Dengan Hati & Ilmu, Kita Bersama Bersinergi Mendidik Anak-Anak

Taujihat ini disampaikan oleh Kepsek INIS saat kegiatan POTS  Sabtu 26 Juli 2025

Semoga bermanfaat, barakallahu fikum

 

  • Sudut Pandang yang Optimis

Di tengah arus zaman yang sering kita anggap begitu mengkhawatirkan—dengan berbagai tantangan moral, teknologi, hingga krisis akhlak—mari kita tetap jaga sudut pandang yang indah dan optimis terhadap kehidupan dan terhadap anak-anak kita.

Ada sebuah pepatah inspiratif yang mengatakan:

> “Jika dunia ini gelap, jangan hanya mengutuk kegelapan. Nyalakanlah lilin, barangkali cahayanya bisa menuntun orang lain.”

Artinya, daripada terus menerus mengeluhkan keadaan, lebih baik kita mulai dari diri sendiri untuk menjadi cahaya, menjadi inspirasi, menjadi penguat harapan.

 

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَٰهُ وَجَعَلْنَا لَهُۥ نُورًا يَمْشِى بِهِۦ فِى ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَٰفِرِينَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya) kemudian dia (hatinya) Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am : 122)

 

Sikap positif ini pula yang diajarkan oleh Nabi Isa `alayhissalām. Disebutkan dalam kisah israiliyat, bahwa: Nabi Isa `alayhissalām suatu hari berjalan bersama para pengikutnya (al-ḥawāriyyūn), lalu mereka melihat bangkai seekor kambing.

Para pengikutnya berkata: “Betapa busuk dan jeleknya bangkai ini.”

Tapi Nabi Isa berkata:

“انظروا إلى بياض أسنانه، ما أجملها!”

“Lihatlah betapa putih dan indahnya giginya!”

 

Ketika para pengikutnya heran, beliau menjawab:

“إنما ينظر كل إنسان إلى الأشياء بعين قلبه.”

“Seseorang akan memandang sesuatu sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya.”

 

Apa maknanya?

Bahwa sudut pandang yang positif itu lahir dari hati yang bersih. Jika hati kita penuh prasangka baik, maka kita akan menemukan kebaikan di balik keadaan yang paling buruk sekalipun.

Dalam Al-Qur’an pun Allah menyuruh kita untuk selalu melihat sesuatu dengan harapan dan husnudzan:

قُلْ يَا عِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah…” (QS. Az-Zumar: 53)

 

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

“Optimisme (yaitu) kata-kata yang baik membuatku kagum.” (HR. Bukhari)

 

Jadi, mari kita sebagai orang tua tetap memelihara sudut pandang yang optimis, yakin bahwa anak-anak kita masih berproses, masih belajar, dan masih bisa tumbuh menjadi lebih baik, insyaAllah.

 

  • Luruskan Niat, Ikhlaskan Hati dalam Mendidik Anak

Pentingnya meluruskan kembali niat dan menata hati kita dalam menyekolahkan anak-anak kita, khususnya di sekolah Islam ini. Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apa niatku sebenarnya menyekolahkan anak di sini?”

Apakah karena tren? Apakah karena ingin gengsi? Ataukah memang sungguh-sungguh karena Allah?

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Setiap orang hanyalah akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Maka niat kita harus ikhlas karena Allah, karena ingin meraih keridhaan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, bukan hanya dunia. Kita ingin anak-anak kita mengenal Allah, mengenal Rasul-Nya ﷺ, dan mengenal agamanya dengan benar.

Karena tiga pengetahuan inilah fondasi utama hidup seorang muslim, yang kelak akan menjadi pertanyaan pertama di alam kuburnya:

مَنْ رَبُّكَ؟ مَا دِينُكَ؟ مَنْ نَبِيُّكَ؟

“Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?” (HR. Ahmad, Abu Dawud)

 

Maka, saat kita menyekolahkan anak di tempat yang mengajarkan ilmu agama, sesungguhnya kita sedang membekali mereka jawaban untuk kehidupan setelah mati. Dan itu adalah bentuk cinta sejati dari orang tua. Karena itu, keikhlasan adalah kunci utama. Tanpa keikhlasan, amal sebesar apapun tidak akan bernilai di sisi Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan (mengikhlaskan) ketaatan kepada-Nya dalam agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

 

Menuntut ilmu adalah ibadah besar. Dan ketika anak kita menuntut ilmu agama, lalu kita sebagai orang tua yang memfasilitasi, kita ikut kebagian pahalanya. Maka ikhlaskan perjuangan ini.

Percayalah…

Jika niat kita sudah benar dan lurus karena Allah, maka pertolongan Allah akan datang dari arah yang tidak disangka:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)

 

Maka mari kita kembali menata hati, mengikhlaskan niat, dan memohon kepada Allah agar anak-anak kita menjadi pewaris ilmu, pembela agama, dan penyejuk mata di dunia dan akhirat.

 

 

  • Anak adalah Nikmat dan Ujian

Mari sejenak kita merenung dan bersyukur atas anugerah besar yang Allah titipkan kepada kita, yaitu anak-anak.

Setiap pasangan suami istri pasti mendambakan hadirnya buah hati. Dan ketika anak itu lahir, seharusnya yang pertama kali kita ucapkan adalah pujian kepada Allah, karena merekalah perhiasan hidup, kebahagiaan dunia, dan ladang amal kita. Allah Ta’ala berfirman:

 

ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi: 46)

 

Bahkan para Nabi pun merindukan kehadiran anak. Lihatlah doa Nabi Zakariya `alayhissalām:

 

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَاءِ

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)

 

Juga doa Nabi Ibrahim `alayhissalām:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang yang shalih.”

(QS. Ash-Shaffat: 100)

 

 

Namun kita juga tidak boleh lalai, sebab anak bukan hanya anugerah, tapi juga ujian. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengingatkan:

 

إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ

“Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah (ujian).” (QS. At-Taghabun: 15)

 

Apa maknanya? Bahwa setiap anak adalah amanah dan tanggung jawab. Kita sebagai orang tua wajib mendidik mereka di atas agama Allah, bukan sekadar membesarkan secara fisik.

Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًۭا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

(QS. At-Tahrim: 6)

 

Jangan sampai kita sibuk menyalahkan zaman, lingkungan, gadget, atau sekolah, sementara kita lupa bercermin: sudahkah kita membangun fondasi iman yang kokoh di rumah?

Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Hadits ini sangat tegas. Orang tua adalah aktor utama dalam membentuk karakter dan keimanan anak. Maka mari kita jujur kepada diri sendiri:

Sudahkah kita hadir sebagai guru iman pertama bagi anak-anak kita?

Sudahkah kita menjadi teladan dalam shalat, dalam akhlak, dalam zikir, dalam kesabaran?

 

Jangan tunggu waktu yang terlambat. Hari ini kita bisa mulai membangun ulang fondasi itu.

 

 

  • Kolaborasi antara Rumah dan Sekolah

Pendidikan anak adalah tugas besar yang tidak bisa dilakukan sendirian. Maka kami di Imam Nawawi Islamic School hadir bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi insyaallah sebagai mitra terbaik orang tua dalam mengantarkan anak-anak kita menjadi generasi sholih dan sholihah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Kita ingin menjadi partner yang saling mendukung, saling menguatkan, saling bekerja sama, sebagaimana firman Allah:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

 

Karena itu, sinergi antara rumah dan sekolah sangatlah penting. Anak tidak hanya dibentuk oleh sekolah, tapi juga oleh lingkungan rumah, terutama oleh ayah dan ibunya. Maka mari kita bangun komunikasi yang aktif, positif, dan penuh semangat kolaborasi demi masa depan anak-anak kita.

 

Mari kita bercermin dari kisah inspiratif Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin besar yang keadilannya dikenal sepanjang sejarah.

Dikisahkan, saat beliau masih kecil, ia dititipkan oleh ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan, kepada seorang guru yang bernama Shalih bin Kaisan, seorang ulama dan pendidik ternama di Madinah.

Suatu saat, gurunya melaporkan kepada ayah Umar bahwa Umar bin Abdul Aziz mulai terlambat menghadiri shalat berjamaah. Ketika ditanya alasannya, sang guru menjelaskan bahwa Umar terlalu lama berdiri di depan cermin untuk menyisir rambut dan memperhatikan penampilannya.

 

Mendengar itu, sang ayah tidak tinggal diam. Beliau segera mengirimkan tukang cukur khusus dari Mesir untuk mencukur habis rambut putranya. Tujuannya bukan untuk mempermalukan, tetapi sebagai bentuk pendidikan langsung dari ayah kepada anak: bahwa ketaatan lebih utama dari penampilan.

 

Subhanallah.

Dari kisah ini kita belajar, bahwa pendidikan efektif terjadi saat sekolah dan rumah saling terhubung. Tidak saling menyalahkan, tapi saling mengingatkan. Tidak saling melepaskan, tapi saling memegang erat tangan dalam mendidik amanah dari Allah: yaitu anak-anak kita.

Karena anak-anak kita bukan hanya milik kita hari ini, tapi mereka adalah calon pemimpin, calon mujahid, calon ahli surga, insyaAllah.

 

 

  • Asas Pendidikan Adalah Kasih Sayang dan Kelembutan

Asas utama pendidikan adalah kasih sayang (rahmah) dan kelembutan (rifq), sebelum ilmu itu diajarkan, sebelum disiplin itu ditegakkan, maka rahmat harus dihadirkan terlebih dahulu.

 

Allah ﷻ berfirman tentang Nabi Khidr alayhissalām saat mendidik Nabi Musa alayhissalām:

فَوَجَدَا عَبْدًۭا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَـٰهُ رَحْمَةًۭ مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَـٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًۭا

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”

(QS. Al-Kahfi: 65)

 

Perhatikan: rahmat datang sebelum ilmu. Maka orang tua dan guru tidak boleh terburu-buru dalam menghukum atau mencela. Justru buka dulu hati kita untuk memaafkan, memeluk, membimbing.

 

Nabi ﷺ memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Suatu hari, seseorang datang bertanya:

“Wahai Rasulullah, sampai berapa kali aku harus memaafkan pembantuku?”

Lalu Nabi menjawab:

“اعْفُ عَنْهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً”

“Maafkanlah dia dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali.” (HR. Abu Dawud)

 

Jika kepada pembantu saja kita diperintahkan untuk memaklumi dan memaafkan hingga 70 kali sehari, maka bagaimana lagi kepada anak-anak kita sendiri—yang masih polos, masih belajar membedakan benar dan salah, halal dan haram?

 

Nabi ﷺ juga pernah menegur Abu Mas’ud al-Anshari ketika beliau pernah memukul budaknya:

اللَّهُ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَيْهِ

“Allah lebih mampu menghukummu daripada kemampuanmu menghukum dia.” (HR. Muslim)

 

Namun, kasih sayang tidak berarti mengabaikan ketegasan. Nabi ﷺ juga mengajarkan bahwa ada masa mendidik dengan kebiasaan dan ada masa mendidik dengan ketegasan.

Beliau bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat saat mereka berumur tujuh tahun. Dan pukul-lah mereka (dengan pukulan mendidik, bukan menyakitkan) jika mereka tidak shalat saat berumur sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud)

 

Ini menunjukkan bahwa pendidikan anak bukan hanya pelukan dan nasihat, tapi juga ketegasan yang proporsional dan penuh hikmah.

 

Kemudian ketegasan dalam Hal yang Diharamkan

Kasih sayang memang pondasi dalam mendidik, tapi ketegasan dalam perkara haram juga merupakan bagian dari cinta sejati kepada anak-anak kita.

 

Nabi Muhammad ﷺ sendiri memberikan teladan luar biasa tentang ketegasan dalam menjaga anak-anak dari yang haram, bahkan kepada cucu beliau sendiri, yaitu Hasan atau Husain.

 

Suatu hari, salah satu cucu beliau memungut sebutir kurma, dan Nabi ﷺ khawatir bahwa kurma itu berasal dari harta zakat, yang haram bagi keluarga beliau. Maka Nabi ﷺ segera bertindak.

 

فَنَزَعَهَا مِنْ فِيهِ، وَقَالَ: أَمَا شَعَرْتَ أَنَّ آلَ مُحَمَّدٍ لَا يَأْكُلُونَ الصَّدَقَةَ؟

“Beliau langsung mengeluarkan kurma itu dari mulutnya, lalu berkata: Tidakkah kamu tahu bahwa keluarga Muhammad tidak boleh memakan sedekah?” (HR. Muslim)

 

Dalam riwayat lain disebutkan:

إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا وَهِيَ الصَّدَقَةُ

“Sesungguhnya aku tidak suka ia memakannya karena itu adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari)

 

Perhatikan… Nabi ﷺ tidak membiarkan, sekalipun itu hanya sebutir kurma dan dilakukan oleh anak kecil. Karena bagi beliau, mendidik sejak dini tentang halal-haram adalah kebaikan besar yang akan menjaga kemuliaan anak di masa depannya.

 

Maka kita sebagai orang tua pun harus belajar dari ketegasan ini:

Jika anak mulai melakukan hal-hal yang mendekati keharaman, maka kita harus segera bertindak.

Kita jelaskan dengan tegas namun bijaksana, bahwa ini haram karena Allah mengharamkannya, dan Rasulullah ﷺ juga melarangnya.

Kita tanamkan dalam hati mereka bahwa ada batasan dalam Islam yang harus dihormati.

 

Karena anak-anak yang tahu mana halal mana haram, insyaAllah akan tumbuh menjadi anak-anak yang punya rasa takut kepada Allah dan menjaga kehormatan dirinya.

 

Maka, mari kita bangun rumah dan sekolah kita dengan asas:

Kasih sayang sebelum kemarahan,

Kelembutan sebelum ketegasan,

Dan ketegasan yang lahir dari cinta, bukan amarah.

 

InsyaAllah dengan demikian, anak-anak kita akan tumbuh sebagai pribadi yang kuat, berakhlak mulia, dan tahu bahwa agama ini bukan tekanan, tapi petunjuk hidup yang penuh rahmat.

 

Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd

Kepsek INIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *