Dengan Hati & Ilmu, Kita Bersama Bersinergi Mendidik Anak-Anak

Taujihat ini disampaikan oleh Kepsek INIS saat kegiatan POTS  Sabtu 26 Juli 2025

Semoga bermanfaat, barakallahu fikum

 

  • Sudut Pandang yang Optimis

Di tengah arus zaman yang sering kita anggap begitu mengkhawatirkan—dengan berbagai tantangan moral, teknologi, hingga krisis akhlak—mari kita tetap jaga sudut pandang yang indah dan optimis terhadap kehidupan dan terhadap anak-anak kita.

Ada sebuah pepatah inspiratif yang mengatakan:

> “Jika dunia ini gelap, jangan hanya mengutuk kegelapan. Nyalakanlah lilin, barangkali cahayanya bisa menuntun orang lain.”

Artinya, daripada terus menerus mengeluhkan keadaan, lebih baik kita mulai dari diri sendiri untuk menjadi cahaya, menjadi inspirasi, menjadi penguat harapan.

 

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَٰهُ وَجَعَلْنَا لَهُۥ نُورًا يَمْشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَٰفِرِينَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya) kemudian dia (hatinya) Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am : 122)

 

Sikap positif ini pula yang diajarkan oleh Nabi Isa `alayhissalām. Disebutkan dalam kisah israiliyat, bahwa: Nabi Isa `alayhissalām suatu hari berjalan bersama para pengikutnya (al-ḥawāriyyūn), lalu mereka melihat bangkai seekor kambing.

Para pengikutnya berkata: “Betapa busuk dan jeleknya bangkai ini.”

Tapi Nabi Isa berkata:

“انظروا إلى بياض أسنانه، ما أجملها!”

“Lihatlah betapa putih dan indahnya giginya!”

 

Ketika para pengikutnya heran, beliau menjawab:

“إنما ينظر كل إنسان إلى الأشياء بعين قلبه.”

“Seseorang akan memandang sesuatu sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya.”

 

Apa maknanya?

Bahwa sudut pandang yang positif itu lahir dari hati yang bersih. Jika hati kita penuh prasangka baik, maka kita akan menemukan kebaikan di balik keadaan yang paling buruk sekalipun.

Dalam Al-Qur’an pun Allah menyuruh kita untuk selalu melihat sesuatu dengan harapan dan husnudzan:

قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah…” (QS. Az-Zumar: 53)

 

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

“Optimisme (yaitu) kata-kata yang baik membuatku kagum.” (HR. Bukhari)

 

Jadi, mari kita sebagai orang tua tetap memelihara sudut pandang yang optimis, yakin bahwa anak-anak kita masih berproses, masih belajar, dan masih bisa tumbuh menjadi lebih baik, insyaAllah.

 

  • Luruskan Niat, Ikhlaskan Hati dalam Mendidik Anak

Pentingnya meluruskan kembali niat dan menata hati kita dalam menyekolahkan anak-anak kita, khususnya di sekolah Islam ini. Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apa niatku sebenarnya menyekolahkan anak di sini?”

Apakah karena tren? Apakah karena ingin gengsi? Ataukah memang sungguh-sungguh karena Allah?

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Setiap orang hanyalah akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Maka niat kita harus ikhlas karena Allah, karena ingin meraih keridhaan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, bukan hanya dunia. Kita ingin anak-anak kita mengenal Allah, mengenal Rasul-Nya ﷺ, dan mengenal agamanya dengan benar.

Karena tiga pengetahuan inilah fondasi utama hidup seorang muslim, yang kelak akan menjadi pertanyaan pertama di alam kuburnya:

مَنْ رَبُّكَ؟ مَا دِينُكَ؟ مَنْ نَبِيُّكَ؟

“Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?” (HR. Ahmad, Abu Dawud)

 

Maka, saat kita menyekolahkan anak di tempat yang mengajarkan ilmu agama, sesungguhnya kita sedang membekali mereka jawaban untuk kehidupan setelah mati. Dan itu adalah bentuk cinta sejati dari orang tua. Karena itu, keikhlasan adalah kunci utama. Tanpa keikhlasan, amal sebesar apapun tidak akan bernilai di sisi Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan (mengikhlaskan) ketaatan kepada-Nya dalam agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

 

Menuntut ilmu adalah ibadah besar. Dan ketika anak kita menuntut ilmu agama, lalu kita sebagai orang tua yang memfasilitasi, kita ikut kebagian pahalanya. Maka ikhlaskan perjuangan ini.

Percayalah…

Jika niat kita sudah benar dan lurus karena Allah, maka pertolongan Allah akan datang dari arah yang tidak disangka:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)

 

Maka mari kita kembali menata hati, mengikhlaskan niat, dan memohon kepada Allah agar anak-anak kita menjadi pewaris ilmu, pembela agama, dan penyejuk mata di dunia dan akhirat.

 

 

  • Anak adalah Nikmat dan Ujian

Mari sejenak kita merenung dan bersyukur atas anugerah besar yang Allah titipkan kepada kita, yaitu anak-anak.

Setiap pasangan suami istri pasti mendambakan hadirnya buah hati. Dan ketika anak itu lahir, seharusnya yang pertama kali kita ucapkan adalah pujian kepada Allah, karena merekalah perhiasan hidup, kebahagiaan dunia, dan ladang amal kita. Allah Ta’ala berfirman:

 

ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 46)

 

Bahkan para Nabi pun merindukan kehadiran anak. Lihatlah doa Nabi Zakariya `alayhissalām:

 

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَاءِ

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)

 

Juga doa Nabi Ibrahim `alayhissalām:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang yang shalih.”

(QS. Ash-Shaffat: 100)

 

 

Namun kita juga tidak boleh lalai, sebab anak bukan hanya anugerah, tapi juga ujian. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengingatkan:

 

إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ

“Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah (ujian).” (QS. At-Taghabun: 15)

 

Apa maknanya? Bahwa setiap anak adalah amanah dan tanggung jawab. Kita sebagai orang tua wajib mendidik mereka di atas agama Allah, bukan sekadar membesarkan secara fisik.

Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

(QS. At-Tahrim: 6)

 

Jangan sampai kita sibuk menyalahkan zaman, lingkungan, gadget, atau sekolah, sementara kita lupa bercermin: sudahkah kita membangun fondasi iman yang kokoh di rumah?

Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Hadits ini sangat tegas. Orang tua adalah aktor utama dalam membentuk karakter dan keimanan anak. Maka mari kita jujur kepada diri sendiri:

Sudahkah kita hadir sebagai guru iman pertama bagi anak-anak kita?

Sudahkah kita menjadi teladan dalam shalat, dalam akhlak, dalam zikir, dalam kesabaran?

 

Jangan tunggu waktu yang terlambat. Hari ini kita bisa mulai membangun ulang fondasi itu.

 

 

  • Kolaborasi antara Rumah dan Sekolah

Pendidikan anak adalah tugas besar yang tidak bisa dilakukan sendirian. Maka kami di Imam Nawawi Islamic School hadir bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi insyaallah sebagai mitra terbaik orang tua dalam mengantarkan anak-anak kita menjadi generasi sholih dan sholihah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Kita ingin menjadi partner yang saling mendukung, saling menguatkan, saling bekerja sama, sebagaimana firman Allah:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

 

Karena itu, sinergi antara rumah dan sekolah sangatlah penting. Anak tidak hanya dibentuk oleh sekolah, tapi juga oleh lingkungan rumah, terutama oleh ayah dan ibunya. Maka mari kita bangun komunikasi yang aktif, positif, dan penuh semangat kolaborasi demi masa depan anak-anak kita.

 

Mari kita bercermin dari kisah inspiratif Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin besar yang keadilannya dikenal sepanjang sejarah.

Dikisahkan, saat beliau masih kecil, ia dititipkan oleh ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan, kepada seorang guru yang bernama Shalih bin Kaisan, seorang ulama dan pendidik ternama di Madinah.

Suatu saat, gurunya melaporkan kepada ayah Umar bahwa Umar bin Abdul Aziz mulai terlambat menghadiri shalat berjamaah. Ketika ditanya alasannya, sang guru menjelaskan bahwa Umar terlalu lama berdiri di depan cermin untuk menyisir rambut dan memperhatikan penampilannya.

 

Mendengar itu, sang ayah tidak tinggal diam. Beliau segera mengirimkan tukang cukur khusus dari Mesir untuk mencukur habis rambut putranya. Tujuannya bukan untuk mempermalukan, tetapi sebagai bentuk pendidikan langsung dari ayah kepada anak: bahwa ketaatan lebih utama dari penampilan.

 

Subhanallah.

Dari kisah ini kita belajar, bahwa pendidikan efektif terjadi saat sekolah dan rumah saling terhubung. Tidak saling menyalahkan, tapi saling mengingatkan. Tidak saling melepaskan, tapi saling memegang erat tangan dalam mendidik amanah dari Allah: yaitu anak-anak kita.

Karena anak-anak kita bukan hanya milik kita hari ini, tapi mereka adalah calon pemimpin, calon mujahid, calon ahli surga, insyaAllah.

 

 

  • Asas Pendidikan Adalah Kasih Sayang dan Kelembutan

Asas utama pendidikan adalah kasih sayang (rahmah) dan kelembutan (rifq), sebelum ilmu itu diajarkan, sebelum disiplin itu ditegakkan, maka rahmat harus dihadirkan terlebih dahulu.

 

Allah ﷻ berfirman tentang Nabi Khidr alayhissalām saat mendidik Nabi Musa alayhissalām:

فَوَجَدَا عَبْدًۭا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَـٰهُ رَحْمَةًۭ مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَـٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًۭا

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”

(QS. Al-Kahfi: 65)

 

Perhatikan: rahmat datang sebelum ilmu. Maka orang tua dan guru tidak boleh terburu-buru dalam menghukum atau mencela. Justru buka dulu hati kita untuk memaafkan, memeluk, membimbing.

 

Nabi ﷺ memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Suatu hari, seseorang datang bertanya:

“Wahai Rasulullah, sampai berapa kali aku harus memaafkan pembantuku?”

Lalu Nabi menjawab:

“اعْفُ عَنْهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً”

“Maafkanlah dia dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali.” (HR. Abu Dawud)

 

Jika kepada pembantu saja kita diperintahkan untuk memaklumi dan memaafkan hingga 70 kali sehari, maka bagaimana lagi kepada anak-anak kita sendiri—yang masih polos, masih belajar membedakan benar dan salah, halal dan haram?

 

Nabi ﷺ juga pernah menegur Abu Mas’ud al-Anshari ketika beliau pernah memukul budaknya:

اللَّهُ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَيْهِ

“Allah lebih mampu menghukummu daripada kemampuanmu menghukum dia.” (HR. Muslim)

 

Namun, kasih sayang tidak berarti mengabaikan ketegasan. Nabi ﷺ juga mengajarkan bahwa ada masa mendidik dengan kebiasaan dan ada masa mendidik dengan ketegasan.

Beliau bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat saat mereka berumur tujuh tahun. Dan pukul-lah mereka (dengan pukulan mendidik, bukan menyakitkan) jika mereka tidak shalat saat berumur sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud)

 

Ini menunjukkan bahwa pendidikan anak bukan hanya pelukan dan nasihat, tapi juga ketegasan yang proporsional dan penuh hikmah.

 

Kemudian ketegasan dalam Hal yang Diharamkan

Kasih sayang memang pondasi dalam mendidik, tapi ketegasan dalam perkara haram juga merupakan bagian dari cinta sejati kepada anak-anak kita.

 

Nabi Muhammad ﷺ sendiri memberikan teladan luar biasa tentang ketegasan dalam menjaga anak-anak dari yang haram, bahkan kepada cucu beliau sendiri, yaitu Hasan atau Husain.

 

Suatu hari, salah satu cucu beliau memungut sebutir kurma, dan Nabi ﷺ khawatir bahwa kurma itu berasal dari harta zakat, yang haram bagi keluarga beliau. Maka Nabi ﷺ segera bertindak.

 

فَنَزَعَهَا مِنْ فِيهِ، وَقَالَ: أَمَا شَعَرْتَ أَنَّ آلَ مُحَمَّدٍ لَا يَأْكُلُونَ الصَّدَقَةَ؟

“Beliau langsung mengeluarkan kurma itu dari mulutnya, lalu berkata: Tidakkah kamu tahu bahwa keluarga Muhammad tidak boleh memakan sedekah?” (HR. Muslim)

 

Dalam riwayat lain disebutkan:

إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا وَهِيَ الصَّدَقَةُ

“Sesungguhnya aku tidak suka ia memakannya karena itu adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari)

 

Perhatikan… Nabi ﷺ tidak membiarkan, sekalipun itu hanya sebutir kurma dan dilakukan oleh anak kecil. Karena bagi beliau, mendidik sejak dini tentang halal-haram adalah kebaikan besar yang akan menjaga kemuliaan anak di masa depannya.

 

Maka kita sebagai orang tua pun harus belajar dari ketegasan ini:

Jika anak mulai melakukan hal-hal yang mendekati keharaman, maka kita harus segera bertindak.

Kita jelaskan dengan tegas namun bijaksana, bahwa ini haram karena Allah mengharamkannya, dan Rasulullah ﷺ juga melarangnya.

Kita tanamkan dalam hati mereka bahwa ada batasan dalam Islam yang harus dihormati.

 

Karena anak-anak yang tahu mana halal mana haram, insyaAllah akan tumbuh menjadi anak-anak yang punya rasa takut kepada Allah dan menjaga kehormatan dirinya.

 

Maka, mari kita bangun rumah dan sekolah kita dengan asas:

Kasih sayang sebelum kemarahan,

Kelembutan sebelum ketegasan,

Dan ketegasan yang lahir dari cinta, bukan amarah.

 

InsyaAllah dengan demikian, anak-anak kita akan tumbuh sebagai pribadi yang kuat, berakhlak mulia, dan tahu bahwa agama ini bukan tekanan, tapi petunjuk hidup yang penuh rahmat.

 

Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd

Kepsek INIS

Nak, Ayo Menjadi Shalih Bersama-Sama

Menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah, namun bukan pula hal yang sulit. Karena sebagai umat Islam kita telah diberi petunjuk dan tuntunan oleh Allah subhanahu wata’ala dan juga Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Tinggal bagaimana kita mempelajarinya, kemudian mengaplikasikannya dan berdo’a agar istiqamah di atas petunjuk dan tuntunan tsb.

Setiap orangtua tentu sangat menginginkan keshalihan dari anak-anaknya. Dan menginginkan do’a-do’a baik dari mereka. Sebab keshalihan dan do’a anak itu sangat bermanfa’at bagi orangtua, baik di masa hidupnya terlebih lagi setelah sepeninggalnya.

إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam (manusia) mati, maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal; sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfa’at, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Bahkan kelak ada orangtua yang dia merasa takjub dengan keadaan dirinya yang diangkat oleh Allah derajatnya di akhirat, hingga ia berkata,

يا ربِّ من أينَ لي هذا

“Wahai Rabbku, dari mana aku mendapatkan kemuliaan ini?!”

Kemudian dikatakan kepadanya,

باستغفارِ ولدِكَ لكَ

“Oleh sebab anakmu yang memohonkan ampun untukmu.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad)

Ini menunjukkan bahwa anak merupakan aset paling berharga yang dimiliki oleh orangtua, yang jika dididik dengan baik dan benar, maka ia bisa menjadi investasi yang akan memberikan keuntungan yang besar untuk kehidupan akhiratnya.

Terlebih di dalam Islam, Allah subhanahu wata’ala mewajibkan kepada para orangtua agar memenuhi hak-hak anaknya. Diantaranya adalah hak pendidikan.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَاَهۡلِيۡكُمۡ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim : 6)

Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata menafsirkan ayat di atas, “ajarkanlah agama kepada keluarga dan ajarkanlah adab kepada mereka.”

Maka barangsiapa yang mendidik anaknya di atas pendidikan agama Islam, maka sejatinya ia telah menjaga anaknya dari siksa api neraka.

Namun disini, banyak orangtua yang lupa bahwa sejatinya pendidikan itu dimulai dari orangtua itu sendiri. Karena sebelum Allah memerintahkan agar kita menjaga keluarga dari siksa api neraka, terlebih dahulu Allah memerintahkan diri kita agar diri kita ini terjaga dari siksa api neraka. Artinya hendaknya setiap orangtua membekali diri dengan ilmu agama dan menjadikan diri sebagai role model, sebagai teladan dan cerminan keshalihan serta akhlaq mulia bagi anak-anaknya.

Sehingga tidak heran jika kemudian Syaikh As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan do’a,

وَاخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحۡمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِىۡ صَغِيۡرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra : 24)

Maksud ayat ini adalah bahwa orang tua mendapatkan do’a dari anak sesuai dengan bagaimana ia mendidik/menyayangi anaknya ketika kecil. Beliau berkata,

ﺟﺰﺍﺀ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﺑﻴﺘﻬﻤﺎ ﺇﻳﺎﻙ ﺻﻐﻴﺮﺍ . ﻭﻓﻬﻢ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺃﻧﻪ ﻛﻠﻤﺎ ﺍﺯﺩﺍﺩﺕ ﺍﻟﺘﺮﺑﻴﺔ ﺍﺯﺩﺍﺩ ﺍﻟﺤﻖ

“Ini adalah balasan atas pendidikan orang tua kepada anak ketika masih kecil. Dipahami dari ayat ini bahwa semakin bagus pendidikan maka hak (dari doa anak) semakin bagus pula.”

Maka sebaliknya, jika orangtua mengabaikan pendidikan agama untuk anaknya, maka niscaya ia akan menjadi orangtua yang merugi, yang tidak mendapatkan keshalihan dan do’a dari anaknya. Jangan sampai menjadi orangtua yang digugat oleh anak dalam sebuah sya’ir,

ﻳﺎﺃﺑﺖ, ﺇﻧﻚ ﻋﻘﻘﺘﻨﻲ ﺻﻐﻴﺮﺍ ﻓﻌﻘﻘﺘﻚ ﻛﺒﻴﺮﺍ , ﻭﺃﺿﻌﺘﻨﻲ ﻭﻟﺪﺍ ﻓﺄﺿﻌﺘﻚ ﺷﻴﺨﺎ

“Wahai Bapakku, sungguh engkau telah durhaka kepadaku di waktu aku kecil, maka aku durhaka kepadamu saat aku dewasa. Dan engkau mengabaikan aku di waktu aku kecil, maka aku mengabaikanmu ketika engkau sudah tua.”

 

Maka marilah kita mencontoh bagaimana orang-orang shalih terdahulu, mereka memulai keshalihan itu dari diri mereka sendiri, sebelum kemudian menjadi shalih bersama-sama di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Sebab mereka memahami, bahwa keshalihan orangtua itu membawa keberkahan bagi anak.

Sa’id bin Al Musayyib rahimahullah pernah berkata kepada anaknya,

لأزيدنَّ في صلاتي مِنْ أجلِك، رجاءَ أنْ أُحْفَظَ فيكَ

“Sungguh aku benar-benar ingin menambah shalatku. Dengan harapan agar Allah menjagamu.”

Dan Ibnul Mukandir rahimahullah berkata,

إن الله ليحفظُ بالرجل الصالح ولدَه وولدَ ولده والدويرات التي حوله فما يزالونَ في حفظ من الله وستر

“Sesungguhnya orang yang shalih, benar-benar Allah akan menjaga anaknya, cucunya dan anak keturunannya yang lain. Senantiasa mereka dalam penjagaan Allah (oleh sebab keshalihannya tsb).”

Hal ini sesuai dengan kabar dari Al-Qur’an ketika Allah menceritakan tentang 2 anak yang dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala oleh sebab keshalihah bapak keduanya,

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Dan bapak keduanya adalah orang yang shalih.” (QS. Al-Kahfi : 82)

 

Kemudian di dalam masalah memberikan pendidikan. Maka bukanlah sekedar menitipkan anak ke sekolah atau lembaga pendidikan lalu berlepas diri begitu saja serta lepas tanggungjawab. Kewajiban utama tetap ada pada orangtua. Baik terkait biaya pendidikan, perkembangan anak dan yang lainnya. Orangtua harus bisa bersinergi dan bekerjasama dengan pihak sekolah atau lembaga yang ia titipkan anaknya disana. Karena hal ini akan mendatangkan keberkahan bagi si anak.

Potret kerjasama antara orangtua dan pendidik sudah ada sejak zaman Salafush Shalih. Disana ada Abdul Aziz yang menitipkan puteranya kepada seorang ulama yang bernama Shalih bin Kaisan.

Shalih bin Kaisan mendidik Umar (putera Abdul Aziz) dengan sangat baik. Sampai suatu ketika, Umar mulai beranjak dewasa. Kemudian didapati Umar terlambat hadir shalat berjama’ah. Sehingga hal ini kemudian dilaporkan oleh Shalih bin Kaisan kepada Abdul Aziz, ayah Umar.

Abdul Aziz berkata, “apa yang membuat puteraku terlambat hadir shalat berjama’ah?!”

Shalih bin Kaisan menjawab, “puteramu ahir-ahir ini sangat memperhatikan penampilannya, ia lama menyisir rambutnya.”

Mengetahui hal itu, Abdul Aziz langsung mengirim tukang cukur untuk mencukur habis rambut Umar.

Masyaallaah…

Inilah potret kerjasama antara orangtua dan pendidik yang di kemudian hari membawa berkah yang dahsyat. Umar menjadi Khalifah yang dikenal dengan keadilannya. Yang pada masanya tidak ada orang fakir dan orang miskin yang menerima zakat atau sedekah. Karena semua rakyat terpenuhi dan tercukupi. Dialah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah.

 

Kemudian terakhir.

Sebagai orangtua, maka janganlah sungkan untuk terus mendoakan kebaikan untuk anak. Bahkan ungkapkanlah perasaan cinta di hadapan mereka, kemudian berdoa kepada Allah agar Allah pun mencintai mereka. Sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapan cucunya,

اللَّهُمَّ إنِّي أُحِبُّهُ، فأحِبَّهُ وَأَحْبِبْ مَن يُحِبُّهُ

“Ya Allah sungguh aku mencintainya, maka cintailah ia. Dan cintai pula orang-orang yang mencintainya.” (HR. Bukhari)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah mendoakan seorang anak muda yang kala itu datang kepada Rasulullah meminta izin untuk berzina. Seorang anak muda yang sedang dikuasai nafsu, namun tidak memiliki biaya untuk menikah. Rasulullah memegang dadanya lalu berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَه

“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.” (HR. Ahmad)

Seketika anak muda tersebut tersadar dan tidak ingin mendekati zina sama sekali.

Dan yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma,

اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah, pahamkanlah dia terhadap agama dan ajarkanlah (ilmu) tafsir kepadanya.” (HR. Ahmad)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali mendoakan anak-anak itu langsung di hadapan mereka. Karena secara tidak langsung melalui doa yang dipanjatkan, beliau menghembuskan harapan untuk anak-anak agar mereka termotivasi dan bersemangat menjadi seperti apa yang didoakan untuk mereka.

Ahirnya, semoga kita bisa menjadi orangtua yang shalih untuk anak-anak kita, dan anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih/ah untuk kita. Semoga Allah berikan taufiqNya kepada kita semua.

Nak, ayo menjadi shalih bersama-sama.

Ayah, Ibu Sudahkah Engkau Mengenalkan Allah Kepada Anakmu..?!

Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah.

Termasuk perkara yang penting dalam pendidikan adalah penanaman Aqidah kepada anak-anak.

Diantaranya adalah dengan metode pengenalan terhadap nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifatNya yang mulia.
Agar mereka selalu ingat dan terhubung kepada Allah dalam segala hal dan kondisi.

So, tidak ada sosok yang paling utama untuk dikenalkan kepada anak selain daripada Penciptanya.
Sabda Nabi shallallahu alaih wasallam kepada Abdullah bin Abbas yang kala itu masih belia, diajarkan supaya ia terkoneksi dengan Allah sejak dini,

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ ، وَإِذَا  اسْتَعَنْتَ فَاسْتَـعِنْ بِاللهِ

“Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan apabila kamu memohon pertolongan, mohon pertolonganlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Pertanyaannya, sebagai orangtua, sebagai ruang dan center belajar utama bagi anak.
Sudah sejauh manakah kita mengenalkan Allah kepada anak-anak kita..?!

Sebab, Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menyebut pihak lain selain daripada orangtua, yang mana ini menunjukkan bahwa peran besar dan tanggungjawab utama adalah ada pada orangtua terhadap anak-anaknya.

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kedua orangtuanya lah yang menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Maksud fithrah adalah dalam keadaan muslim, mengenal Penciptanya dan siap untuk menerima syari’atNya.

Disamping itu, ditambah dengan peran syaithan yang selalu berusaha menyesatkan umat manusia dari agama Allah.

Dalam hadits qudsi Allah azza wajalla berfirman,

إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“Aku telah menciptakan para hambaKu dalam keadaan fithrahnya yang lurus (bertauhid). Lalu mereka didatangi syaithan, maka syaithan membuat mereka menyimpang dari agama.” (HR. Muslim)

Semoga Allah azza wajalla selalu memberikan taufiqNya kepada kita semua; saling bersinergi dalam mendidik shalihin-shalihat di atas agamaNya dan sunnah RasulNya.

Barakallahu fikum jami’an.

Goresan Kepsek ✍????
Ustadz Izzatullah Abduh, M.Pd

Hawatirlah Jika Meninggalkan Generasi (Anak Keturunan) Dalam Keadaan Lemah

Bismillah. Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah. Amma Ba’du.

Menjadi orangtua di era zaman modern ini tidaklah mudah. Banyak tantangan dan rintangan di dalam memberikan pendidikan untuk anak-anak. Kemajuan teknologi yang begitu pesat, tak dipungkiri selain menguntungkan juga menjadi ancaman yang serius terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anak kita.

Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) pengguna gadget anak usia dini di Indonesia mencapai sebanyak 33,44%. Dan menurut survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia bahwa lebih dari 71,3% anak-anak sekolah di Indonesia sudah memiliki gadget dan memainkannya dalam porsi yang lama setiap harinya. Dan sebanyak 79% para orang tua tidak menerapkan peraturan penggunaan gadget kepada anak-anak mereka. Padahal penggunaan gadget yang terus menerus dapat membuat mereka kecanduan dan berdampak negatif pada perkembangan fisik, mental, dan sosial mereka. Serta cenderung mengalami masalah dalam konsentrasi, perkembangan bahasa, dan keterampilan motorik. Maka ini harus menjadi perhatian serius bagi para orangtua untuk bisa mendampingi dan mengedukasi anak-anak dalam penggunaan gadget. Mengarahkan mereka supaya menggunakan gadget untuk hal-hal yang bermanfaat dan menjadwal penggunaannya untuk mereka. Karena bagaimana pun penggunaan gadget itu dapat merangsang pelepasan dopamin di otak atau dikenal “hormon kebahagiaan”. Penggunanya candu terhadap hiburan instan dan menarik di dalamnya seperti game, tontonan video, media sosial dan sebagainya.

Ini baru satu permasalahan yang kita temui di era modern ini. Kemudian terdapat juga survei-survei yang lainnya mengenai apa yang sedang terjadi atau dialami oleh anak-anak generasi zaman ini. Seperti mentalnnya yang kurang, minimnya kesejahteraan mental, banyaknya pengangguran, gaya hidup yang hedon, dan seterusnya.

Maka mari para orangtua, kita bercermin kepada firman Allah subhanahu wata’ala, usaha apa yang kiranya sudah kita upayakan untuk generasi atau anak-anak kita yang cepat atau lambat kita pun akan meninggalkan mereka,

وَلۡيَخۡشَ الَّذِيۡنَ لَوۡ تَرَكُوۡا مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوۡا عَلَيۡهِمۡ ۖفَلۡيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلۡيَقُوۡلُوا قَوۡلًا سَدِيۡدًا‏

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa : 9)

Konteks ayat ini adalah tentang teguran bagi orang-orang yang mengelola harta anak yatim, dan atau orang yang hadir menyaksikan wasiat orang lain yang akan meninggal. Agar mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara yang benar alias jujur. Sebagaimana mereka ingin jika kelak anak keturunan mereka diperlakukan baik oleh orang lain, maka hendaknya mereka juga memperlakukan baik anak-anak yang saat ini ada dalam pengasuhannya.

Dalam tafsir Muyassar disebutkan 3 hal yang perlu diperhatikan di dalam menunaikan hak anak keturunan atau generasi yang nantinya akan ditinggalkan. Yaitu memelihara harta mereka termasuk menyediakan tabungan untuk masa depan mereka, menyediakan pendidikan yang terbaik, dan memprotect mereka dari bahaya termasuk memberikan shield atau filter supaya mereka tidak mudah terbawa arus pergaulan buruk.

Kemudian ayat ini juga menjadi peringatan bagi para orangtua agar tidak menelantarkan anak-anak mereka dan juga anak-anak yang ada dalam pengasuhan mereka. Adalah para orangtua diperintahkan untuk mempersiapkan kesejahteraan anak-anak. Setidaknya ada 3 kesejahteraan yang perlu dipersiapkan, yaitu kesejahteraan ilmu, ekonomi/finansial dan emosional. Sehingga ketika orangtua meninggal, maka anak-anak sudah terpenuhi hak-hak mereka.

 

  1. Kesejahteraan ilmu, ini sangat penting bahkan hak yang paling utama. Tentunya sebagai seorang muslim yang dimaksud dengan ilmu disini adalah ilmu agama. Karena secara tegas di dalam Al-Quran Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَاَهۡلِيۡكُمۡ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim : 6)

Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini bahwa  maksudnya adalah ajarkanlah agama dan adab kepada keluarga; anak, istri, dst.

Dan Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma pernah berkata,

أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته

“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya.”

Kemudian Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah juga berkata,

“Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan begitu saja, berarti dia telah berbuat kesalahan yang fatal. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang mengabaikan mereka, serta tidak mengajarkan berbagai kewajiban dan ajaran agama. Orang tua yang menelantarkan anak-anaknya ketika mereka kecil,  itu akan membuat mereka tidak berfaedah bagi diri sendiri dan bagi orang tua ketika mereka telah dewasa.”

Ilmu agama inilah yang nantinya akan membentuk keshalihan dalam diri anak. Inilah sebaik-baik apa yang diwariskan oleh orangtua kepada anaknya.

Terdapat kisah yang sangat menggugah tentang Umar bin Abdul Aziz rahimahullah ketika beliau wafat, beliau tidak meninggalkan harta warisan untuk anak-anaknya. Kisah ini diceritakan oleh Muqatil bin Sulaiman kepada Al Manshur yang waktu itu menjabat sebagai Khalifah.

Muqatil bercerita,

“Umar bin Abdul Aziz memiliki 11 anak. Ketika wafat, beliau meninggalkan uang 18 dinar. Untuk membayar kain kafan 5 dinar dan untuk tanah liang kuburnya 4 dinar. Sisanya 9 dinar diwariskan kepada ahli warisnya.

Di sisi lain, ada Hisyam bin Abdul Malik yang memiliki 11 anak. Ketika beliau wafat, warisan yang diperoleh oleh masing-masing anaknya adalah 1 juta dinar.

Demi Allah, pada suatu hari aku melihat salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz bersedekah seratus ekor kuda untuk keperluan jihad fi sabilillah.

Dan pada hari yang sama, aku melihat salah seorang anak Hisyam bin Abdul Malik sedang meminta-minta di pasar.”

Muqatil melanjutkan,

“Sebelumnya orang-orang bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz menjelang wafatnya, ‘Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?’

Beliau menjawab, ‘Aku tinggalkan untuk mereka keshalihan dan takwa kepada Allah. Jika mereka menjadi orang-orang yang shaleh maka Allah yang akan mengurus mereka,’

Beliau membaca ayat,

وَهُوَ يَتَوَلَّى الصّٰلِحِيۡنَ‏

“Dia (Allah) melindungi orang-orang shalih.” (QS. Al-A’raf : 196)

Jika tidak menjadi orang-orang yang shaleh maka aku tidak mau menolong mereka untuk bermaksiat kepada Allah dengan harta.”

Orangtua yang menginginkan kebaikan untuk anaknya, maka harus menanamkan nilai-nilai pendidikan agama. Orangtua berperan sebagai wasilah agar anak paham terhadap agamanya dan mengerti tentang perkara-perkara yang menjadi kewajibannya. Yang mana inilah tanda kebaikan sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Tidak hanya itu, Allah pun akan mengangkat derajatnya,

يَرۡفَعِ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡكُمۡ ۙ وَالَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍ

“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah : 11)

Dengan ilmu agama, maka niscaya anak-anak kita akan menjadi anak-anak yang selalu diliputi kebaikan dan bermartabat serta tinggi derajatnya di antara manusia lainnya.

Dan kembali ke Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, bahwa beliau termasuk seorang Khalifah kaum muslimin yang pernah memenuhi bumi dengan keadilan. Beliau dikenal sebagai orang yang shalih, ahli ilmu dan berakhlak mulia. Hal ini tidak lepas dari peran ayahnya yang bernama Abdul Aziz bin Marwan rahimahullah. Ayahnya sangat perhatian terhadap pendidikan agama untuk anaknya, sehingga anaknya dititipkan kepada seorang ulama bernama Shalih bin Kaisan rahimahullah. Abdul Aziz berpesan supaya Umar kecil diajarkan tentang adab dan shalat berjamaah 5 waktu. Dan suatu hari Umar ketinggalan shalat berjamaah lantaran lamanya ia menyisir rambutnya. Hal ini dikabarkan oleh Shalih bin Kaisan kepada Abdul Aziz. Lalu apa responnya?! Abdul Aziz mengirim tukang cukur untuk mencukur habis rambut Umar. Demikian dilakukan supaya Umar tidak terlambat lagi dalam mengerjakan shalat berjamaah 5 waktu. Dan Umar tidak marah, justru merasa bangga kepada ayahnya. Meski jauh, tapi ayahnya selalu memberikan perhatian kepadanya.

Inilah pentingnya peran orangtua untuk anak-anak. Memberikan perhatian terhadap pendidikan mereka dan peduli terhadap capaian hasil belajar mereka.

Pepatah arab pernah mengungkapkan,

كيف استقم الظل و عوده أعوج

“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara kayunya bengkok?”

Semoga bisa dipahami makna tersirat dari kalimat pepatah di atas.

 

  1. Kesejahteraan ekonomi, ini juga tidak kalah penting. Tidak cukup orangtua hanya membekali anak-anaknya dengan ilmu agama dan keshalihan. Tanpa dibekali lifeskill yaitu keterampilan hidup yang dengannya ia bisa menghasilkan maisyah penghasilan untuk membiayai kebutuhan hidupnya sendiri maupun yang lainnya. Menjadi penting bagi orangtua untuk melihat potensi, bakat serta minat sang anak. Apalagi jika disitu ada peluang ekonomi yang bisa dihasilkan. Fasilitasi, support dan dampingi hingga sang anak bisa mandiri menjalankannya.

Kemudian boleh bagi para orangtua menyiapkan tabungan masa depan agar nanti bisa meninggalkan harta warisan yang banyak untuk anak-anaknya. Bahkan hal ini sangat dianjurkan supaya anak-anak tidak hidup dalam keadaan terlantar dan mengemis kepada orang lain setelah sepeninggalnya.

Dalam hadits yang shahih dikisahkan, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjenguk Sa’d bin Abi Waqash radiyallahu ‘anhu yang sedang sakit, lalu Sa’d berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةً، أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟ قَالَ: “لَا”. قَالَ: فالشَّطْر؟ قَالَ: “لَا”. قَالَ: فَالثُّلُثُ؟ قَالَ: “الثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ”. ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “إنك أن تَذر وَرَثَتَك أغنياء خَيْر من أَنْ تَذَرَهم عَالةً يتكَفَّفُون النَّاسَ” .

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta, dan tidak ada yang mewarisiku kecuali puteriku seorang. Apakah aku boleh (berwasiat untuk) bersedekah dengan 2/3 hartaku?!”

Rasulullah bersabda, “tidak.”

“Kalau 1/2?!” tanya lagi Sa’d.

Rasulullah tetap menjawab, “tidak.”

Sa’d berkata lagi, “kalau 1/3?!”

Rasulullah bersabda, “1/3?! 1/3 itu banyak” kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melanjutkan, “sungguh engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada engkau meninggalkannya dalam keadaan miskin mengemis meminta-minta kepada manusia.” (HR. Bukhari-Muslim)

Tentu poin ini harus dikuatkan dengan poin yang pertama yaitu ilmu agama. Sebab Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang shalih.” (HR. Ahmad dengan derajat shahih menurut Syu’aib al Arnauth)

 

Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَاَمَّا الۡجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيۡنِ يَتِيۡمَيۡنِ فِى الۡمَدِيۡنَةِ وَكَانَ تَحۡتَهٗ كَنۡزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوۡهُمَا صَالِحًـا ۚ فَاَرَادَ رَبُّكَ اَنۡ يَّبۡلُغَاۤ اَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنۡزَهُمَا ۖ رَحۡمَةً مِّنۡ رَّبِّكَ‌‌

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang shalih. Maka Rabbmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Rabbmu.” (QS. Al-Kahfi : 82)

Pada ayat ini, Allah menerangkan tentang seorang ayah yang shalih yang menyimpan hartanya untuk kedua anaknya. Maka Allah menghendaki harta itu tetap terjaga di tempat penyimpanannya agar kedua anaknya sampai dewasa, kemudian mengambil simpanannya itu untuk bekal kehidupan mereka.

Selain itu, ayat ini juga memberikan Pelajaran bahwa keshalihan orang tua, seperti yang dicontohkan dalam ayat ini, pasti akan dibalas oleh Allah. Salah satu bentuk balasan Allah adalah memberi anugerah kepada anak keturunannya.

 

  1. Kesejahteraan emosional, yaitu kemampuan untuk mengendalikan emosi dan merespon situasi yang ada dengan positif sesuai dengan tuntunan agama. Bersyukur ketika mendapatkan hal-hal yang menyenangkan dan bersabar ketika mendapatkan hal-hal yang menyusahkan serta memaafkan kesalahan-kesalahan yang masih bisa ditolerir.

Hal ini menjadi penting karena berkaitan dengan psikologi anak. Semakin anak mampu mengatur emosinya, maka semakin besar kemampuan untuk menikmati hidup, mengatasi stress dan lain sebagainya. Sehingga ia bisa menjadi pribadi yang fokus, mampu memprioritaskan apa yang penting untuk dikerjakan, dan mendorongnya melakukan aksi positif yang bermanfaat untuk hidupnya dan orang lain.

Kesejahteraan emosional perlu dibangun sejak dini supaya anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan mudah bergaul dengan siapa pun serta mampu mengatasi beragam problem yang mungkin akan ia temui dalam hidupnya.

Dan agama Islam sangat memperhatikan hal ini. Banyak ayat dan hadits yang mendorong umat Islam untuk mempunyai kesejahteraan emosional, bahkan memuji siapa saja dari kaum muslimin yang memilikinya.

وَلَا تَهِنُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَاَنۡتُمُ الۡاَعۡلَوۡنَ اِنۡ كُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِيۡنَ‏

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.” (QS. Ali Imran : 139)

Pada ayat ini Allah memotivasi agar kaum muslimin tidak larut dalam sifat lemah dan sedih yang berkepanjangan.

وَجَزٰٓؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثۡلُهَا‌ۚ فَمَنۡ عَفَا وَاَصۡلَحَ فَاَجۡرُهٗ عَلَى اللّٰهِ‌ؕ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيۡنَ‏

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zhalim.” (QS. Asy-Syura : 40)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa seseorang boleh membela diri ketika ia dizhalimi atau dianiaya. Dan membalas setimpal dengan apa yang ia derita. Namun demikian, ayat ini juga menganjurkan untuk tidak membalas kejahatan orang lain, tetapi memaafkan dan memperlakukan dengan baik orang yang berbuat jahat kepada kita karena Allah akan memberikan pahala kepada orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain.

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

“Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya.” (HR. Muslim)

Dan banyak lagi ayat maupun hadits lainnya yang tidak bisa dipaparkan satu persatu. Tapi intinya adalah pentingnya para orangtua membangun kesejahteraan emosional kepada anak-anak, baik dengan pendekatan agama, maupun yang lainnya selagi dalam koridor yang dibolehkan syariat. Sehingga anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana, mampu menghadapi segala situasi dengan tenang dan lurus.

Demikian, pada ahirnya kita semua akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah berupa anak-anak yang telah Allah titipkan kepada kita.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ والْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه   وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang laki-laki (suami) adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, dan seorang istri pemimpin terhadap keluarga di rumah suaminya dan juga anak-anaknya. Dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya atas mereka.” (HR. Bukhari)

 

Semoga bermanfaat. Barakallahu fikum jami’an.

Ustadz Izzatullah Abduh, M.Pd

Kepsek INIS

Menjadi Suami Idaman Istri; “Sebaik-baik kalian adalah ia yang paling baik terhadap istrinya”

Bismillah walhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.

Kerukunan hidup berumah tangga sejatinya dapat mengundang keberkahan dan rahmat Allah subhanahu wata’ala. Maka seyogyanya setiap pasutri saling mendukung satu sama lain untuk bisa menciptakan kerukunan tsb. Di antara faktor yang bisa menghadirkan kerukunan di dalam rumah tangga adalah kebaikan suami terhadap istrinya. Di sini penulis lebih menekankan kebaikan suami dalam 2 hal, yaitu suami membantu pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan istri dan bersabar menghadapi sikap istri yang kurang mengenakkan.

Ketika suami mau mengerjakan pekerjaan yang biasa dikerjakan istri; nyuci, nyetrika, nyapu, ngepel, dsb., Maka di situ suami akan tahu dan dapat merasakan betapa berat dan lelahnya aktivitas seorang istri di rumah.

Jika suami harus membayar, maka sungguh tak ada bayaran yang senilai dengan jerih payah-lelahnya istri dalam mengurus pekerjaan rumah. Belum lagi ditambah mengurus anak-anak: dari berkorban hidup-mati melahirkan, menyusui tak kenal siang-malam, dsb.

Maka sungguh tak heran, jika di akhir-akhir hayatnya, Rasulullah  ﷺ  berwasiat supaya para suami berbuat baik kepada para istri.

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Perlakukanlah istri-istri kalian dengan baik.” (HR Ibnu Majah, dengan derajat hasan menurut Al Albani)

Bahkan Beliau pun menjadikan tolok-ukur kebaikan lelaki dengan baiknya perilaku ia kepada wanitanya (istri).

خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِم

“Orang terbaik di antara kalian adalah ia yang terbaik bagi istrinya.” (HR Ibnu Majah, dengan derajat shahih menurut Al Albani)

Dan bahkan sekali pun ada perangai istri yang kadang menjengkelkan, Rasulullah ﷺ justru memotivasi supaya sang suami bersabar, tidak lantas membencinya, apalagi memusuhinya. Malahan sang suami dianjurkan untuk mencari-cari sisi kebaikan daripada perangai istrinya yang bisa membuatnya ridho terhadapnya.

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang suami membenci istrinya, jika suami membenci salah satu perangai istrinya, niscaya suami akan ridha dengan perangainya yang lain.” (HR Muslim)

Dan dalam Al-Qur’an pun, Allah subhanahu wata’ala berfirman bahwa terkadang suami itu jengkel membenci sesuatu dari istrinya, padahal di balik itu ada kebaikan yang banyak.

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا

“Dan perlakukanlah mereka (para istri) dengan cara yang terbaik. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS An-Nisa’ : 19)

Maka sungguh, tidak ada teladan yang sempurna di dalam rumah tangga selain Rasulullah ﷺ di dalam memperlakukan istri-istrinya.

‘Aisyah radiyallahu ‘anha bercerita tentang beliau ketika di dalam rumah,

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Beliau suka membantu pekerjaan rumah istrinya, apabila tiba waktu shalat, maka beliau beranjak untuk melaksanakan shalat (berjama’ah di Masjid).” (HR Bukhari)

Dalam riwayat yang lain,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيَخِيطُ ثَوْبَهُ وَيَعْمَلُ فِي بَيْتِهِ كَمَا يَعْمَلُ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ

“Rasulullah ﷺ juga sering mengesol sandalnya, dan menjahit pakaiannya serta beliau melakukan sesuatu di rumahnya sebagaimana salah seorang dari kalian biasa lakukan di rumahnya.” (HR Ahmad)

كَانَ بَشَرًا مِنْ الْبَشَرِ يَفْلِي ثَوْبَهُ وَيَحْلُبُ شَاتَهُ وَيَخْدُمُ نَفْسَهُ

“Beliau adalah manusia seperti lainnya, Beliau menjahit pakaiannya, memeras susu kambingnya, dan melakukan pekerjaan rumahnya.” (HR Ahmad)

Masyaallaah, demikianlah potret indah pribadi Beliau di dalam rumahnya. Kedudukannya sebagai Nabi dan Rasul, sebagai Pemimpin Umat, sebagai Jendral/Panglima tertinggi dalam pasukan perang, dan sebagai orang pertama yang memegang kunci surga, yang mana tidak ada siapa pun orang yang bisa masuk surga sebelum Beliau memasukinya, namun sungguh itu semua tidak menghalangi Beliau untuk bersikap lembut terhadap keluarganya. Beliau terbiasa membantu pekerjaan rumah, bahkan tak sungkan mengerjakan keperluannya secara mandiri, padahal beliau bisa saja menyuruh ini-itu, tapi demikianlah Beliau memberikan contoh dan teladan yang terbaik di dalam menjalani hidup berumah tangga. Sepeninggal Beliau, kita pun menjumpai teladan dari murid-murid Beliau, yaitu para sahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in. Di antaranya adalah Umar ibn Khattab radiyallahu ‘anhu.

Dalam sebuah atsar meski sanad periwayatannya dho’if (lemah), tapi insyaallah kita bisa mengambil ibroh dan pelajaran darinya serta motivasi agar seorang suami bisa menjadi suami terbaik untuk istrinya.

Dikisahkan bahwa waktu ‘Umar menjabat sebagai Khalifah, pernah seseorang datang ke rumah Beliau hendak mengadukan perangai buruk istrinya yang suka marah dan membuat jengkel. Namun ketika ia sampai di depan pintu rumah ‘Umar, ia justru mendengar Sang Khalifah ‘Umar sedang dimarah-marahi oleh istrinya. Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya. Dan ketika ‘Umar mengetahui tentang kedatangannya ke rumah, Beliau pun menanyakan tentang keperluannya,

مَا حَاجَتُك يَا أَخِي؟

“Apa keperluanmu wahai saudaraku?”

Ia pun menjawab,

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ جِئتُ أَشْكُو إلَيْك خُلُقَ زَوْجَتِي وَاسْتِطَالَتَهَا عَلَيَّ فَسَمِعْتُ زَوْجَتَكَ كَذَلِكَ. إذَا كَانَ هَذَا حَالَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ مَعَ زَوْجَتِهِ فَكَيْفَ حَالِي؟

“Wahai pemimpin kaum mukminin, aku datang hendak mengadukan perangai istriku dan sifat marahnya terhadapku. Tapi aku mendengar ternyata istri Anda juga demikian terhadap Anda. Apabila Anda (sebagai pemimpin kaum mukminin) bisa menerimanya, maka bagaimana dengan diriku (tentu harus lebih bisa menerima)?”

‘Umar pun kemudian menasihati,

إنَّمَا تَحَمَّلْتُهَا لِحُقُوقٍ لَهَا عَلَيَّ : إنَّهَا طَبَّاخَةٌ لِطَعَامِي خَبَّازَةٌ لِخُبْزِي غَسَّالَةٌ لِثِيَابِي رَضَّاعَةٌ لِوَلَدِي ، وَيَسْكُنُ قَلْبِي بِهَا عَنْ الْحَرَامِ ، فَأَنَا أَتَحَمَّلُهَا لِذَلِكَ ، فَتَحَمَّلْهَا يَا أَخِي فَإِنَّمَا هِيَ مُدَّةٌ يَسِيرَةٌ.

“Sesungguhnya aku bersabar, karena dia memiliki hak atasku. Sungguh dia telah memasakkan makananku, membuatkan roti untukku, mencucikan pakaianku, menyusui anakku, dan hatiku tenteram dengannya (bisa berhubungan secara halal) sehingga aku terhindar dari yang haram, maka aku bersabar terhadap perangainya. Maka engkau juga hendaknya bersabar wahai saudaraku. Sesungguhnya kemarahannya itu hanyalah waktu yang sebentar saja.”

Masyaallaah.

‘Umar ibn Khattab radiyallahu ‘anhu sosok yang ditakuti oleh syaithan dan musuh-musuh Islam, bahkan sekelas para sahabat Nabi pun menaruh segan dan hormat kepada Beliau. Seperti yang dituturkan oleh Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma,

مكثت سنة أريد أن أسأل عمر بن الخطاب عن آية فما أستطيع أن أسأله هيبة له

“Aku pernah menahan diri selama satu tahun, ingin menanyakan sesuatu tentang ayat (Al-Qur’an) kepada ‘Umar, tapi aku tidak mampu menanyakannya karena segan terhadap Beliau (yang memiliki kewibawaan tinggi).”

Dan ‘Amr ibn Maimun radiyallahu ‘anhu juga pernah bercerita, bahwa Beliau pernah ingin berdiri shalat di shaf pertama di belakang ‘Umar selaku Imam, tetapi ia mengurungkannya, ia pun bertutur,

مَا مَنَعَنِي أَنْ أَكُونَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ إِلَّا هَيْبَتُهُ، وَكَانَ رَجُلًا مَهِيبًا

“Tidaklah menghalangiku untuk bisa berada di shaf pertama selain daripada segan terhadap kewibawaan ‘Umar. Dan adalah ‘Umar orang yang sangat berwibawa.”

Namun demikian, kewibawaan Beliau ditanggalkan ketika Beliau berada di dalam rumahnya. Beliau bersikap lembut terhadap istrinya dan bahkan tak sungkan mendengarkan ocehan/omelan istri ketika istrinya sedang marah.

Ya, salam!
Sungguh begitu jauh jikalau kita bercermin dari sosok Nabi ﷺ, kemudian juga sosok ‘Umar radiyallahu ‘anhu. Namun paling tidak, kita bisa mengambil bekal dan pelajaran dari sosok keduanya. Yang mana mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua selaku para suami supaya bisa menjadi suami terbaik bagi istri tercinta. Dan disitulah sejatinya tolok ukur kebaikan seorang lelaki.

خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِم

“Orang terbaik di antara kalian, adalah ia yang terbaik bagi istrinya.” (HR Ibnu Majah, dengan derajat shahih menurut Al Albani)

Demikian, semoga bermanfaat.

Barakallahu fikum.

Ustadz Izzatullah Abduh, M.Pd

Kepsek INIS

Wahai Suami Wahai Istri Ambil lah Nasihat Rasulullah ini dalam Berumahtangga!

Bismillah. Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.

Wahai suami, wahai istri!

Ketika Adam diciptakan dan ditempatkan di dalam surga, beliau merasa kesepian dan merasa ada yang kurang, padahal beliau dikelilingi beragam kenikmatan di surga. Sehingga akhirnya, Allah hadirkan untuk beliau seorang kekasih bernama Hawa.

Secara tabi’atnya manusia merindukan adanya pasangan dalam hidup. Dengannya berbagi kasih-cinta, berbagi suka-duka, berbagi canda-tawa, dan seterusnya. Pasangan adalah pelengkap nikmat-nikmat yang ada dalam hidup. Sehingga tak heran jika kehadiran pasangan dalam hidup dijadikan oleh Allah menjadi bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.

{ وَخَلَقۡنَـٰكُمۡ أَزۡوَ ٰ⁠جࣰا }

“Dan Kami menciptakan kalian secara berpasang-pasangan.” (QS. An-Naba : 8)

{ وَمِن كُلِّ شَیۡءٍ خَلَقۡنَا زَوۡجَیۡنِ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ }

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasang agar kalian mengingat (tanda kebesaran Allah).” (QS. Adz-Dzariyat : 49)

{ وَمِنۡ ءَایَـٰتِهِۦۤ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَ ٰ⁠جࣰا لِّتَسۡكُنُوۤا۟ إِلَیۡهَا وَجَعَلَ بَیۡنَكُم مَّوَدَّةࣰ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ لَـَٔایَـٰتࣲ لِّقَوۡمࣲ یَتَفَكَّرُونَ }

“Dan diantara tanda-tanda kebesaran Allah, bahwa Allah menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung merasa tenteram kepadanya, dan Allah jadikan di antaramu cinta dan kasih. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum : 21)

Oleh karena kehadiran pasangan termasuk bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah, maka hendaknya setiap kita mengikuti rambu-rambu syari’at dan tuntunan agama di dalam mengikat tali kasih, tali cinta dengan pasangan hidup kita, yaitu dengan jalan pernikahan.

Nabi shallallahu ‘alaih wasallam bersabda,

لم ير للمتحابين مثل النكاح

“Tidak ada solusi bagi dua kekasih yang saling cinta selain daripada (mengikatnya) dengan pernikahan.” (HR. Ibnu Majah)

Ketika sudah sah terikat dengan pernikahan, sudah terjalin dan terbangun hubungan rumahtangga. Maka tidak ada fondasi yang paling kuat selain daripada keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. Suami-istri hendaknya saling tolong menolong dalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

{ وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰ }

“Dan saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Maidah : 2)

{ مَنۡ عَمِلَ صَـٰلِحࣰا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنࣱ فَلَنُحۡیِیَنَّهُۥ حَیَوٰةࣰ طَیِّبَةࣰۖ وَلَنَجۡزِیَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ }

“Siapa yang beramal shalih baik laki-laki ataupun perempuan dan ia dalam keadaan beriman, maka sungguh benar-benar Kami akan memberikan kehidupan yang thayyibah (penuh berkah) untuknya. Dan sungguh benar-benar akan Kami berikan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 97)

Dan ketika sudah terjalin dan terbangun hubungan rumahtangga. Maka hadirkanlah keromantisan dengan canda jenaka bersama pasangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تُلَاعِبُهَا وتُلَاعِبُكَ

“Engkau mencandainya dan dia mencandaimu.” (HR. Bukhari)

Dan juga keromantisan dalam ibadah.

رحِمَ اللَّهُ رجلًا قامَ مِن اللَّيلِ فصلَّى وأيقظَ امرأتَه ، فإن أبَتْ نضحَ في وجهِها الماءَ ، رحِمَ اللَّهُ امرأةً قامَت مِن اللَّيلِ وصلَّتْ وأيقظَتْ زَوجَها فإن أبَى نضَحَتْ في وجهِه الماءَ

“Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam, lalu shalat, kemudian membangunkan istrinya. Apabila istrinya enggan, maka ia cipratkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang istri yang bangun di waktu malam, lalu shalat, kemudian membangunkan suaminya. Apabila suaminya enggan, maka ia cipratkan air ke wajahnya.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)

Apabila rumah tangga berasaskan iman dan takwa, maka niscaya rumah tangga yang seperti ini akan selalu mendapat keberkahan dan pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala.

{ وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰۤ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوۡا۟ لَفَتَحۡنَا عَلَیۡهِم بَرَكَـٰتࣲ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ }

“Dan kalau sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, sungguh Kami akan bukakan untuknya pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf : 96)

وَمَن یَتَّقِ ٱللَّهَ یَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجࣰا (2) وَیَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُۚ

 وَمَن یَتَّقِ ٱللَّهَ یَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ یُسۡرࣰا (4) وَمَن یَتَّقِ ٱللَّهَ یُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَیِّـَٔاتِهِۦ وَیُعۡظِمۡ لَهُۥۤ أَجۡرًا (5)

“Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah berikan jalan keluar untuknya (dari setiap masalah) dan Allah berikan rezeki dari arah yang tidak diduga-duga.

Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah jadikan segala urusannya menjadi mudah.

Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah hapuskan dosa-dosanya dan Allah besarkan pahalanya.” (QS. Ath-Thalaq : 2-5)

Dan merupakan hal penting dalam rumah tangga, hendaknya masing-masing pasangan mengerti akan hak dan kewajiban antara satu dengan yang lainnya;

Untukmu wahai suami,

{وَأَخَذۡنَ مِنكُم مِّیثَـٰقًا غَلِیظࣰا }

“Dan istri mengambil janji setia yang kuat darimu.” (QS. An-Nisa : 21)

Maka bertakwalah kepada Allah dan ingatlah pesan Hasan al Bashri rahimahullah ketika ditanya oleh seseorang, “dengan siapakah aku menikahkan puteriku?!”

Beliau menjawab, “dengan orang yang bertakwa,

فإن أحبها أكرمها، و إن أبغضها لم يظلمها

Jika ia senang terhadap istrinya, niscaya ia akan memuliakannya, dan jika ia marah terhadap istrinya, niscaya ia tidak menzhaliminya.”

Perlakukanlah istrimu dengan lemah lembut dan tunaikanlah haknya atasmu.

وعن معاوية بن حيدة رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُول الله، مَا حق زَوجَةِ أَحَدِنَا عَلَيهِ؟ قَالَ: ((أنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طعِمْتَ، وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلا تَضْرِبِ الوَجْهَ، وَلا تُقَبِّحْ، وَلا تَهْجُرْ إلا في البَيْتِ)).

Dari Mu’awiyah ibn Haidah radiyalllahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Rasulullah,

“Wahai Rasulullah, apakah hak istri yang harus ditunaikan oleh kita?”

Beliau bersabda,

“Engkau memberinya makanan sebagaimana engkau makan, engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian, dan janganlah memukul wajah, dan janganlah menjelek-jelekannya, dan jangan mendiaminya (bersikap dingin) kecuali hanya di dalam rumah.” (HR. Abu Daud)

Dalam riwayat yang lain,

ألا وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ في كِسْوَتِهنَّ وَطَعَامِهنَّ

“Ketahuilah, hak istri atasmu adalah kamu memberikan pakaian dan makanan yang terbaik kepadanya.” (HR Tirmidzi)

Dan merupakan barometer kebaikan lelaki sejati adalah dilihat dari bagaimana ia memperlakukan istrinya.

((أكْمَلُ المُؤمِنِينَ إيمَانًا أحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وخِيَارُكُمْ خياركم لِنِسَائِهِمْ))

“Mukmin yang sempurna imannya adalah ia yang paling bagus akhlaqnya. Dan orang yang paling terbaik diantara kalian adalah dia yang paling terbaik kepada istrinya.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat.

 ((اسْتَوْصُوا بالنِّساءِ خَيْرًا؛ فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلعٍ، وَإنَّ أعْوَجَ مَا في الضِّلَعِ أعْلاهُ، فَإنْ ذَهَبتَ تُقيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإنْ تَرَكْتَهُ، لَمْ يَزَلْ أعْوجَ، فَاسْتَوصُوا بالنِّساءِ))

“Berlaku baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya ia diciptakan dari tulang rusuk, dan sungguh bagian yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau berupaya meluruskannya, engkau mematahkannya. Dan apabila engkau membiarkannya, maka begitulah keadaannya bengkok. Maka berlaku baiklah kepada wanita.” (HR. Bukhari,-Muslim)

Dan ingatlah bahwa istrimu bukanlah bidadari yang lepas dari kekhilafan dan kesalahan. Namun bukan berarti menjadi alasan untuk membenci dan memusuhinya.

لا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Tidaklah pantas seorang suami membenci istrinya. Jika memang ada perangai yang tidak disukai darinya, maka pasti ada perangai lain yang disenangi darinya.” (HR. Muslim)

{ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰۤ أَن تَكۡرَهُوا۟ شَیۡـࣰٔا وَیَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِیهِ خَیۡرࣰا كَثِیرࣰا }

“Dan pergauilah istri dengan cara yang terbaik. Jikapun kamu tidak menyukainya, maka boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah jadikan pada sesuatu tersebut kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa : 19)

Dan kemudian untukmu wahai istri!

Ketika Ayahanda sudah menyerahkanmu kepada suamimu, maka ketahuilah bahwa kini yang menjadi syurga dan nerakamu adalah suamimu. Nabi shallallahu ‘alaih wasallam bersabda kepada seorang wanita,

فانظري أين أنت منه، فإنما هو جنتك ونارك

“Maka perhatikanlah! Di mana posisimu dari suamimu. Karena sesungguhnya ia adalah surgamu dan nerakamu.” (HR. Ahmad)

Menjadi sebabmu masuk surga ketika suami meridhoimu. Dan menjadi sebabmu masuk neraka ketika suami murka kepadamu.

Dan ingatlah wahai istri, bahwa engkau tidak dianggap memenuhi hak Allah sehingga engkau memenuhi hak suamimu.

 ( لو كنت أمرا أحدا أن يسجد لغير الله لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها،

والذي نفس محمد بيده، لا تؤدي المرأة حق ربها حتى تؤدي حق زوجها )

“Kalau sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, sungguh aku pasti perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya.

Dan demi Dzat yang mana jiwa Muhammad berada di genggamnya, tidaklah seorang istri memenuhi hak Rabbnya, sehingga ia memenuhi hak suaminya.” (HR. Ibnu Majah)

Di antara hak suami yang paling urgen adalah memberikan pelayanan kepadanya setiap saat kapan pun dia butuh. Karena hal ini dapat menyelamatkan suami dari dari pelampiasan hasrat ke jalan yang haram.

((إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امرَأتَهُ إِلَى فرَاشِهِ فَلَمْ تَأتِهِ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا المَلائِكَةُ حَتَّى تُصْبحَ)).

“Apabila suami mengajak istrinya ke ranjang, kemudian istri tidak mau. Suami pun bermalam dalam keadaan marah kepadanya. Maka Malaikat melaknati sang istri hingga waktu pagi.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat yang lain,

((إلا كَانَ الَّذِي في السَّمَاء سَاخطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنها)).

“Yang ada di langit murka kepadanya, sehingga suaminya kembali ridho.”

Maka kesampingkanlah segala kepentingan apa pun apabila suami sudah mengajak untuk berhubungan intim.

((إِذَا دَعَا الرَّجُلُ زَوْجَتهُ لحَاجَتِهِ فَلْتَأتِهِ وَإنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُور))

“Apabila suami mengajak istrinya untuk memenuhi kebutuhan (hasratnya), maka hendaklah ia memenuhinya, meskipun ia sedang berada di dapur (masak).” (HR. Tirmidzi, Nasa’i)

Dan wahai istri, janganlah pernah terbetik ada keinginan atau bahkan sengaja ingin menyakiti hati suami. Sebab istrinya dari kalangan bidadari akan mendoakan keburukan atasmu.

( لا تؤذي امرأة زوجها في الدنيا إلا قالت زوجته من الحور العين، لا تؤذيه قاتلك الله فإنما هو عندك دخيل يوشك أن يفارقك إلينا )

“Tidaklah seorang istri di dunia ini menyakiti suaminya, melainkan istrinya dari kalangan bidadari berkata, ‘janganlah engkau sakiti ia, semoga Allah memerangimu, sesungguhnya ia hanyalah persinggahan yang akan segera meninggalkanmu (dan datang) ke kami’. ” (HR. Tirmidzi)

Maka jadilah wanita ahli surga yang disebut oleh Nabi ketika beliau bersabda,

 : ( ألا أخبركم بنسائكم في الجنة؟!

ودود ولود إذا غضبت أو أسئ إليها أو غضب زوجها قالت: هذه يدي في يدك لا أكتحل بغمض – أي لا أنام – حتى ترضي )

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang wanita ahli surga. Yaitu ia yang penyayang lagi subur (rahimnya), yang apabila ia marah atau tersakiti atau suaminya marah, ia berkata (kepada suaminya), ‘ini tanganku di tanganmu, aku tidak akan bisa terpejam (tidur) sehingga engkau ridho (kepadaku)’.” (HR. Thabrani)

Terakhir wahai istri,

Jadilah perhiasan, simpanan harta terbaik untuk suamimu, yaitu dengan menjadikan dirimu sebagai wanita yang shalihah,

 ((الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا المَرْأَةُ الصَّالِحَةُ))

“Dunia adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang shalihah.” (HR. Muslim)

Imam Al Qurthubi rahimahullah menerangkan bahwa istri yang shalihah ditafsirkan dalam riwayat lain dengan sifat,

((التي إذا نظر إليها سرته، وإذا أمرها أطاعته، وإذا غاب عنها حفظته في نفسِهَا وماله))

“(Istri yang shalihah) adalah ia yang apabila suami memandangnya, ia menyenangkan, dan apabila suami memerintahnya, ia menaatinya, dan apabila suami sedang pergi, ia menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya.”

Suami-istri keduanya saling memiliki hak dan kewajiban. Semakin berusaha memenuhi satu sama lain akan hak dan kewajiban tersebut, maka semakin terciptalah kerukunan dalam rumahtangga. Sebaliknya apabila satu sama lain saling mengabaikan hak dan kewajiban, maka rumahtangga ibarat telur yang berada di atas tanduk.

Bonus sebagai penutup, wahai suami-istri!

Jangan pernah lupa ketika memadu kasih, bahwa di sana ada doa yang harus dibaca.

باسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطانَ، وجَنِّبِ الشَّيْطانَ ما رَزَقْتَنا

“Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah aku dari syaithan, dan jauhkanlah syaithan dari apa yang Engkau rizkikan untuk kami (berupa anak keturunan).” (HR. Bukhari-Muslim)

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila seorang suami mendatangi istrinya membaca doa ini, lalu Allah takdirkan dari keduanya lahir anak keturunan. Maka anak keturunannya tidak akan diganggu oleh syaithan.

Allah akan beri penjagaan sehingga anak keturunannya tidak mudah terhasut dan terbujuk rayu akan bisikan-bisikan buruk syaithan.

Demikian, semoga bermanfaat.

Barakallahu fikum.

 

Ustadz Izzatullah Abduh, M.Pd

Kepsek INIS

Kiat – kiat agar mendapatkan anak – anak yang shalih dan shalihah – Oleh Ustadz Khalif Muhamad,S.Pd

Diantara amanah yang sangat besar dari Allah ta’ala kepada setiap orang tua agar mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, tentu setiap dari kita pasti menginginkan anak-anak yang shalih dan shalihah.

maka hendaknya bagi setiap dari kita untuk mengambil sebab-sebab yang telah syari’at tentukan sehingga kita dapat mendidik dan mencetak anak-anak yang shalih dan shalihah agar mereka menjadi anak yang bermanfaat untuk kita di dunia terlebih nanti di akhirat, berikut ini diantara kiat-kiat agar mendapatkan anak – anak yang shalih dan shalihah.

1. Berdo’a memohon kepada Allah ta’ala agar dikaruniakan anak yang shalih dan shalihah,  hendaknya bagi setiap orang tua memohon agar Allah ta’ala memberikan karunia berupa keturunan yang shalih dan shalihah, juga kemudian setelah Allah ta’ala telah memberi rezeki berupa anak keturunan kita senantiasa mendoakan mereka agar diberikan hidayah, dan keistiqomahan di atas hidayah. Dan diantara karunia terbesar yang Allah ta’ala berikan kepada kita adalah dengan Allah ta’ala menjadikan doa kedua orang tua sebagai doa yang mustajab untuk anak-anaknya, Rasul Shalallahu alaihi wa salam bersabda:

أنه قال : ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُستجابات لا شَكَّ فِيهِنَّ: دعوة الوَالد، دعوة المسافر، ودعوة المظلوم

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Sumber https://rumaysho.com/1711-doa-orang-tua-pada-anaknya-doa-mustajab.html

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Sumber https://rumaysho.com/1711-doa-orang-tua-pada-anaknya-doa-mustajab.html

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Sumber https://rumaysho.com/1711-doa-orang-tua-pada-anaknya-doa-mustajab.html

  “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan). 

diantara doa Nabiyullah Ibrohim Alaihi salam:

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

Referensi: https://www.bayan.id/quran/37-100/

artinya: Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.
(QS. As-Saffat: 100) .
رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ
Artinya:” Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”. (QS. Ibrohim : 40)
2. Pentingnya memilih istri yang shalihah, banyak yang mengira bahwa agar bisa mendapatkan anak-anak yang shalih dan shalihah setelah dilahirkannya sang anak, padahal ada hal yang lebih jauh lebih penting dari hal ini, yaitu dengan memilihkan calon pasangan yang shalih dan shalihah juga, maka hendaknya bagi setiap calon ayah agar dia mencari calon untuk ibu dari anak-anaknya seorang wanita muslimah yang shalihah, dan bertaqwa kepada Allah ta’ala, karena ini akan sangat berpengaruh pada anak-anaknya kelak, karena dengan dia memilih wanita yang shalihah ini maka anak-anaknya akan dididik dan dibesarkan dengan benar sesuai dengan syariat dan akhlaq perangai Islami. oleh karena itu Rasul Shalallahu alaihi wa salam sudah mewanti-wanti kita sejak dulu, beliau Shalallahu alaihi wa salambersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
Artinya:”Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung”. (HR. Bukhari Muslim).
3. Berbakti kepada orang tua kita, karena Al jazaa min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan perbuatan).
4. Memberikan nama yang baik untuk anak kita, diantara hal penting yang perlu diperhatikan adalah memberikan nama untuk anak-anak kita, dan sebaik-baik nama untuk anak laki-laki seperti sabda Rasul Shalallahu alaihi wa salam adalah Abdullah, Abdurrahim.hal ini banyak dari orang tua dari kalangan kaum muslimin malah meremehkannya, bahkan sebagian dari mereka menamakan anak-anaknya seperti nama-nama orang kafir, nama pemain sepak bola, grub band dan lainnya.
5. Mendidik dan mengajarkan anak-anak kita sesuai dengan syariat, yang telah Allah dan Rasulnya tetapkan, Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Ali bin Abi Thalib -Rhadiallahu anhu- berkata dalam ayat iniartinya ajarilah mereka adab dan ilmu agama
” أدبوهم وعلموهم”
6.Menjadi contoh teladan serta panutan yang baik bagi anak-anaknya, karena seorang anak otomatis melihat dan mengikuti sikap dari kedua orang tuanya. contohnya, seorang ayah memerintahkan anak laki-lakinya untuk senantiasa sholat di masjid, sedangkan dia saja hanya seminggu sekali ke masjid, tentu sang anak akan kurang nasihat dari ayahnya tersebut”.
7. Memberikan makanan, pakaian dari harta yang halal, karena ini akan mempengaruhi ketaatan dan keshalihan seorang anak.
8. Menjauhkan mereka dari teman-teman yang buruk, dengan kita memilihkan untuk mereka lingkungan yang baik, sekolah yang baik, ada sebuah ungkapan arab “Al Jaaru qobla Ad Daaru” artinya “memilih tetangga yang baik sebelum memilih tempat tinggal”.
9. Membawa dan membiasakan mereka untuk datang ke majelis orang-orang berilmu dan zuhud, agar mereka bisa mengamati dan mengambil pelajaran dari mereka.
10. Membawa anak kita kepada orang-orang yang baik agar mereka mendoakan kebaikan untuk anak kita, dengan tetap meyakini bahwasannya hidayah hanya milik Allah ta’ala, hal ini sebagai mana yang dilakukan ibunda seorang dari ulama besar kota Bashrah yaitu Imam Hasan Al-Bashri, “Khairah ibunda Hasan datang dengan bayi di gendongannya. Ketika Ummu Salamah memandangnya, beliau langsung menyukai bayi itu karena wajahnya yang tampan dan cerah, menarik hati siapapun yang memandangnya. Ummu Salamah bertanya kepada budaknya: “Sudahkah engkau memberikan nama untuknya wahai Khairah?” Khairah menjawab: “Belum, aku ingin Anda-lah yang memilihkan nama untuknya sesuka Anda.” Ummu Salamah berkata, “Kita akan memberi nama yang diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Hasan.” Lalu beliau mengangkat tangannya untuk mendoakan kebaikan bagi sang bayi.
11. Membaca doa sebelum berhubungan badan, sebagimana doa yang Nabi Shalallahu alaihi wa salam ajarkan,
بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
artinya: “Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami.” Wallahu ta’ala A’lam wa Ahkam.
Diringkas dari kajian kitab Tarbiyyatul awlaad
Sabtu, 29 Muharram 1444 H
Pendidikan Terbaik adalah Pendidikan yang Bisa Menumbuhkan Fitroh-fitroh dengan Sempurna

Pendidikan Terbaik adalah Pendidikan yang Bisa Menumbuhkan Fitroh-fitroh dengan Sempurna

Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat terbaik dan sempurna dalam menciptakan, sehingga tidak ada kekurangan dan ketidakcocokan pada penciptaan Allah.

Allah azza wa jalla berfirman :

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Surat Al Mukminun : 14)

Semua yang ada dimuka bumi telah Allah ciptakan dengan hikmah dan tujuan yang sangat mulia dan tidak mungkin ada penciptaan yang sia-sia dan percuma.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau.” (Surat Ali Imron : 191)

Allah azza wa jalla juga berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Surat Al Mukminun : 115)

Semua yang terjadi di muka bumi telah Allah atur sedemikian rapinya, tidak ada perkara yang terjadi karena tiba-tiba, maka tidak ada kebetulan di alam semesta.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Surat Yunus : 61)

Maka anda ada, anda menjadi suami atau istri, anda menjadi orang tua, anda menjadi bagian dari masyarakat, dan anda hidup di dunia pasti memiliki tujuan dan pasti perjalanannya telah diatur oleh Allah ta’ala dan bukan sebuah kebetulan.

Mengapa Kita Ada?

Seseorang yang mengetahui apa alasan dan tujuan ia harus ada di muka bumi pasti ia akan mengetahui arah dan jalan hidupnya. Gambarannya bagaikan musafir yang memiliki rute pasti untuk sampai ke tujuannya.

Maka siapa yang tidak mengetahui tujuan dan misi hidupnya pasti ia akan tersesat dan salah jalan.

Allah menciptakan kita untuk 2 tujuan besar yaitu beribadah kepada Allah dan menjadi kholifah di bumi.

Dan ketika Allah menciptakan manusia untuk misi ibadah dan kholifah, Allah tidak akan lalai namun Allah juga telah menyiapkan perangkat dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Allah telah menciptakan manusia di atas fitroh dan karakter yang suci sebagai sarana mencapai misi penciptaan.

Dan karakter manusia terbagi menjadi 2 macam:

  1. Karakter moral yang akan mendorong manusia untuk beribadah. Yaitu berupa iman, jujur, amanah, Cinta kepada Allah, dll.
  2. Karakter kinerja yang akan mendorong manusia untuk menjadi kholifah di muka bumi. Yaitu berupa: semangat beraktivitas, tangguh, berjuang, pantang menyerah, dll. Kedua karakter ini harus terkumpul ada dalam diri seorang hamba sehingga akan melahirkan pribadi yang tangguh dan amanah dalam beraktivitas.

Kita tidak menghendaki pribadi muslim yang baik tapi malas, atau pribadi yang bekerja keras tapi culas.

Oleh sebab itu Allah sebutkan bahwa kesempurnaan manusia ketika memiliki dua misi ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

“karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Surat Al Qoshos : 26)

Allah subhanahu wa ta’ala juga menceritkan ucapan Nabi Yusuf ‘alaihissalam

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. (Surat Yusuf : 55)

Ibadah Kepada Allah

Allah menciptakan kita untuk menghambakan diri beribadah kepadaNya. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku” (Surat Adz-Dzariyat : 56)

Dan setiap manusia akan datang di hari kiamat untuk menjadi hamba. Allah azza wa jalla berfirman:

إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (Surat Maryam : 93)

Sifat kehambaaan manusia kepada Allah tidak pernah bisa dilepaskan dari diri seorang pun. Bahkan semakin kuat sifat penghambaan seseorang kepada Allah maka semakin mulia dan sempurna sifatnya.

Oleh sebab itu Allah telah menjuluki Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam dengan sifat hamba pada empat posisi yang paling mulia, yaitu:

  1. Ketika isro’ dan mi’roj
  2. Ketika mendapatkan Wahyu
  3. Ketika berdakwah
  4. Ketika menantang para pengingkar Al Qur’an. Oleh sebab itu jadikanlah semua nafas dan pergerakan diri kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Surat Al An’am : 162)

Kholifah di Muka Bumi

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.(Surat al Baqoroh : 30)

Allah azza wa jalla juga berfirman:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya (Surat Hud : 61)

Allah menciptakan bumi dan semua isi di dalamnya untuk manusia. sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu (Surat al Baqarah : 29)

Ketika bumi yang Allah ciptakan harus ada makhluq yang memakmurkannya, maka Allah ciptakan manusia dari tanah supaya sifat tanah terus menempel dalam diri pemakmur bumi.

Karena tugas memakmurkan (kholifah) bumi adalah misi yang besar maka Allah menginstal semua perangkat dan sarana untuk mencapai tugas tersebut.  Maka Allah memberikan dalam diri setiap manusia fitroh (karakter) kinerja.

Untuk menjadi khalifah di bumi maka Allah membekali 2 perkara sebagai penunjang yaitu syahwat dan akal. Syahwat sebagai motor penggerak roda kehidupan dunia, sedangkan akal sebagai rem dan tali kekang syahwat supaya tidak menjerumuskan kepada dosa dan maksiat.

Bumi memiliki karakter berbeda dengan langit. Allah menciptakan malaikat sebagai pemakmur langit, akan tetapi malaikat tidak bisa memakmurkan bumi karna tidak punya syahwat. Binatang walaupun punya syahwat juga tidak bisa memakmurkan bumi karena tidak memiliki akal.

Maka dunia harus kita taklukkan walaupun tidak harus kita miliki. Dunia harus tunduk di genggaman tangan kekuasan kita dan jangan sampai dunia menguasai diri kita. Dunia adalah fitnah bagi orang yang menjadi budak dunia, akan tetapi dunia bisa menjadi sarana masuk surga bagi siapa yang bisa menaklukannya.

Marilah kita menjadi kholifah penakluk dunia.

Pendidikan Terbaik

Pendidikan yang paling baik adalah sebuah pendidikan yang bisa membawa anak kita kepada tujuan mereka diciptakan yaitu ibadah dan kholifah.

Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang bisa menumbuhkan fitroh-fitroh dengan sempurna.

Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang bisa mengantarkan manusia kepada peradaban – peradaban yang mulia.

Marilah kita jadikan rumah kita, sekolah kita, dan tempat beraktivitas anak kita sebagai sebagai ruangan pendidikan anak kita dan tempat untuk mempersiapkan generasi – generasi unggul yang siap untuk menggapai kejayaan di masa depan.

 

Tulisan Ust. Abul Abbas Thobroni (Mudir Pon-Pes Nidaus Salam. Pengasuh Pendidikan Berbasis Karakter & Fitroh SD SABA Al Madinah)

Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter

Karakter merupakan bawaan sejak lahir yang disebut dengan istilah al fitrah dan telah dikaruniakan oleh Allah ta’ala kepada setiap anak manusia. Karakter perlu ditumbuhkan sehingga menjadi bekal untuk menunaikan tugas beribadah kepada Allah ta’ala serta menjadi khalifah di muka bumi, sesuai dengan tujuan penciptaan manusia di muka bumi.

Oleh karena itu dasar pendidikan karakter merujuk pada pendidikan fitrah manusia. Setiap anak yang lahir tidak dalam keadaan kosong, tetapi sudah dalam keadaan fitrah yaitu Islam dan telah diisi dengan karakter-karakter atau kecintaan kepada kebaikan-kebaikan oleh Allah ta’ala.

Terdapat 4 karakter atau fitrah yang sudah ada pada diri anak sejak lahir yaitu:

  1. Karakter iman (fitrah keimanan)
  2. Karakter belajar (fitrah belajar)
  3. Karakter bakat (fitrah bakat)
  4. Karakter perkembangan (fitrah perkembangan)

Mendidik anak sesuai fitrah diibaratkan menumbuhkan benih agar menjadi pohon yang besar, dijaga, disiram, dipupuk, dan dirawat. Tidaklah dibentuk dengan sekehendak hati melainkan diperlakukan sesuai perkembangannya sehingga hasilnya dapat dilihat setalh sekian lama menjadi pohon dewasa yang kokoh, rimbun, berbuah lebat, dan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya terhadap lingkungan sekitar.

Pendidikan bukanlah menjejalkan pengetahuan-pengatahuan sebanyak mungkin kepada anak. Tetapi pendidikan sejatinya adalah menumbuhkan dan membangkitkan potensi-potensi karakter yang sudah tertanam dalam diri anak sejak lahir agar mencapai peran peradaban dengan semulia-mulianya akhlaq.

Dapat disimpulkan pendidikan karakter adalah pendidikan yang menjaga dan menumbuhkan karakter-karakter yang sudah ada pada diri anak menggunakan metode pembelajaran yang telah diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu bersumber dari Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shohih. Dengan metode pembelajaran pendidikan karakter yaitu menumbuhkan karakter iman, karakter belajar, dan karakter bakat, diselaraskan dengan karakter perkembangan anak.

Referensi: Buku Pendidikan Karakter Nabawiyah (karya Ustadz Abdul Kholiq)

Setiap Anak Terlahir Unik

Setiap Anak Terlahir Unik

Abi dan umi tahukah bahwa setiap anak lahir dalam keadaan unik? Tidak ada manusia yang sama di muka bumi. Maka dapat dikatakan bahwa setiap anak adalah very special limited edition. Sehingga yang perlu dilakukan oleh abi dan umi adalah menumbuhkan karakter sesuai fase usianya.

Anak pada fase usia 0 hingga 7 tahun merupakan fase thufulah (kanak-kanak). Pada fase kanak-kanak ini anak akan merasa dirinya yang paling penting, paling hebat, dan ingin menjadi pusat perhatian semua orang. Hal ini disebut dengan egosentris. Oleh karena itu pada fase ini sangat penting bagi orang tua untuk menguatkan aqidah anak, menumbuhkan rasa kasih sayang kepada anak, menghargai hasil karya anak, serta menjadikan rasa aman kepada anak.

Sehingga pendidikan yang tepat untuk fase thufulah ini adalah penanaman karakter iman serta menumbuhkan tauhid nya.Imajinasi dan abtraksi anak pada fase ini berada di puncaknya, sehingga imajinasi tentang Allah, Rasul, kebajikan dan kebaikan sangat mudah dibangkitkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan dalam menumbuhkan tauhid pada diri anak selalu dengan membuat hati anak riang gembira melalui berbagai permainan.

Tetapi bagaimana dengan kondisi saat ini? Telah banyak orang tua yang menitipkan pendidikan anak pada fase kanak-kanak kepada sebuah lembaga pendidikan dimana para pendidiknya lebih banyak memberi tekanan melalui beban kongnitif seperti membaca, menulis, dan berhitung.

Penekanan pembelajaran anak pada usia 0 – 7 tahun adalah penekanan pada permainan imajinasi, menstimulasi sensorik, serta motorik anak. Hingga anak berusia 7 tahun, anak belum memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Peran pendidik dan orang tua adalah sebagai fasilitator yang mengawasi dan mendokuntasikan anaknya bermain bebas dan spontan.

Referensi: Buku Pendidikan Karakter Nabawiyah (karya Ustadz Abdul Kholiq)