Nak, Ayo Menjadi Shalih Bersama-Sama

Menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah, namun bukan pula hal yang sulit. Karena sebagai umat Islam kita telah diberi petunjuk dan tuntunan oleh Allah subhanahu wata’ala dan juga Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Tinggal bagaimana kita mempelajarinya, kemudian mengaplikasikannya dan berdo’a agar istiqamah di atas petunjuk dan tuntunan tsb.

Setiap orangtua tentu sangat menginginkan keshalihan dari anak-anaknya. Dan menginginkan do’a-do’a baik dari mereka. Sebab keshalihan dan do’a anak itu sangat bermanfa’at bagi orangtua, baik di masa hidupnya terlebih lagi setelah sepeninggalnya.

إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam (manusia) mati, maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal; sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfa’at, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Bahkan kelak ada orangtua yang dia merasa takjub dengan keadaan dirinya yang diangkat oleh Allah derajatnya di akhirat, hingga ia berkata,

يا ربِّ من أينَ لي هذا

“Wahai Rabbku, dari mana aku mendapatkan kemuliaan ini?!”

Kemudian dikatakan kepadanya,

باستغفارِ ولدِكَ لكَ

“Oleh sebab anakmu yang memohonkan ampun untukmu.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad)

Ini menunjukkan bahwa anak merupakan aset paling berharga yang dimiliki oleh orangtua, yang jika dididik dengan baik dan benar, maka ia bisa menjadi investasi yang akan memberikan keuntungan yang besar untuk kehidupan akhiratnya.

Terlebih di dalam Islam, Allah subhanahu wata’ala mewajibkan kepada para orangtua agar memenuhi hak-hak anaknya. Diantaranya adalah hak pendidikan.

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قُوۡۤا اَنۡفُسَكُمۡ وَاَهۡلِيۡكُمۡ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim : 6)

Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata menafsirkan ayat di atas, “ajarkanlah agama kepada keluarga dan ajarkanlah adab kepada mereka.”

Maka barangsiapa yang mendidik anaknya di atas pendidikan agama Islam, maka sejatinya ia telah menjaga anaknya dari siksa api neraka.

Namun disini, banyak orangtua yang lupa bahwa sejatinya pendidikan itu dimulai dari orangtua itu sendiri. Karena sebelum Allah memerintahkan agar kita menjaga keluarga dari siksa api neraka, terlebih dahulu Allah memerintahkan diri kita agar diri kita ini terjaga dari siksa api neraka. Artinya hendaknya setiap orangtua membekali diri dengan ilmu agama dan menjadikan diri sebagai role model, sebagai teladan dan cerminan keshalihan serta akhlaq mulia bagi anak-anaknya.

Sehingga tidak heran jika kemudian Syaikh As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan do’a,

وَاخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحۡمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِىۡ صَغِيۡرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra : 24)

Maksud ayat ini adalah bahwa orang tua mendapatkan do’a dari anak sesuai dengan bagaimana ia mendidik/menyayangi anaknya ketika kecil. Beliau berkata,

ﺟﺰﺍﺀ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﺑﻴﺘﻬﻤﺎ ﺇﻳﺎﻙ ﺻﻐﻴﺮﺍ . ﻭﻓﻬﻢ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺃﻧﻪ ﻛﻠﻤﺎ ﺍﺯﺩﺍﺩﺕ ﺍﻟﺘﺮﺑﻴﺔ ﺍﺯﺩﺍﺩ ﺍﻟﺤﻖ

“Ini adalah balasan atas pendidikan orang tua kepada anak ketika masih kecil. Dipahami dari ayat ini bahwa semakin bagus pendidikan maka hak (dari doa anak) semakin bagus pula.”

Maka sebaliknya, jika orangtua mengabaikan pendidikan agama untuk anaknya, maka niscaya ia akan menjadi orangtua yang merugi, yang tidak mendapatkan keshalihan dan do’a dari anaknya. Jangan sampai menjadi orangtua yang digugat oleh anak dalam sebuah sya’ir,

ﻳﺎﺃﺑﺖ, ﺇﻧﻚ ﻋﻘﻘﺘﻨﻲ ﺻﻐﻴﺮﺍ ﻓﻌﻘﻘﺘﻚ ﻛﺒﻴﺮﺍ , ﻭﺃﺿﻌﺘﻨﻲ ﻭﻟﺪﺍ ﻓﺄﺿﻌﺘﻚ ﺷﻴﺨﺎ

“Wahai Bapakku, sungguh engkau telah durhaka kepadaku di waktu aku kecil, maka aku durhaka kepadamu saat aku dewasa. Dan engkau mengabaikan aku di waktu aku kecil, maka aku mengabaikanmu ketika engkau sudah tua.”

 

Maka marilah kita mencontoh bagaimana orang-orang shalih terdahulu, mereka memulai keshalihan itu dari diri mereka sendiri, sebelum kemudian menjadi shalih bersama-sama di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Sebab mereka memahami, bahwa keshalihan orangtua itu membawa keberkahan bagi anak.

Sa’id bin Al Musayyib rahimahullah pernah berkata kepada anaknya,

لأزيدنَّ في صلاتي مِنْ أجلِك، رجاءَ أنْ أُحْفَظَ فيكَ

“Sungguh aku benar-benar ingin menambah shalatku. Dengan harapan agar Allah menjagamu.”

Dan Ibnul Mukandir rahimahullah berkata,

إن الله ليحفظُ بالرجل الصالح ولدَه وولدَ ولده والدويرات التي حوله فما يزالونَ في حفظ من الله وستر

“Sesungguhnya orang yang shalih, benar-benar Allah akan menjaga anaknya, cucunya dan anak keturunannya yang lain. Senantiasa mereka dalam penjagaan Allah (oleh sebab keshalihannya tsb).”

Hal ini sesuai dengan kabar dari Al-Qur’an ketika Allah menceritakan tentang 2 anak yang dijaga oleh Allah subhanahu wata’ala oleh sebab keshalihah bapak keduanya,

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

“Dan bapak keduanya adalah orang yang shalih.” (QS. Al-Kahfi : 82)

 

Kemudian di dalam masalah memberikan pendidikan. Maka bukanlah sekedar menitipkan anak ke sekolah atau lembaga pendidikan lalu berlepas diri begitu saja serta lepas tanggungjawab. Kewajiban utama tetap ada pada orangtua. Baik terkait biaya pendidikan, perkembangan anak dan yang lainnya. Orangtua harus bisa bersinergi dan bekerjasama dengan pihak sekolah atau lembaga yang ia titipkan anaknya disana. Karena hal ini akan mendatangkan keberkahan bagi si anak.

Potret kerjasama antara orangtua dan pendidik sudah ada sejak zaman Salafush Shalih. Disana ada Abdul Aziz yang menitipkan puteranya kepada seorang ulama yang bernama Shalih bin Kaisan.

Shalih bin Kaisan mendidik Umar (putera Abdul Aziz) dengan sangat baik. Sampai suatu ketika, Umar mulai beranjak dewasa. Kemudian didapati Umar terlambat hadir shalat berjama’ah. Sehingga hal ini kemudian dilaporkan oleh Shalih bin Kaisan kepada Abdul Aziz, ayah Umar.

Abdul Aziz berkata, “apa yang membuat puteraku terlambat hadir shalat berjama’ah?!”

Shalih bin Kaisan menjawab, “puteramu ahir-ahir ini sangat memperhatikan penampilannya, ia lama menyisir rambutnya.”

Mengetahui hal itu, Abdul Aziz langsung mengirim tukang cukur untuk mencukur habis rambut Umar.

Masyaallaah…

Inilah potret kerjasama antara orangtua dan pendidik yang di kemudian hari membawa berkah yang dahsyat. Umar menjadi Khalifah yang dikenal dengan keadilannya. Yang pada masanya tidak ada orang fakir dan orang miskin yang menerima zakat atau sedekah. Karena semua rakyat terpenuhi dan tercukupi. Dialah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah.

 

Kemudian terakhir.

Sebagai orangtua, maka janganlah sungkan untuk terus mendoakan kebaikan untuk anak. Bahkan ungkapkanlah perasaan cinta di hadapan mereka, kemudian berdoa kepada Allah agar Allah pun mencintai mereka. Sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapan cucunya,

اللَّهُمَّ إنِّي أُحِبُّهُ، فأحِبَّهُ وَأَحْبِبْ مَن يُحِبُّهُ

“Ya Allah sungguh aku mencintainya, maka cintailah ia. Dan cintai pula orang-orang yang mencintainya.” (HR. Bukhari)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah mendoakan seorang anak muda yang kala itu datang kepada Rasulullah meminta izin untuk berzina. Seorang anak muda yang sedang dikuasai nafsu, namun tidak memiliki biaya untuk menikah. Rasulullah memegang dadanya lalu berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَه

“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.” (HR. Ahmad)

Seketika anak muda tersebut tersadar dan tidak ingin mendekati zina sama sekali.

Dan yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan Abdullah bin Abbas radiyallahu ‘anhuma,

اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah, pahamkanlah dia terhadap agama dan ajarkanlah (ilmu) tafsir kepadanya.” (HR. Ahmad)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali mendoakan anak-anak itu langsung di hadapan mereka. Karena secara tidak langsung melalui doa yang dipanjatkan, beliau menghembuskan harapan untuk anak-anak agar mereka termotivasi dan bersemangat menjadi seperti apa yang didoakan untuk mereka.

Ahirnya, semoga kita bisa menjadi orangtua yang shalih untuk anak-anak kita, dan anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih/ah untuk kita. Semoga Allah berikan taufiqNya kepada kita semua.

Nak, ayo menjadi shalih bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *