku. Sesungguhnya kemarahannya itu hanyalah waktu yang sebentar saja.”

Masyaallaah.

‘Umar ibn Khattab radiyallahu ‘anhu sosok yang ditakuti oleh syaithan dan musuh-musuh Islam, bahkan sekelas para sahabat Nabi pun menaruh segan dan hormat kepada Beliau. Seperti yang dituturkan oleh Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma,

مكثت سنة أريد أن أسأل عمر بن الخطاب عن آية فما أستطيع أن أسأله هيبة له

“Aku pernah menahan diri selama satu tahun, ingin menanyakan sesuatu tentang ayat (Al-Qur’an) kepada ‘Umar, tapi aku tidak mampu menanyakannya karena segan terhadap Beliau (yang memiliki kewibawaan tinggi).”

Dan ‘Amr ibn Maimun radiyallahu ‘anhu juga pernah bercerita, bahwa Beliau pernah ingin berdiri shalat di shaf pertama di belakang ‘Umar selaku Imam, tetapi ia mengurungkannya, ia pun bertutur,

مَا مَنَعَنِي أَنْ أَكُونَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ إِلَّا هَيْبَتُهُ، وَكَانَ رَجُلًا مَهِيبًا

“Tidaklah menghalangiku untuk bisa berada di shaf pertama selain daripada segan terhadap kewibawaan ‘Umar. Dan adalah ‘Umar orang yang sangat berwibawa.”

Namun demikian, kewibawaan Beliau ditanggalkan ketika Beliau berada di dalam rumahnya. Beliau bersikap lembut terhadap istrinya dan bahkan tak sungkan mendengarkan ocehan/omelan istri ketika istrinya sedang marah.

Ya, salam!
Sungguh begitu jauh jikalau kita bercermin dari sosok Nabi ﷺ, kemudian juga sosok ‘Umar radiyallahu ‘anhu. Namun paling tidak, kita bisa mengambil bekal dan pelajaran dari sosok keduanya. Yang mana mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua selaku para suami supaya bisa menjadi suami terbaik bagi istri tercinta. Dan disitulah sejatinya tolok ukur kebaikan seorang lelaki.

خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِم

“Orang terbaik di antara kalian, adalah ia yang terbaik bagi istrinya.” (HR Ibnu Majah, dengan derajat shahih menurut Al Albani)

Demikian, semoga bermanfaat.

Barakallahu fikum.

Ustadz Izzatullah Abduh, M.Pd

Kepsek INIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *